Zakharia 10 Part 2 tentang “Gembala penjaga domba Allah” seri Nabi Besar

By Febrian 16 Juni 2026 03:15 AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Kitab Zakharia pasal 9-14 berisi rangkaian tema firman Tuhan tentang nubuat kedatangan Mesias, yaitu Tuhan Yesus Kristus ke dalam dunia. Edisi khotbah kali ini adalah lanjutan firman Tuhan dari Zakharia 10 (Part 1). Kali ini kita akan membahas firman tentang Gembala penjaga domba Allah. Kiranya Tuhan memberi kita hikmat dan pengertian untuk dapat memahami firman-Nya tersebut. Tuhan Yesus memberkati.

Kitab nabi Zakharia pasal 9 s/d 14 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat

Zakharia 11 <– Klik di sini untuk membaca seluruh pasal

Gembala penjaga domba Allah

Zakharia 11:4-17 <– Klik di sini untuk membaca ayat

Dari ayat bacaan di atas, kita ketahui bahwa Allah menyampaikan hal berikut ini:

1. Nabi menjadi gembala

Zakharia 11:5-6

Gembala domba Allah
Gembala domba Allah

Allah memerintahkan nabi Zakharia menjadi seorang gembala yang kemudian akan memisahkan kawanan domba untuk disembelih (ay.4). Kemudian domba itu disembelih oleh tukang jagal, yang tidak akan dianggap bersalah karena membunuh domba-domba itu (karena memang menjagal ternak adalah merupakan tugasnya). Sedangkan orang yang kemudian menjual daging hasil potongan tukang jagal itu merasa beruntung dan memuji TUHAN karena mereka merasa mendapat untung dan bisa jadi tambah kaya dari situ (ay.5.)

Ternyata apa yang diperbuat nabi itu nantinya, sebetulnya perumpamaan dari Allah yang sudah sangat murka akan bangsa Israel yang adalah umat kesayangan milik-Nya yang telah banyak mengencewakan-Nya. Allah akan menyerahkan bangsa itu ke dalam tangan kerajaan-kerajaan besar yang akan menjajah mereka dan yang akan menghancurkan negeri itu. Allah berfirman akan tetap membiarkan umat-Nya dijajah oleh para penguasa itu (ay.6). 

Pesan Allah bagi para pembaca dari Zakharia 11:5-6 sangat serius dan sekaligus sangat relevan untuk kehidupan saat ini. Bagian ini menunjukkan apa yang terjadi ketika manusia terus-menerus menolak Tuhan, sehingga pada akhirnya Tuhan membiarkan mereka mengalami akibat dari pilihan mereka sendiri.

  1. Kesuksesan materi bukan selalu tanda perkenanan Tuhan

    Dalam ayat 5, para penjual domba berkata, “Terpujilah TUHAN! Aku telah menjadi kaya!” Ironisnya, mereka memperoleh keuntungan melalui penderitaan domba-domba yang mereka eksploitasi. Mereka bahkan membawa nama Tuhan untuk membenarkan keserakahan mereka. Ini menjadi peringatan bagi kita agar tidak mengukur berkat Tuhan hanya dari banyaknya uang, jabatan, atau keuntungan yang diperoleh. Seseorang bisa menjadi kaya tetapi hidup jauh dari kehendak Tuhan. Seseorang juga bisa memakai bahasa rohani, tetapi sesungguhnya sedang mengejar kepentingan dirinya sendiri.

    Dalam kehidupan modern, hal ini dapat terlihat ketika seseorang menghalalkan segala cara demi keuntungan. Ada yang mengorbankan kejujuran demi target bisnis, mengorbankan keluarga demi karier, atau memanfaatkan orang lain demi kepentingan pribadi, lalu tetap berkata bahwa Tuhan memberkati usahanya. Nabi Zakharia mengingatkan bahwa Tuhan melihat bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga cara seseorang memperoleh keuntungan tersebut.

  2. Allah menolak kepemimpinan yang kehilangan belas kasihan

    Ayat 5 mengatakan bahwa para gembala tidak mengasihani domba-domba mereka. Mereka hanya melihat domba sebagai alat untuk menghasilkan keuntungan. Padahal seorang gembala seharusnya melindungi dan memelihara.

    Pesan ini berlaku bagi siapa saja yang memiliki tanggung jawab atas orang lain. Seorang ayah harus memelihara keluarganya, bukan hanya menuntut. Seorang pemimpin gereja harus melayani jemaat, bukan memanfaatkan mereka. Seorang atasan harus memperhatikan bawahannya, bukan hanya mengejar hasil kerja mereka. Tuhan tidak menyukai pemimpin yang memperlakukan manusia hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan pribadi.

  3. Penolakan yang terus-menerus terhadap Tuhan akan membawa konsekuensi

    Ayat 6 menjelaskan bahwa Tuhan tidak lagi menaruh belas kasihan kepada penduduk negeri itu dan menyerahkan mereka ke dalam tangan penguasa-penguasa yang akan menghancurkan mereka. Ini bukan berarti Tuhan kehilangan kasih-Nya. Sebaliknya, ini menunjukkan bahwa ada saatnya penghakiman datang setelah berbagai peringatan diabaikan.

    Prinsip ini masih berlaku sampai sekarang. Kadang-kadang hukuman Tuhan bukan berupa petir dari langit atau bencana yang tiba-tiba. Kadang-kadang Tuhan membiarkan seseorang menuai akibat dari pilihannya sendiri. Orang yang terus mengabaikan kebenaran akhirnya terjebak dalam kebohongannya. Orang yang terus memelihara dosa akhirnya diperbudak oleh dosa itu. Orang yang terus menolak nasihat Tuhan akhirnya mengalami akibat dari jalannya sendiri.

  4. Perlindungan Tuhan adalah anugerah yang tidak boleh dianggap biasa

    Bangsa Israel sering menganggap keberadaan mereka aman karena mereka adalah umat pilihan. Namun ketika mereka terus memberontak, Tuhan mencabut perlindungan yang selama ini mereka nikmati. Mereka baru menyadari nilainya ketika perlindungan itu tidak lagi ada.

    Sering kali manusia juga demikian. Ketika kesehatan masih baik, keluarga masih utuh, pekerjaan masih ada, dan keadaan masih aman, semuanya dianggap biasa. Padahal semua itu adalah bagian dari pemeliharaan Tuhan yang sering tidak disadari. Nabi Zakharia mengajak kita untuk menghargai kemurahan Tuhan selagi masih diberikan.

Zakharia 11:5-6 mengajarkan bahwa Tuhan membenci keserakahan yang dibungkus dengan kesalehan, menolak kepemimpinan yang tidak memiliki belas kasihan, dan memperingatkan bahwa penolakan terus-menerus terhadap-Nya akan membawa akibat yang serius.

Di sisi lain, bagian ini mengajak kita untuk hidup dalam pertobatan, menghargai pemeliharaan Tuhan, dan memperlakukan sesama dengan kasih serta tanggung jawab. Sebab selama kemurahan Tuhan masih diberikan, itu adalah kesempatan bagi manusia untuk kembali kepada-Nya sebelum akibat dari pemberontakan harus dituai.


2. Tongkat gembala

Zakharia 11:7-8

Kemudian Nabi Zakharia pergi ke pedagang domba dan menjadi gembala upahan dari domba yang paling menderita di antara semuanya, yaitu domba-domba yang akan disembelih. Untuk menggembalakan itu nabi mengambil dua buah tongkat dan mempekerjakan 3 orang gembala upahan untuk membantunya. Dalam ayat 7 dikatakan, bahwa tongkat pertama diberi nama “Kemurahan” (menggambarkan Allah yang pemurah dan penuh kasih menjaga umat-Nya dengan tongkat gembalaan-Nya) dan tongkat ke dua disebut “Ikatan” (menggambarkan ikatan perjanjian atau Covenant dengan umat-Nya). 

Selama menggembalakan domba, nabi bekerja bersama 3 orang gembala itu dan mempergunakan kedua tongkat tersebut di atas. Akan tetapi, setelah satu bulan berlalu, para gembala upahan nabi Zakharia tidak bekerja dengan baik dan menghabiskan kesabaran nabi, hingga pada akhirnya nabi terpaksa memberhentikan mereka (ay.8).

Pesan Tuhan bagi para pembaca dalam Zakharia 11:7-8 tidak hanya terletak pada kisah seorang nabi yang memegang dua tongkat dan memberhentikan tiga gembala. Di balik tindakan simbolis itu terdapat pelajaran rohani yang sangat dalam tentang bagaimana Tuhan memperlakukan umat-Nya dan bagaimana manusia sering merespons kasih-Nya.

Tongkat pertama bernama “Kemurahan”. Ini mengingatkan bahwa hidup kita berdiri karena kemurahan Tuhan, bukan karena kemampuan kita sendiri. Bangsa Israel masih ada karena Tuhan melindungi mereka. Demikian pula kita hari ini. Nafas kehidupan, kesehatan, pekerjaan, keluarga, kesempatan bertobat, dan berbagai berkat yang kita nikmati setiap hari adalah bukti kemurahan Tuhan. Sering kali manusia menganggap semua itu sebagai sesuatu yang wajar, padahal sesungguhnya semuanya adalah anugerah. Pesan bagi kita adalah jangan pernah menganggap remeh kemurahan Tuhan. Apa yang kita miliki hari ini bukan semata-mata hasil usaha kita, tetapi juga karena tangan Tuhan yang memelihara.

Tongkat kedua bernama “Ikatan”. Ini berbicara tentang hubungan perjanjian antara Tuhan dan umat-Nya. Tuhan tidak hanya ingin memberkati manusia, tetapi juga ingin memiliki hubungan yang dekat dengan mereka. Banyak orang mencari berkat Tuhan tetapi tidak mencari Tuhan sendiri. Mereka ingin perlindungan-Nya, tetapi tidak ingin hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Melalui tongkat “Ikatan”, Tuhan mengingatkan bahwa kehidupan rohani bukan sekadar menerima berkat, melainkan hidup dalam hubungan yang setia dengan-Nya.

Keberadaan tiga gembala yang akhirnya disingkirkan juga memberikan pelajaran penting. Identitas ketiga gembala itu memang diperdebatkan para penafsir, tetapi pesan umumnya cukup jelas. Tuhan tidak berkenan kepada pemimpin yang tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan benar. Dalam setiap zaman, Tuhan menghendaki pemimpin yang menggembalakan, bukan memanfaatkan; melayani, bukan mencari keuntungan pribadi. Pesan ini berlaku bagi pemimpin gereja, pemimpin keluarga, pemimpin masyarakat, bahkan setiap orang yang diberi tanggung jawab atas orang lain.

Ada pelajaran lain yang lebih pribadi. Ayat 8 mengatakan bahwa akhirnya Nabi Zakharia tidak dapat menahan hati lagi terhadap mereka, dan mereka juga merasa muak terhadap dia. Gambaran ini menunjukkan hubungan yang rusak antara gembala dan domba. Secara rohani, ini menggambarkan keadaan ketika manusia terus-menerus menolak teguran Tuhan. Pada awalnya Tuhan menegur dengan lembut. Jika tidak didengar, Tuhan terus berbicara melalui firman-Nya, melalui keadaan hidup, bahkan melalui orang-orang di sekitar kita. Namun jika hati terus mengeras, manusia bisa sampai pada titik di mana ia tidak lagi mau mendengar suara Tuhan. Bukan karena Tuhan berhenti berbicara, melainkan karena hatinya sudah tertutup.

Dalam kehidupan masa kini, banyak orang masih menginginkan tongkat “Kemurahan”, tetapi menolak tongkat “Ikatan”. Mereka ingin Tuhan memberkati usaha mereka, menjaga keluarga mereka, dan menolong mereka saat kesulitan, tetapi mereka tidak ingin hidup di bawah pimpinan Tuhan. Padahal kedua tongkat itu selalu berjalan bersama. Tuhan yang memberi kemurahan adalah Tuhan yang juga menghendaki kesetiaan.

Kesimpulannya, Zakharia 11:7-8 mengajarkan bahwa Tuhan menggembalakan umat-Nya dengan kasih dan kesetiaan. Ia memelihara melalui kemurahan-Nya dan mengikat umat-Nya dalam hubungan perjanjian yang penuh kasih. Namun Tuhan juga menghendaki respons yang benar dari umat-Nya. Jangan hanya menikmati berkat Tuhan, tetapi hiduplah dekat dengan-Nya. Jangan hanya mencari kemurahan-Nya, tetapi peliharalah ikatan dengan-Nya. Sebab ketika hubungan dengan Tuhan tetap terjaga, manusia akan tetap berada di bawah perlindungan dan pemeliharaan Sang Gembala yang baik.


3. Zakharia berhenti menjadi Gembala

Zakharia 11:9-10

Nabi Zakharia kemudian mengatakan bahwa ia sudah tidak mau lagi menggembalakan domba-domba itu, jadi kalau setelah itu domba karena tidak dipelihara dan tidak diberi makan, sehingga mati ya sudah mati saja, tetapi tentang yang masih tersisa, biarlah saling memangsa satu sama lain (ay.9). Mungkin perkataan ini agak asing terdengar di telinga kita tetapi, mungkin kita harus melihat makna yang sesungguhnya.

Nabi Zakharia, yang sedang memerankan seorang gembala atas perintah TUHAN, menyatakan bahwa ia tidak akan lagi menggembalakan domba-domba itu. Ini bukan karena ia sudah tidak lagi peduli, melainkan karena domba-domba tersebut terus menolak pemeliharaan dan pimpinan yang diberikan kepada mereka. Dalam gambaran ini, domba melambangkan umat Israel dan Yehuda yang terus menerus memberontak terhadap TUHAN. Karena mereka terus menolak-Nya, TUHAN akhirnya membiarkan mereka menanggung risiko dari pilihan mereka sendiri.

Ketika dikatakan, “Yang mau mati, biarlah mati; yang mau binasa, biarlah binasa,” maksudnya adalah TUHAN telah  mencabut perlindungan dan pemeliharaan-Nya, hingga mereka akan menghadapi sendiri berbagai kesulitan, seperti peperangan, kelaparan, penderitaan, serta kehancuran (ay.9). TUHAN bukannya senang melihat mereka menderita, tetapi Ia juga Allah yang tegas dan mau menunjukkan bahwa penolakan terhadap pimpinan TUHAN berdampak berat bagi mereka sendiri. Allah mengatakan ini, sesungguhnya memberi mereka waktu untuk merenungkan sekali lagi agar mereka segera bertobat.

Kalimat, “yang tertinggal, biarlah mereka saling memakan daging sesamanya,” adalah gambaran tentang keadaan masyarakat yang sudah rusak dan hancur (ay 9). Orang-orang tidak lagi hidup dalam kasih dan persatuan, tetapi saling memusuhi, saling menindas, dan saling menghancurkan demi kepentingan diri sendiri. Gambaran ini menunjukkan betapa buruknya keadaan yang terjadi ketika manusia hidup tanpa pimpinan dan perlindungan TUHAN. Jadi, TUHAN sedang memperingatkan mereka, bahwa menolak Gembala yang baik akan membawa manusia kepada kehancuran. Ketika manusia tidak lagi mau dipimpin oleh TUHAN, mereka bukan hanya kehilangan perlindungan-Nya, tetapi juga dapat jatuh ke dalam keadaan di mana mereka saling melukai dan menghancurkan satu sama lain.

Pesan Allah bagi para pembaca dari Zakharia 11:9-10 sangat kuat dan relevan bagi setiap generasi. Bagian ini bukan menggambarkan Tuhan yang tidak peduli kepada umat-Nya, melainkan Tuhan yang sedang memperingatkan bahwa penolakan terus-menerus terhadap pimpinan-Nya pada akhirnya akan membawa akibat yang menyakitkan.

  1. Tuhan menghormati pilihan manusia, termasuk ketika manusia memilih menolak-Nya

    Ketika Nabi Zakharia berkata, “Yang mau mati, biarlah mati; yang mau binasa, biarlah binasa,” hal itu menunjukkan bahwa Tuhan tidak memaksa manusia untuk terus mengikuti-Nya. Selama ini Tuhan telah mengutus nabi-nabi, memberikan peringatan, menunjukkan kasih, dan memanggil umat-Nya untuk bertobat. Namun ketika mereka terus-menerus menolak-Nya, Tuhan akhirnya membiarkan mereka menghadapi akibat dari pilihan mereka sendiri.

    Dalam kehidupan saat ini, banyak orang menginginkan berkat Tuhan tetapi menolak tuntunan-Nya. Mereka ingin perlindungan-Nya tetapi tidak ingin hidup menurut firman-Nya. Bagian ini mengingatkan bahwa ada konsekuensi ketika seseorang terus-menerus mengabaikan suara Tuhan.

  2. Kehilangan perlindungan Tuhan adalah hal yang sangat serius

    Ketika Nabi Zakharia berhenti menjadi gembala, itu melambangkan dicabutnya perlindungan dan pemeliharaan Tuhan atas bangsa yang terus memberontak. Akibatnya mereka harus menghadapi sendiri peperangan, penderitaan, kelaparan, dan berbagai kesulitan hidup.

    Sering kali manusia baru menyadari nilai perlindungan Tuhan setelah perlindungan itu tidak lagi dirasakan. Karena itu bagian ini mengajak kita untuk bersyukur atas pemeliharaan Tuhan yang setiap hari kita nikmati dan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.

  3. Menolak Gembala yang baik akan menghasilkan kehancuran hubungan antarmanusia

    Kalimat, “yang tertinggal, biarlah mereka saling memakan daging sesamanya,” menggambarkan masyarakat yang kehilangan kasih, persatuan, dan kepedulian terhadap sesama. Mereka hidup untuk kepentingan diri sendiri dan saling menghancurkan.

    Kondisi seperti ini masih dapat ditemukan pada zaman sekarang. Ketika manusia menjauh dari Tuhan, sering kali yang muncul adalah pertikaian, kebencian, iri hati, keserakahan, dan saling menjatuhkan. Hubungan dengan Tuhan yang rusak pada akhirnya akan merusak hubungan dengan sesama manusia.

  4. Tuhan masih memberi kesempatan untuk bertobat sebelum penghakiman datang

    Meskipun nubuat ini berisi peringatan yang keras, tujuan Tuhan bukan untuk menghancurkan umat-Nya, melainkan untuk menyadarkan mereka. Sebelum penghakiman benar-benar terjadi, Tuhan terlebih dahulu mengirimkan peringatan melalui Nabi Zakharia.

    Hal yang sama juga berlaku saat ini. Teguran Tuhan, firman Tuhan, dan berbagai peristiwa dalam kehidupan sering kali merupakan panggilan agar manusia kembali kepada-Nya sebelum terlambat. Selama seseorang masih mendengar firman Tuhan, masih ada kesempatan untuk bertobat dan mengalami pemulihan.

  5. Jangan menunggu sampai kehilangan Tuhan baru menyadari pentingnya Tuhan

    Salah satu tragedi terbesar bangsa Israel adalah mereka baru menyadari nilai pemeliharaan Tuhan setelah perlindungan itu dicabut. Selama Tuhan menjaga mereka, mereka menganggapnya biasa. Ketika perlindungan itu hilang, barulah mereka merasakan akibatnya.

    Sering kali manusia melakukan hal yang sama. Mereka baru menghargai hubungan dengan Tuhan setelah mengalami kesulitan, kehilangan, atau kehancuran. Padahal Tuhan menghendaki umat-Nya tetap setia kepada-Nya bukan karena terpaksa, melainkan karena mengasihi-Nya.

Zakharia 11:9-10 mengajarkan bahwa menolak pimpinan Tuhan tidak pernah membawa manusia kepada kebebasan yang sejati, melainkan kepada kehancuran. Ketika manusia menolak Sang Gembala yang baik, mereka kehilangan perlindungan, kehilangan arah, dan pada akhirnya dapat saling melukai satu sama lain.

Bagian ini juga mengingatkan bahwa kasih Tuhan tidak menghapus kekudusan dan keadilan-Nya. Tuhan panjang sabar dan terus memanggil manusia untuk bertobat, tetapi penolakan yang terus-menerus terhadap-Nya akan membawa konsekuensi yang nyata.

Karena itu, selama Tuhan masih berbicara melalui firman-Nya, selama kesempatan bertobat masih terbuka, dan selama pemeliharaan-Nya masih kita rasakan, marilah kita tetap hidup di bawah pimpinan Sang Gembala yang baik, yaitu Tuhan sendiri. Sebab hanya di bawah tuntunan-Nya manusia menemukan perlindungan, damai sejahtera, dan kehidupan yang benar.


4. Kerajaan terpecah menjadi dua

Zakharia 11:11

Lalu nabi Zakharia mengambil tongkatnya yang bernama “Kesenangan” atau “Kemurahan” dan membelahnya menjadi dua untuk membatalkan perjanjian yang telah dibuat dengan seluruh bangsa. Ini merupakan tindakan simbolis yang dilakukan oleh Nabi Zakharia untuk menyampaikan pesan TUHAN kepada umat-Nya.

Kita tahu sebelumnya Nabi Zakharia menggembalakan kawanan domba dengan dua tongkat yang bernama “Kesenangan” atau “Kemurahan” (Favor, Grace, Pleasantness), yang melambangkan kemurahan, perlindungan, dan pemeliharaan TUHAN atas umat-Nya. Ketika Nabi Zakharia mematahkan tongkat itu, tindakan tersebut melambangkan bahwa TUHAN sedang mencabut “perlindungan khusus” yang selama ini diberikan-Nya kepada bangsa itu.

Dengan mematahkan tongkat itu, perjanjian yang telah dibuat dengan “segala bangsa” dibatalkan (ay.10). Banyak penafsir memahami bahwa yang dimaksud bukan pembatalan perjanjian keselamatan yang pernah TUHAN buat dengan Abraham atau Daud, melainkan berakhirnya perlindungan yang membuat bangsa-bangsa lain tidak bisa menghancurkan Israel sepenuhnya. Selama ini TUHAN masih menahan bangsa-bangsa di sekitar mereka (dilambangkan nabi sebagai gembala), tetapi sekarang perlindungan itu akan dicabut sebagai bentuk penghakiman atas penolakan umat terhadap-Nya (dilambangkan dengan nabi yang mengundurkan diri jadi gembala dan mematahkan tongkat).

Ayat 11 mengatakan bahwa pada hari itu juga perjanjian tersebut dibatalkan. Lalu “pedagang-pedagang domba” atau menurut beberapa terjemahan “orang-orang sengsara dari kawanan domba” yang memperhatikan Nabi Zakharia menyadari bahwa tindakan itu bukan sekadar drama atau tindakan manusia biasa. Mereka mengerti bahwa yang sedang dinyatakan adalah firman TUHAN.

Penjelasan tentang frasa itu memang penting, karena ada perbedaan terjemahan yang memengaruhi cara kita memahami ayat tersebut.

Dalam teks Ibrani Zakharia 11:11 terdapat ungkapan yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “orang-orang miskin/sengsara dari kawanan domba yang memperhatikan aku.” Karena itu beberapa terjemahan modern menerjemahkannya sebagai “the afflicted of the flock” atau “orang-orang sengsara dari kawanan domba.”

Namun ada juga tradisi penafsiran yang menghubungkan kelompok ini dengan para pedagang atau pembeli domba yang sedang mengamati tindakan Nabi Zakharia. Itulah sebabnya dalam TB-LAI lama muncul terjemahan “pedagang-pedagang domba yang sedang mengamat-amati aku.”

Banyak ahli Perjanjian Lama saat ini cenderung mengikuti pembacaan “orang-orang sengsara dari kawanan domba” karena lebih dekat dengan teks Ibrani yang ada. Yang dimaksud adalah kelompok kecil umat yang rendah hati, tertindas, atau setia kepada TUHAN di tengah bangsa yang sebagian besar telah memberontak.

Maknanya menjadi sangat indah. Ketika Nabi Zakharia mematahkan tongkat “Kesenangan” sebagai tanda bahwa perlindungan TUHAN sedang dicabut, tidak semua orang mengerti arti tindakan itu. Sebagian besar bangsa mungkin menganggapnya tidak penting. Tetapi orang-orang yang sungguh-sungguh mencari TUHAN langsung memahami bahwa tindakan itu adalah firman TUHAN.

Jadi fokus ayat 11 sebenarnya bukan pada identitas mereka sebagai pedagang, melainkan pada sikap hati mereka. Mereka adalah kelompok kecil yang tetap peka terhadap suara TUHAN. Ketika yang lain tidak mendengarkan, mereka mengerti bahwa penghakiman yang diumumkan Nabi Zakharia benar-benar berasal dari TUHAN.

Dalam konteks pasal 11, kelompok kecil ini menjadi kontras dengan mayoritas bangsa. Mayoritas menolak Gembala yang TUHAN kirimkan, sedangkan kelompok kecil ini tetap memperhatikan dan mengenali firman TUHAN. Karena itu mereka segera memahami arti pematahan tongkat tersebut: kemurahan dan perlindungan TUHAN sedang dicabut karena bangsa itu terus menolak-Nya.

Dengan kata lain, ayat 11 sedang menunjukkan bahwa di tengah kemerosotan rohani bangsa, masih ada sisa umat yang setia. Mereka mungkin kecil, lemah, dan tidak berpengaruh, tetapi mereka mampu mengenali pekerjaan dan firman TUHAN ketika orang lain tidak dapat melihatnya. Dengan kata lain, di tengah bangsa yang umumnya menolak TUHAN, masih ada sekelompok kecil orang yang peka secara rohani. Mereka melihat tindakan Nabi Zakharia dan memahami bahwa TUHAN sedang berbicara melalui tindakan simbolis tersebut. Mereka menyadari bahwa masa perlindungan dan kemurahan TUHAN sedang berakhir karena pemberontakan bangsa itu.

Secara sederhana, tongkat “Kesenangan” melambangkan kemurahan dan perlindungan TUHAN. Ketika tongkat itu dipatahkan, TUHAN sedang menunjukkan bahwa Ia mencabut perlindungan-Nya karena umat terus menolak-Nya. Namun di tengah penolakan itu masih ada sebagian kecil orang yang tetap memperhatikan firman TUHAN dan mengerti bahwa peringatan tersebut benar-benar berasal dari-Nya. Ini menunjukkan bahwa sekalipun penghakiman datang, selalu ada orang-orang yang masih mendengarkan dan menghormati firman TUHAN.


5. Penghargaan senilai 30 keping perak

Zakharia 11:12

Nabi Zakharia kemudian meminta upah kepada para pedagang domba atas pekerjaannya sebagai gembala. Namun ia tidak memaksa mereka untuk memberikannya, karena tugas penggembalaannya tidak berlangsung sampai selesai. Ternyata para gembala itu membayarnya dengan 30 keping perak. Nah, apakah para pembaca ingat kesamaan apa yang pernah kita dengar di alkitab tentang 30 keping perak? Betul!! itu upah dari para imam Israel yang menyuruh Yudas Iskariot mengkhianati Tuhan Yesus.  

Hubungan antara 30 keping perak dalam Zakharia 11  ini dengan kisah Yudas Iskariot dalam Matius 26–27 merupakan salah satu nubuatan tentang Mesias yang termasuk paling menarik dalam Perjanjian Lama. Dalam konteks Zakharia 11, Nabi Zakharia sedang memerankan gembala yang mewakili TUHAN atau gembala yang diutus TUHAN kepada umat-Nya. Setelah ditolak oleh kawanan domba yang digembalakannya, ia meminta upah atas pekerjaannya. Sebagai balasannya, mereka memberikan 30 keping perak.

Jumlah 30 keping perak menunjukkan nilai yang tidak terlalu besar dalam konteks nilai penghargaannya. Mereka menilai gembala yang telah melayani mereka hanya seharga seorang budak seperti diterangkan dalam Keluaran 21:32. Jadi inti pesan Zakharia 11 ini, bukanlah dihitung besar kecil upah tersebut, melainkan menggambarkan sikap hati umat yang menghina gembala yang diutus TUHAN, serta menunjukkan betapa rendahnya penghargaan mereka terhadap pemeliharaan TUHAN selama ini.

Berabad-abad kemudian, peristiwa yang sangat mirip terjadi pada masa kehidupan Tuhan Yesus, yaitu ketika Yudas Iskariot bersepakat dengan para imam setempat untuk menyerahkan Tuhan Yesus. Saat itu para imam menetapkan upah dari pengkhianatan itu adalah sebesar 30 keping perak (Matius 26:15). Hubungan antara kedua bagian ini terletak pada fakta bahwa baik Nabi Zakharia dalam tindakan simbolisnya maupun Tuhan Yesus dalam pelayanan-Nya sama-sama ditolak oleh umat yang seharusnya menerima mereka. Gembala dalam Zakharia dihargai dengan harga yang sangat rendah. Demikian pula Tuhan Yesus, Sang Gembala Agung, dihargai hanya dengan 30 keping perak oleh para pemimpin agama Israel.

Jadi makna utama 30 keping perak bukan terletak pada jumlah uangnya, melainkan pada penolakan terhadap gembala yang diutus TUHAN. Dalam Zakharia, angka itu melambangkan penghinaan terhadap gembala simbolis. Dalam Matius, angka yang sama menjadi penggenapan yang lebih besar ketika Tuhan Yesus, Mesias yang dijanjikan, ditolak, dihina, dan diserahkan dengan harga seorang budak.

Banyak penafsir melihat di sini sebuah pola yang sangat jelas: bangsa yang dahulu meremehkan gembala dalam gambaran Nabi Zakharia akhirnya meremehkan Sang Gembala Sejati, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Karena itu, 30 keping perak menjadi simbol tragis dari betapa rendahnya nilai yang diberikan manusia kepada Dia yang sebenarnya datang untuk menyelamatkan mereka.

Kehidupan rohani kita sering kali mencerminkan kisah domba-domba yang menolak pimpinan Gembala yang Baik. Sering kali dalam keseharian, ketika segala sesuatu berjalan dengan lancar dan berkat Tuhan melimpah, kita cenderung melupakan bahwa semuanya itu ada karena kemurahan dan perlindungan-Nya yang dilambangkan oleh tongkat “Kesenangan”. Kita menjadi mandiri secara keliru, mengabaikan tuntunan firman-Nya, dan mulai berjalan menurut keinginan hati sendiri. Padahal, ketika manusia bersikeras menolak pimpinan Tuhan, Ia bisa saja mencabut perlindungan-Nya dan membiarkan kita menanggung konsekuensi logis dari pilihan kita, di mana tanpa kehadiran-Nya masyarakat dan keluarga dapat jatuh ke dalam konflik, egoisme, serta kehancuran moral karena saling menindas demi kepentingan pribadi.

Melalui perenungan ini, kita juga diajak untuk memeriksa kembali sedalam apa kita menghargai kehadiran Tuhan dalam rutinitas harian kita. Jangan sampai kita mengulangi kesalahan bangsa Israel yang menilai Sang Gembala Agung dengan harga yang sangat murah, layaknya tiga puluh keping perak, dengan cara menempatkan Tuhan di urutan terakhir dalam prioritas hidup, pekerjaan, atau keputusan penting kita. Di tengah dunia yang semakin menjauh dari nilai-nilai kebenaran, kita ditantang untuk menjadi bagian dari sekelompok kecil umat yang tetap peka dan responsif terhadap suara Tuhan. Menghargai Gembala yang Baik berarti bersedia tunduk pada otoritas-Nya, memelihara kasih persaudaraan agar tidak saling melukai, dan terus menjaga hati yang hancur serta setia di hadapan-Nya setiap hari.

Semoga Tuhan memberikan kita hikmat dan pengertian-Nya agar kita bisa dengan mudah memahami pesan Firman Allah kali ini. Tuhan Yesus memberkati.

Sebab nama TUHAN akan kuserukan:
 Berilah hormat kepada Allah kita,
Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna,
karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia,
dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.

Ulangan 32:3-4

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *