Zakharia 11 Part 3 tentang “Gembala Agung yang mempersatukan bangsa yang terpecah” seri Nabi Besar

By Febrian 17 Juni 2026 03:44 AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Kitab Zakharia pasal 9-14 berisi rangkaian tema firman Tuhan tentang nubuat kedatangan Mesias, yaitu Tuhan Yesus Kristus ke dalam dunia. Edisi khotbah kali ini adalah lanjutan firman Tuhan dari Zakharia 11 (Part 3). Kali ini kita akan membahas firman tentang Kerajaan dipecah menjadi dua. Kiranya Tuhan memberi kita hikmat dan pengertian untuk dapat memahami firman-Nya tersebut. Tuhan Yesus memberkati.

Kitab nabi Zakharia pasal 9 s/d 14 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat

Gembala Agung yang mempersatukan bangsa yang terpecah

Zakharia 11 <– Klik untuk membaca seluruh pasal

Dalam renungan khotbah kali ini, ada beberapa pokok pikiran:

1. Ikatan persaudaraan Yehuda dan Israel diputus

Zakharia 11:14

11:14 Kemudian aku mematahkan tongkat yang kedua, yaitu “Ikatan”, untuk meniadakan persaudaraan antara Yehuda dan Israel. 

Sesuai dengan firman TUHAN kepadanya, nabi Zakharia kemudian mematahkan tongkat ke dua yang bernama “Ikatan”, menjadi dua bagian. Hal ini menggambarkan pemutusan ikatan persaudaraan antara Yehuda dan Israel. Jika kita lihat sejarah Alkitab, sesungguhnya ini sudah berlangsung sejak zaman Raja Salomo yang mengkhianati Allah (1 Raja-raja 11:11-13). Mari sejenak kita review sejenak kisah sejarah tersebut.

Setelah Raja Salomo jatuh ke dalam penyembahan berhala karena pengaruh istri-istrinya, TUHAN menjatuhkan hukuman atas Salomo, yaitu kerajaan Israel akan dikoyakkan dan diberikan kepada hambanya. Namun demi janji TUHAN kepada Raja Daud, hal itu tidak terjadi pada masa hidup Raja Salomo, melainkan pada masa putranya.

Kemudian TUHAN mengutus Nabi Ahia kepada Yerobeam. Nabi Ahia mengambil jubah baru, mengoyakkannya menjadi dua belas bagian, lalu menyuruh Yerobeam mengambil sepuluh bagian. Melalui tindakan simbolis itu TUHAN menyatakan bahwa sepuluh suku akan diberikan kepada Yerobeam, sedangkan satu suku akan tetap berada di bawah keturunan Daud (1 Raja-raja 11:29-39). Penggenapannya terjadi setelah Raja Salomo meninggal.

Peristiwanya dimulai ketika Raja Salomo tidak lagi setia kepada TUHAN. Pada masa tuanya, ia mengikuti ilah-ilah asing yang dibawa oleh istri-istrinya dan membangun tempat-tempat penyembahan bagi mereka. Karena itu TUHAN berfirman bahwa kerajaan akan diambil dari tangan Salomo. Namun TUHAN juga mengatakan bahwa hal itu tidak akan terjadi selama Salomo masih hidup. Demi janji-Nya kepada Raja Daud, hukuman itu baru akan terjadi pada masa pemerintahan anak Salomo.

Ketika TUHAN berkata kepada Salomo bahwa kerajaan akan diberikan kepada “hambanya”, nama orang tersebut belum disebutkan. Beberapa ayat kemudian, penulis kitab memperkenalkan Yerobeam bin Nebat. Ia bukan anak Salomo, melainkan seorang pegawai atau pejabat yang bekerja di bawah pemerintahan Salomo. Yerobeam berasal dari suku Efraim dan dikenal sebagai orang yang rajin serta cakap bekerja. Karena kemampuannya itu, Salomo mengangkatnya menjadi pengawas atas para pekerja dari keturunan Yusuf.

Kemudian Nabi Ahia dari Silo bertemu dengan Yerobeam. Dalam peristiwa itu, Nabi Ahia mengenakan jubah baru lalu mengoyakkannya menjadi dua belas bagian. Setelah itu ia menyuruh Yerobeam mengambil sepuluh bagian. Melalui tindakan tersebut TUHAN menyampaikan pesan bahwa sepuluh suku Israel akan diberikan kepada Yerobeam. Dengan demikian, Alkitab sendiri menjelaskan bahwa hamba yang dimaksud dalam firman TUHAN kepada Salomo adalah Yerobeam.

Namun TUHAN tidak memberikan seluruh kerajaan kepada Yerobeam. TUHAN tetap menyisakan sebagian kerajaan bagi keturunan Raja Daud. Karena itu setelah Salomo meninggal dan anaknya, Raja Rehabeam, naik takhta, terjadilah pemberontakan dari suku-suku utara. Mereka menolak kepemimpinan Rehabeam dan mengangkat Yerobeam sebagai raja mereka. Sejak saat itu kerajaan Israel terpecah menjadi dua. Kerajaan Utara dipimpin oleh Yerobeam, sedangkan Kerajaan Selatan tetap dipimpin oleh Rehabeam, anak Salomo.

Jadi penggenapan nubuat itu sangat jelas dalam alur cerita Alkitab. TUHAN terlebih dahulu memberitahukan kepada Salomo bahwa kerajaan akan diberikan kepada hambanya. Kemudian TUHAN menyatakan melalui Nabi Ahia bahwa orang tersebut adalah Yerobeam. Setelah Salomo meninggal, peristiwa sejarah yang terjadi benar-benar sesuai dengan firman itu. Sebagian besar kerajaan beralih kepada Yerobeam, sedangkan keturunan Daud tetap memerintah di Yehuda. Dengan cara itulah nubuat dalam 1 Raja-raja 11 digenapi.

Bagi kita mungkin ada beberapa pesan Allah yang dapat kita simpan dan jalankan:

  1. Dosa seseorang dapat merusak seluruh keluarga: Dari sini kita belajar bahwa dosa jarang berhenti pada pelakunya sendiri. Dosa dapat merusak keluarga, persekutuan, gereja, bahkan hubungan antar saudara. Banyak orang ingin menikmati dosa secara pribadi tetapi tidak menyadari bahwa akibatnya sering kali menjalar kepada orang lain. Salomo mungkin tidak pernah membayangkan bahwa komprominya terhadap penyembahan berhala akan berujung pada pecahnya kerajaan yang telah dipersatukan oleh ayahnya, Raja Daud. Namun itulah yang terjadi.
  2. Persatuan sejati hanya dapat dipelihara selama manusia hidup dalam ketaatan kepada Allah: Banyak orang menganggap bahwa ancaman terbesar bagi persatuan adalah perbedaan pendapat, perbedaan suku, atau perbedaan kepentingan. Namun Alkitab menunjukkan bahwa akar terdalam dari perpecahan adalah menjauhnya manusia dari Tuhan. Ketika hati tidak lagi tunduk kepada Allah, hubungan antarmanusia lambat laun juga akan rusak. Hubungan vertikal dengan Allah selalu memengaruhi hubungan horizontal dengan sesama.
  3. Jangan mencobai Tuhan Allah: Allah sangat sabar, tetapi kesabaran-Nya tidak boleh disalahartikan sebagai persetujuan. Dari zaman Raja Salomo hingga zaman Nabi Zakharia terdapat jarak ratusan tahun. Selama waktu yang panjang itu Allah terus mengutus nabi-nabi, memberikan peringatan, menegur, dan mengajak bangsa itu bertobat. Namun ketika mereka tetap menolak, akhirnya hukuman yang telah dinubuatkan benar-benar dinyatakan secara penuh. Ini mengingatkan kita bahwa penundaan hukuman bukan berarti Allah membatalkan hukuman. Kesabaran Allah adalah kesempatan untuk bertobat.
  4. Hormatilah orang yang diutus Allah: Pesan keempat terlihat pada Zakharia 11:15-17. Setelah bangsa itu menolak gembala yang baik, Allah mengizinkan mereka berada di bawah gembala yang pandir dan jahat. Ini adalah prinsip yang sering muncul dalam Alkitab. Ketika manusia terus-menerus menolak pimpinan Allah, pada akhirnya mereka akan merasakan akibat dari pilihan mereka sendiri. Bangsa yang menolak gembala yang setia akhirnya dipimpin oleh gembala yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Dalam kehidupan modern, ini mengingatkan kita agar tidak meremehkan anugerah pemimpin yang takut akan Tuhan, baik dalam keluarga, gereja, maupun masyarakat.
  5. Allah tidak melpakan umat yang dihukum-Nya: Sekalipun menghukum, Allah tetap membela domba-domba-Nya. Meskipun gembala yang pandir sempat berkuasa, bagian akhir nubuat ini menunjukkan bahwa Allah akan menghakimi gembala tersebut. Lengannya akan menjadi kering dan matanya menjadi pudar. Artinya, kekuatan dan kemampuannya akan dihancurkan oleh Allah sendiri. Ini memberikan penghiburan bagi umat Tuhan. Kadang-kadang orang benar harus hidup di bawah pemimpin yang tidak adil atau menghadapi orang-orang yang menyalahgunakan kekuasaan. Namun Allah melihat semuanya dan pada waktunya akan bertindak, karena sesungguhnya bangsa Israel adalah umat kesayangan Allah. Kita adalah Israel rohani yang ditebus Allah sendiri dalam Tuhan Yesus Kristus. Percayalah Allah akan menolong dan melindungi kita pada waktunya.

