
Zakharia 12 part 2 tentang “The secret of how God defeated all enemies – Allah mengalahkan semua musuh – ” seri Nabi Kecil
By Febrian 22 Juni 2026 04:19 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam khotbah sebelumnya kita membahas mengenai Gembala Agung yang mempersatukan bangsa yang terpecah, sedangkan kali ini kita akan membahas mengenai janji Allah mengalahkan semua musuh.
Zakharia 12 <– Klik di sini untuk membaca ayat
12:1 Ucapan ilahi. Firman TUHAN tentang Israel: Demikianlah firman TUHAN yang membentangkan langit dan yang meletakkan dasar bumi dan yang menciptakan roh dalam diri manusia:
12:2 “Sesungguhnya Aku membuat Yerusalem menjadi pasu yang menyebabkan segala bangsa di sekeliling menjadi pening; juga Yehuda akan mengalami kesusahan ketika Yerusalem dikepung. 12:3 Maka pada waktu itu Aku akan membuat Yerusalem menjadi batu untuk diangkat bagi segala bangsa. Siapa yang mengangkatnya pastilah mendapat luka parah. Segala bangsa di bumi akan berkumpul melawannya.
12:4 Pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, Aku akan membuat segala kuda menjadi bingung, penunggangnya menjadi gila. Atas kaum Yehuda, Aku akan membuka mata-Ku, tetapi segala kuda bangsa akan Kubuat menjadi buta. 12:5 Sesudah itu kaum-kaum di Yehuda akan berkata dalam hatinya: Penduduk Yerusalem mempunyai kekuatan oleh karena TUHAN semesta alam, Allah mereka.
12:6 Pada waktu itu Aku akan membuat kaum-kaum di Yehuda seperti anglo berapi di tengah-tengah timbunan kayu dan seperti suluh berapi di tengah-tengah timbunan bulir gandum; api keduanya akan menjilat ke kanan dan ke kiri segala bangsa di sekeliling, tetapi Yerusalem selanjutnya akan tetap tinggal di tempatnya yang dahulu. 12:7 TUHAN akan pertama-tama memberi kemenangan kepada kemah-kemah Yehuda, supaya keluarga Daud dan penduduk Yerusalem jangan terlalu bermegah-megah terhadap Yehuda.
12:8 Pada waktu itu TUHAN akan melindungi penduduk Yerusalem, dan orang yang tersandung di antara mereka pada waktu itu akan menjadi seperti Daud, dan keluarga Daud akan menjadi seperti Allah, seperti Malaikat TUHAN, yang mengepalai mereka. 12:9 Maka pada waktu itu Aku berikhtiar untuk memunahkan segala bangsa yang menyerang Yerusalem.”
Ratapan atas dia yang tertikam
12:10 “Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung.
12:11 Pada waktu itu ratapan di Yerusalem akan sama besarnya dengan ratapan atas Hadad-Rimon di lembah Megido. 12:12 Negeri itu akan meratap, setiap kaum keluarga tersendiri; kaum keluarga keturunan Daud tersendiri dan isteri mereka tersendiri; kaum keluarga keturunan Natan tersendiri dan isteri mereka tersendiri; 12:13 kaum keluarga keturunan Lewi tersendiri dan isteri mereka tersendiri; kaum keluarga Simei tersendiri dan isteri mereka tersendiri; 12:14 juga segala kaum keluarga yang masih tinggal, setiap kaum keluarga tersendiri dan isteri mereka tersendiri.”
Dari ayat-ayat bacaan di atas, kita dapat membagi pesan Allah tersebut menjadi beberapa bagian pelajaran sebagai berikut:
Part 2: Hanya TUHAN, Allah lah yang sanggup mengalahkan semua musuh
Zakharia 12:6-9
6 Pada waktu itu Aku akan membuat kaum-kaum di Yehuda seperti anglo berapi di tengah-tengah timbunan kayu dan seperti suluh berapi di tengah-tengah timbunan bulir gandum; api keduanya akan menjilat ke kanan dan ke kiri segala bangsa di sekeliling, tetapi Yerusalem selanjutnya akan tetap tinggal di tempatnya yang dahulu.
TUHAN akan pertama-tama memberi kemenangan kepada kemah-kemah Yehuda, supaya keluarga Daud dan penduduk Yerusalem jangan terlalu bermegah-megah terhadap Yehuda. Pada waktu itu TUHAN akan melindungi penduduk Yerusalem, dan orang yang tersandung di antara mereka pada waktu itu akan menjadi seperti Daud, dan keluarga Daud akan menjadi seperti Allah, seperti Malaikat TUHAN, yang mengepalai mereka. 9 Maka pada waktu itu Aku berikhtiar untuk memunahkan segala bangsa yang menyerang Yerusalem.”
Ketika kita sampai pada Zakharia 12:6-9, kita sebenarnya masih berada dalam satu rangkaian pemikiran yang sama dengan ayat 1-5. Sebelumnya Nabi Zakharia telah menunjukkan suatu gambaran yang sangat mengejutkan. Yerusalem akan menjadi pusat perhatian bangsa-bangsa. Kota itu akan dikepung, ditekan, dan menjadi sasaran kekuatan-kekuatan yang datang dari berbagai arah. Namun di tengah ancaman tersebut TUHAN berfirman bahwa bangsa-bangsa yang berusaha mengalahkan Yerusalem justru akan melukai diri mereka sendiri. TUHAN juga berjanji akan membuat kuda-kuda musuh menjadi panik dan para penunggangnya menjadi bingung. Dengan kata lain, sejak awal pasal ini TUHAN sudah sedang membangun satu pesan penting: keselamatan umat-Nya tidak bergantung pada kekuatan mereka sendiri, melainkan pada tindakan TUHAN yang berdaulat mengalahkan semua musuh.
Di dalam Zakharia 12:6-9 ada pesan Allah yang lebih dalam lagi, di mana jika pada ayat-ayat sebelumnya dibahas mengenai kebingungan musuh-musuh Yerusalem, sekarang Allah berbicara mengenai perubahan yang akan terjadi pada Yehuda dan Yerusalem sendiri. Perhatian kita tidak lagi hanya tertuju kepada apa yang terjadi pada bangsa-bangsa lain, tetapi kepada apa yang TUHAN kerjakan di tengah umat-Nya sendiri dan mengalahkan musuh-musuh-Nya.
Firman Tuhan berkata, “Pada waktu itu Aku akan membuat kaum-kaum di Yehuda seperti anglo berapi di tengah-tengah timbunan kayu dan seperti suluh berapi di tengah-tengah timbunan bulir gandum.” Ini bermakna bagi masyarakat agraris pada zamannya, di mana alat masak berupa Anglo berapi diletakkan di tengah kayu kering yang akan akan segera membakar seluruh tumpukan kayu itu. Juga digambarkan bagai suluh atau obor yang menyala di tengah bulir gandum yang kering akan dengan cepat membakar bulir gandum yang ditimbun.
Perumpamaan ini tentang kuasa api yang bekerja membakar, di mana Kaum-kaum di Yehuda digambarkan bagi anglo berapi yang membakar sekelilingnya. TUHAN akan membuat Yehuda menjadi seperti api yang membakar dalam artian mengalahkan semua musuhnya, namun fokus nubuat ini bukan pada kehebatan Yehuda, melainkan pada tindakan TUHAN yang mengubah keadaan kaum-kaum Yehuda.
Perlu kita ingat sejenak bahwa secara sejarah, Yehuda bukanlah bangsa dengan kekuatan besar yang dengan mudah bisa mengalahkan musuh-musuhnya. Di masa nabi Zakharia melayani itu, bangsa Yehuda baru kembali dari pembuangan Babel dan dalam keadaan yang lemah. Mereka bukan kerajaan yang sedang berjaya. Mereka bukan pusat kekuatan dunia. Mereka hidup di bawah kekuasaan kerajaan besar yang silih berganti menguasai kawasan Timur Dekat. Secara politik musuh mereka sudah mutlak mengalahkan sehingga terpojok dalam posisi lemah. Secara ekonomi mereka juga terbatas. Secara militer musuh sangat mudah mengalahkan mereka. Namun, justru karena itulah gambaran yang diberikan TUHAN menjadi begitu luar biasa, di mana pada umumnya kemenangan berasal dari besarnya jumlah pasukan, kekayaan, penduduk, atau hebatnya teknologi dan kekuatan persenjataan.

TUHAN hendak menunjukkan bahwa karya-Nya sama sekali tidak ada hubungannya dengan ukuran-ukuran yang berlaku bagi manusia. Ingatlah di zaman Hakim-Hakim, TUHAN memakai Gideon mengalahkan ribuan musuh, hanya dengan tiga ratus orang. Pada masa Raja Saul dan Raja Daud, TUHAN juga memperlihatkan bahwa mengalahkan musuh tidak selalu berada karena memiliki perlengkapan perang terbaik. Dalam sejarah Israel, sudah berulang kali kemenangan mengalahkan musuh bukan ditentukan dari besarnya kekuatan fisik dan militer umat Allah, melainkan terletak pada perkenanan Allah.
Demikianlah maka ayat ini bukanlah berisi gambaran kehebatan kemampuan umat Allah, melainkan menceritakan bahwa kuasa Allah bekerja memberi kemenangan melalui umat yang tampaknya kecil, lemah dan tidak berdaya sekalipun. Prinsip ini tidak hanya berlaku bagi Yehuda pada zaman Nabi Zakharia.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali umat Tuhan merasa dirinya tidak cukup kuat untuk menghadapi berbagai persoalan. Ada yang menghadapi masalah ekonomi. Ada yang menghadapi penyakit. Ada yang menghadapi konflik keluarga. Ada yang menghadapi masa depan yang tidak pasti. Ada yang sedang memasuki masa pensiun dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi sesudahnya. Ada pula yang merasa dirinya terlalu kecil untuk menghasilkan sesuatu yang berarti.
Firman Tuhan kali ini mengingatkan kita, bahwa penentu utama kemenangan dan keberhasilan seseorang, bukanlah berapa besar atau hebatnya kemampuan, melainkan apa yang dapat TUHAN lakukan melalui dirinya. Sepotong kayu biasa tidak menakutkan, tetapi kayu yang disentuh api menjadi sesuatu yang sangat berbeda. Demikian pula kehidupan sederhana seseorang yang berada dalam tangan TUHAN, dapat mengerjakan hal-hal yang jauh melampaui kemampuan alaminya.
Dalam Zakharia 12:7 “TUHAN akan pertama-tama memberi kemenangan kepada kemah-kemah Yehuda, supaya keluarga Daud dan penduduk Yerusalem jangan terlalu bermegah-megah terhadap Yehuda.” nabi Zakharia memberikan penjelasan yang sangat menarik. TUHAN berfirman bahwa Ia akan terlebih dahulu memberi kemenangan kepada kemah-kemah Yehuda supaya keluarga Daud dan penduduk Yerusalem jangan terlalu bermegah-megah terhadap Yehuda.
Di sini kita melihat sesuatu yang indah mengenai hati Allah. Ketika TUHAN memberkati umat-Nya, Ia juga menjaga mereka dari kesombongan. Saat TUHAN mengizinkan mereka mengalahkan musuh, tetaplah Ia tidak menghendaki satu kelompok merasa lebih hebat daripada kelompok yang lain.
Kita perlu mengingat bahwa dalam kehidupan bangsa Israel terdapat berbagai lapisan masyarakat. Yerusalem memiliki kedudukan yang istimewa sebagai pusat pemerintahan dan pusat ibadah. Keluarga Daud memiliki kedudukan yang istimewa karena terkait dengan takhta kerajaan yang dijanjikan Allah. Namun TUHAN dengan sengaja mengatakan bahwa Ia akan terlebih dahulu memberi kemenangan kepada kemah-kemah Yehuda untuk mengalahkan musuh.
Kata “kemah-kemah Yehuda” mengingatkan kita kepada masyarakat biasa yang tinggal di luar pusat kota. Mereka bukan kelompok elit. Mereka bukan pusat perhatian. Mereka bukan pemegang kekuasaan utama.
Mengapa bagian masyarakat itu yang Tuhan perhatikan? Itu karena Allah tidak berkenan kepada kesombongan. Di sepanjang sejarah Alkitab, kita melihat pola yang sama. TUHAN sering kali mengangkat derajat mereka yang dianggap kecil supaya tidak ada seorang pun yang dapat memegahkan diri di hadapan-Nya. Karena ketika seorang manusia mulai berpikir bahwa ia berhasil mengalahkan musuh karena kehebatan dirinya sendiri, di saat itulah juga ia sesungguhnya sedang bergerak menuju bahaya rohani yang mencelakakan dirinya sendiri.
Salah satu pelajaran terbesar yang dapat dipetik dari ayat ini adalah bahwa kesatuan umat Tuhan lebih penting daripada persaingan di antara umat Tuhan, apalagi saling mengalahkan satu sama lainnya. TUHAN tidak sedang membangun satu kelompok untuk mengalahkan kelompok lainnya. TUHAN sedang membangun seluruh umat-Nya.
Dalam kehidupan gereja modern, godaan yang mudah mengalahkan umat Tuhan juga ada. Kesombongan dan tinggi hati selalu ada. Ada gereja besar dan gereja kecil. Ada pendeta yang terkenal dan ada yang melayani di tempat terpencil. Ada orang yang memiliki pendidikan tinggi dan ada yang sederhana. Ada yang memiliki sumber daya melimpah dan ada yang hidup pas-pasan. Namun di hadapan Allah, semua orang berdiri di bawah kasih karunia yang sama. Karena itu kehebatan yang diberikan Allah tidak boleh menjadi alasan untuk meninggikan diri atau mengalahkan pihak yang lain. Semakin besar berkat yang diterima, semakin besar alasan untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Kemudian kita lanjutkan pembahasan kita, hingga pada ayat yang sering menimbulkan banyak pertanyaan, yaitu ayat 8. Firman Tuhan, “Pada waktu itu TUHAN akan melindungi penduduk Yerusalem, dan orang yang tersandung di antara mereka pada waktu itu akan menjadi seperti Daud, dan keluarga Daud akan menjadi seperti Allah, seperti Malaikat TUHAN, yang mengepalai mereka.”
Bagian pertama relatif mudah dipahami. Orang yang tersandung akan menjadi seperti Daud. Dalam sejarah Israel, Raja Daud dikenang sebagai seorang pemimpin yang berani, tangguh, dan berhasil memimpin umat Allah menghadapi berbagai ancaman dalam mengalahkan musuh-musuhnya. Jadi gambaran yang diberikan adalah bahwa bahkan orang yang paling lemah sekalipun akan menerima kekuatan yang luar biasa karena pertolongan TUHAN.
Tetapi bagaimana dengan pernyataan bahwa keluarga Daud akan menjadi seperti Allah, seperti Malaikat TUHAN?
Bagian ini perlu kita renungkan secara khusus, dengan pandangan awal bahwa ini tidak mengajarkan bahwa keluarga Daud berubah menjadi Allah, namun yang nubuatkan nabi Zakharia di sini adalah kuasa dan otoritas yang berasal dari Allah. Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat mengapa keluarga Daud disebut secara khusus. Di sepanjang Perjanjian Lama, keluarga Daud memiliki hubungan yang unik terhadap janji Allah. Dalam 2 Samuel 7, TUHAN berjanji bahwa keturunan Daud akan memiliki tempat yang khusus dalam rencana-Nya. Karena itu ketika Nabi Zakharia menyebut keluarga Daud, fokusnya bukan pada kehebatan pribadi keluarga tersebut, melainkan pada kesetiaan Allah terhadap janji-Nya.
Dr. Joyce G. Baldwin dalam “Haggai, Zechariah, Malachi: An Introduction and Commentary” (Inter-Varsity Press, 1972) menjelaskan bahwa dirinya tidak melihat ayat ini sebagai gambaran kultus individu yang menjadikan Daud sebagai makhluk Illahi, melainkan gambaran kuasa Allah yang bekerja melalui pemimpin yang telah dipilih-Nya.
Pandangan yang serupa juga ditemukan pada tulisan Dr. Mark J. Boda, Professor of Old Testament, McMaster Divinity College, dalam “The Book of Zechariah” (New International Commentary on the Old Testament, Eerdmans, 2016). Beliau menjelaskan bahwa fokus dari ayat ini terletak pada perlindungan dan penguatan ilahi yang membuat pemimpin umat mampu menjalankan perannya di bawah otoritas Allah.
Sekarang kita soroti penyebutan “Malaikat TUHAN” dalam ayat di atas, dengan membuka lagi berbagai bagian Perjanjian Lama, yaitu gambaran Malaikat TUHAN yang tampil sebagai wakil Allah yang memimpin, melindungi, dan menyatakan kehadiran-Nya kepada umat-Nya. Oleh karena itu, ketika Nabi Zakharia memakai ungkapan ini, ia sedang menggambarkan bahwa perlindungan dan penyertaan Allah sangat luar biasa dalam seseorang, bukan menceritakan tentang perubahan hakikat Daud dari manusia menjadi makhluk ilahi.
Jika kita melihat keseluruhan ayat 8 itu, sebetulnya pusat perhatiannya bukan pada keluarga Daud, melainkan pada tindakan TUHAN yang melindungi Yerusalem dan mengalahkan semua musuh mereka. Pernyataan firman yang sangat penting itu adalah: “Pada waktu itu TUHAN akan melindungi penduduk Yerusalem”. Itulah kuncinya: Orang yang lemah menjadi kuat karena TUHAN melindungi dan mengalahkan semua musuh mereka. Keluarga Daud memperoleh otoritas karena TUHAN melindungi, sementara Yerusalem tetap berdiri karena TUHAN melindungi. Jadi semuanya berpulang kembali kepada tindakan Allah.
Jadi jelas di sini, bahwa manusia lebih tertarik membahas siapa yang menerima berkat daripada membahas Pribadi yang memberikan berkat itu. Sementara, firman Tuhan yang disampaikan oleh nabi Zakharia ini, mengajak kita memandang lebih dalam lagi, yaitu di balik seluruh perubahan yang terjadi, ada tangan TUHAN yang sedang bekerja melaksanakan segala rancangan-Nya.

Akhirnya kita sampai pada Zakharia 12:9. TUHAN berfirman, “Maka pada waktu itu Aku berikhtiar untuk memunahkan segala bangsa yang menyerang Yerusalem.” Pernyataan ini bukan sekadar berita tentang penghukuman, melainkan penyataan kesetiaan Allah dalam mengalahkan semua musuh-Nya.
Seperti kita ingat, di sepanjang sejarah bangsa Israel, Allah terkadang mengizinkan umat-Nya menjalani tindakan disiplin. Ketika bangsa Israel memberontak, Allah menghukum mereka untuk merasakan akibat dari ketidaktaatan mereka. Akah tetapi di sisi lain, Allah juga mengingatkan bahwa disiplin yang diberikan-Nya itu, tidak pernah berarti berakhir pada pembatalan janji-Nya untuk mengalahkan musuh-musuh mereka.
Inilah yang membedakan disiplin Allah dari penolakan Allah. Allah mendidik umat-Nya karena Ia mengasihi mereka. Tetapi anehnya, bangsa-bangsa yang dipakai sebagai alat dalam proses pendisiplinan itu, malah melampaui batas Allah. Mereka sombong, angkuh, bahkan bertindak kejam, dan keji. Mereka menganggap kemenangan mereka mengalahkan musuh, berasal dari kekuatan mereka sendiri. Ini gambaran bahwa sesungguhnya mereka itu bodoh, karena tidak takut dan tidak hormat kepada Allah, yang membawa mereka pada kehancuran diri sendiri.
Hingga ketika Kairos (waktu/timing) Allah tiba, hukuman terhadap mereka terpaksa dilaksanakan. Di sinilah dapat kita saksikan keadilan Allah sebagi keseimbangan indah dalam karakter-Nya. Allah tetap setia kepada janji-Nya, namun di sisi lain tetap adil dan konsisten dalam penghakiman-Nya. Allah panjang sabar, tetapi bukan berarti Ia membiarkan kejahatan berlangsung selamanya. Allah mengasihi umat-Nya, tetapi juga memegang kendali atas sejarah seluruh bangsa.
Bagi orang percaya masa kini, ayat ini memberikan penghiburan yang besar. Dunia sering kali berjalan terlihat tidak adil. Kejahatan dan kelaliman terlihat menang terus, sementara orang benar menderita. Orang-orang yang sombong dan congkak hidup kaya raya dan sangat berhasil, sementara orang miskin semakin ditindas. Di sinilah nabi Zakharia menyampaikan penguatan Allah pada kita, bahwa dalam segala kondisi yang terlihat tidak adil itu, sesungguhnya Allah tidak pernah kehilangan kendali atas sejarah. Tidak ada satu bangsa pun yang berada di luar pengawasan-Nya. Bahkan, tidak ada satu penguasa pun yang lebih besar kuasanya daripada Allah.
Tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi tanpa sepengetahuan-Nya. Oleh karena itu pengharapan umat Tuhan tidak boleh dibangun di atas kekuatannya sendiri, atau koneksi atau mungkin berharap pada perubahan politik, kondisi ekonomi, atau stabilitas dunia. Pengharapan umat Tuhan harus dibangun di atas iman terhadap Allah yang setia pada janji-Nya.
Zakharia 12:6-9 mengajar kita untuk sadar bahwa ketika Allah bertindak, yang lemah dapat menjadi kuat, yang kecil dapat dipakai secara luar biasa, yang sombong dengan mudah dapat direndahkan-Nya. Orang-orang percaya yang setia akan tetap dipelihara, sementara musuh-musuh Allah yang menentang rencana-Nya, pasti akan gagal.
Di balik seluruh gambaran tentang api, kemenangan, perlindungan, keluarga Daud, dan penghukuman atas bangsa-bangsa, ada satu pesan besar yang terus bergema: sejarah bukan digerakkan oleh kekuatan manusia, melainkan oleh tangan TUHAN yang setia kepada janji-Nya. Dan karena Ia setia pada zaman Nabi Zakharia, umat-Nya pada masa kini juga memiliki alasan yang kokoh untuk tetap percaya kepada-Nya.
Demikianlah firman Tuhan ini disampaikan. Semoga Allah dalam Roh Kudus-Nya memberi kita hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan ini. Tuhan Yesus memberkati.
“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
2 Korintus 12:9
Amin.