Bagi pembaca masa kini, ada satu pelajaran yang sangat penting: jagalah kesetiaan kepada Tuhan dalam hal-hal yang tampak kecil. Perpecahan kerajaan Israel tidak dimulai pada masa Raja Rehabeam. Perpecahan itu dimulai jauh sebelumnya, ketika Raja Salomo mulai berkompromi dengan dosa. Banyak keruntuhan besar dalam hidup seseorang juga dimulai dari kompromi-kompromi kecil yang dianggap tidak berbahaya. Karena itu, menjaga hati tetap setia kepada Tuhan hari ini jauh lebih penting daripada mencoba memperbaiki kehancuran yang mungkin muncul bertahun-tahun kemudian.

Ini salah satu pelajaran yang sangat penting dalam kehidupan rohani. Banyak orang tidak jatuh dalam dosa besar secara mendadak. Hampir selalu ada proses yang panjang sebelumnya. Dosa besar sering kali bertumbuh dari dosa-dosa kecil yang dianggap sepele, ditoleransi, dan dipelihara selama bertahun-tahun.

Berikut beberapa contoh hal kecil yang tidak diselesaikan, maka dapat menjadi benih kejahatan besar:

Salah satu contohnya adalah ketidakjujuran kecil. Seseorang mungkin mulai dengan melebih-lebihkan cerita agar terlihat lebih baik di hadapan orang lain. Ia berpikir, “Ini hanya sedikit tambahan cerita.” Namun lama-kelamaan ia terbiasa memanipulasi fakta. Pada akhirnya ia bisa terjerumus ke dalam kebohongan besar, penipuan, atau hidup dengan topeng yang berbeda di depan setiap orang. Dosa besar itu tidak muncul dalam satu hari. Benihnya adalah ketidakjujuran kecil yang tidak pernah dibereskan.

Contoh lain adalah kepahitan yang dipelihara. Awalnya hanya berupa rasa tersinggung karena perkataan seseorang. Karena merasa itu hal kecil, ia tidak segera mengampuni. Ia terus mengingat kejadian itu, membicarakannya kepada orang lain, dan menyimpannya di dalam hati. Bertahun-tahun kemudian, kepahitan itu berubah menjadi kebencian, permusuhan, atau bahkan keinginan membalas dendam. Pohon yang besar itu tumbuh dari benih kecil yang tidak dicabut sejak awal.

Ada juga dosa kesombongan yang sangat halus. Misalnya seseorang mulai menikmati pujian dan merasa dirinya sedikit lebih baik daripada orang lain. Ia tidak mengucapkannya secara terbuka sehingga tampak tidak berbahaya. Namun jika terus dipelihara, kesombongan itu bisa berkembang menjadi sikap tidak mau ditegur, tidak mau belajar, dan merasa selalu benar. Banyak pemimpin rohani maupun pemimpin dunia jatuh bukan karena kesalahan besar pertama-tama, melainkan karena kesombongan kecil yang terus diberi makan.

Contoh yang sangat relevan dengan kehidupan modern adalah kompromi terhadap pikiran. Seseorang mungkin berkata, “Saya hanya melihat sebentar,” atau “Saya hanya penasaran.” Ia mulai memberi ruang kepada hal-hal yang tidak murni melalui tontonan, bacaan, atau imajinasi. Tidak ada yang langsung melihat akibatnya. Namun pikiran yang terus diberi makanan seperti itu perlahan membentuk keinginan. Apa yang mula-mula hanya rasa ingin tahu dapat berkembang menjadi kecanduan atau tindakan nyata.

Demikian juga dengan kelalaian dalam hubungan dengan Tuhan. Jarang ada orang yang tiba-tiba meninggalkan Tuhan dalam satu hari. Biasanya dimulai dari hal-hal kecil. Hari ini tidak berdoa karena sibuk. Besok tidak membaca firman karena lelah. Minggu depan mulai jarang beribadah. Semuanya tampak kecil dan dapat dibenarkan. Namun setelah bertahun-tahun, hatinya menjadi dingin terhadap Tuhan. Perjalanan menjauh itu dimulai dari langkah-langkah kecil yang hampir tidak terasa.

Raja Salomo adalah contoh yang sangat jelas. Ia tidak langsung menyembah berhala pada awal pemerintahannya. Mula-mula ia mengabaikan perintah Allah tentang perkawinan dengan perempuan-perempuan asing. Itu tampaknya hanya keputusan politik dan diplomasi. Namun dari kompromi kecil itu lahirlah pengaruh yang semakin besar. Pada akhirnya hatinya berpaling dari TUHAN dan seluruh kerajaan terkena akibatnya.

Karena itu, salah satu strategi terbesar Iblis bukan selalu mendorong seseorang melakukan dosa besar hari ini. Sering kali ia hanya membujuk manusia untuk mentoleransi dosa kecil. Manusia berkata, “Ini tidak terlalu serius.” Padahal benih pohon besar selalu berukuran kecil. Tidak ada pohon beringin yang muncul sebesar rumah dalam satu malam. Demikian pula kejatuhan rohani. Biasanya dimulai dari hal-hal yang tampak remeh, yang dibiarkan bertumbuh tanpa pertobatan.

Itulah sebabnya orang percaya perlu peka terhadap dosa-dosa yang sering dianggap “kecil”: sedikit ketidakjujuran, sedikit iri hati, sedikit kesombongan, sedikit kompromi, sedikit kemarahan yang dipelihara, sedikit kemalasan rohani. Manusia cenderung fokus pada buah yang terlihat, sedangkan Tuhan sering kali mengarahkan perhatian kita kepada akar yang tersembunyi. Jika akarnya dibereskan sejak awal, pohon yang beracun tidak akan pernah sempat bertumbuh.


2. Gembala yang pandir (bebal)

Zakharia 11:15-17

11:15 Sesudah itu berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Ambillah sekali lagi perkakas seorang gembala yang pandir! 11:16 Sebab sesungguhnya, Aku akan membangkitkan di negeri ini seorang gembala yang tidak mengindahkan yang lenyap, yang tidak mencari yang hilang, yang tidak menyembuhkan yang luka, yang tidak memelihara yang sehat, melainkan memakan daging dari yang gemuk dan mencabut kuku mereka. 11:17 Celakalah gembala-Ku yang pandir, yang meninggalkan domba-domba! Biarlah pedang menimpa lengannya dan menimpa mata kanannya! Biarlah lengannya kering sekering-keringnya, dan mata kanannya menjadi pudar sepudar-pudarnya!”

Nabi Zakharia dipercaya Allah mengambil perkakas dari seorang gembala yang “pandir“. Menurut KBBI = bodoh; bebal. Dalam konteks murka Allah di atas, gembala yang pandir tersebut tidak memperhatikan domba yang terhilang dan yang terluka. Ia juga tidak memelihara domba yang sehat, melainkan menyembelih domba yang bukan miliknya itu, serta memakan dagingnya. Ia juga menvabut kuku domba-domba itu. Perbuatan ini dikutuk Allah karean meninggalkan, bahkan melakukan kejahatan pada domba-domba tersebut. Hukuman Allah berupa hukuman: lengan dijadikan kering lumpuh dan mata kanannya buram tidak bisa melihat.

Allah sangat memperhatikan bagaimana seseorang menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya. Gembala yang pandir dalam bagian ini bukan sekadar gambaran dari seseorang yang kurang pandai, melainkan orang yang memiliki tanggung jawab tetapi tidak memiliki hati untuk memelihara. Ia membiarkan domba yang hilang tetap hilang, membiarkan yang terluka tetap terluka, dan memanfaatkan domba-domba untuk kepentingannya sendiri. Karena itu Allah menjatuhkan hukuman kepadanya.

Pesan bagi kita pada zaman sekarang adalah bahwa Tuhan tidak hanya menilai hasil pekerjaan seseorang, tetapi juga sikap hati dan kesetiaannya dalam merawat orang-orang yang dipercayakan kepadanya. Seorang suami harus memperhatikan keluarganya, orang tua harus memperhatikan anak-anaknya, pemimpin gereja harus memperhatikan jemaatnya, dan setiap orang yang diberi kepercayaan harus menjalankannya dengan kasih serta tanggung jawab.

Dunia saat ini sering mendorong orang untuk mencari keuntungan pribadi, kedudukan, dan kepentingan diri sendiri. Namun, firman ini menunjukkan bahwa Allah menentang siapapun yang memanfaatkan orang lain demi keuntungan pribadi. Tuhan menghendaki agar kita menjadi pribadi yang peduli kepada mereka yang lemah, yang sedang jatuh, yang terluka, dan yang membutuhkan pertolongan.

Kita juga diingatkan untuk tidak menjadi orang yang acuh tak acuh terhadap penderitaan sesama. Ketika kita melihat seseorang membutuhkan pertolongan, Tuhan ingin kita menunjukkan belas kasihan, bukan mengabaikannya. Pada saat yang sama, firman ini menghibur orang percaya bahwa Allah memperhatikan setiap ketidakadilan yang terjadi akibat dari pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Mungkin untuk sementara waktu mereka terlihat berhasil dan berkuasa, tetapi Allah sendiri akan meminta pertanggungjawaban atas setiap tindakan mereka pada akhirnya kelak.

Melalui firman Tuhan ini, setiap orang percaya dipanggil untuk meneladani Tuhan Yesus, Sang Gembala Agung.  Tuhan Yesus turun ke dalam dunia demi mencari yang hilang, menguatkan yang lemah, menyembuhkan yang terluka, bahkan rela menyerahkan diri-Nya bagi domba-domba-Nya. Dengan hidup sesuai teladan Tuhan Yesus, maka hidup kita bisa menjadi berkat bagi orang lain, serta berkenan bagi Tuhan.

Demikianlah rangakaian firman Tuhan kali ini, kiranya Tuhan memberikan hikmat dan pengetahuan-Nya agar kita dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.

Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.

Mazmur 100:3

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *