
Zakharia 10 Part 1 tentang “Nubuat Kehancuran yang Akan Datang” seri Nabi Besar
By Febrian 15 Juni 2026 03:15 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Kitab Zakharia pasal 9-14 berisi rangkaian tema firman Tuhan tentang nubuat kedatangan Mesias, yaitu Tuhan Yesus Kristus ke dalam dunia. Edisi khotbah kali ini adalah lanjutan firman Tuhan dari Zakharia 9 (Part 4)., yaitu tentang Nubuat Kehancuran yang Akan Datang. Kiranya Tuhan memberi kita hikmat dan pengertian untuk dapat memahami firman-Nya tersebut. Tuhan Yesus memberkati.
Kitab nabi Zakharia pasal 9 s/d 14 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat
Zakharia 11 <– Klik di sini untuk membaca seluruh pasal
Nubuat Kehancuran yang Akan Datang
Zakharia 11:1-3
Bukalah pintu-pintumu, hai Libanon, supaya api dapat memakan pohon-pohon arasmu. Merataplah, hai pohon sanobar, sebab sudah rebah pohon aras dan sudah dirusakkan pohon-pohon yang hebat! Merataplah, hai pohon-pohon tarbantin Basan, sebab telah rata hutan yang lebat itu! Dengar, para gembala meratap! Sebab kemegahan mereka sudah dirusakkan. Dengar, singa-singa mengaum! Sebab sudah dirusakkan kebanggaan sungai Yordan.
Zakharia 11:1-3 merupakan bagian pembuka dari suatu nubuat penghakiman akan Nubuat Kehancuran yang Akan Datang. Bahasa yang digunakan sangat puitis dan penuh gambaran simbolis. Nabi Zakharia menggambarkan Libanon, Basan, para gembala, dan singa-singa seolah-olah sedang meratap karena suatu kehancuran besar yang akan datang. Gambaran ini bukan sekadar tentang kerusakan alam, melainkan tentang runtuhnya kekuatan, kemegahan, dan kepemimpinan bangsa yang selama ini menjadi kebanggaan mereka.
Secara harfiah, Libanon terkenal karena pohon-pohon arasnya yang besar, kuat, dan bernilai tinggi. Basan terkenal karena hutannya yang lebat dan tanahnya yang subur. Ketika Nabi Zakharia memerintahkan pohon aras, pohon sanobar, dan pohon tarbantin untuk meratap, ia sedang menggunakan bahasa simbolis untuk menggambarkan bahwa orang-orang yang kuat, terhormat, dan berkuasa akan mengalami kehancuran. Jika pohon aras yang paling tinggi saja ditebang, maka pohon-pohon yang lebih kecil tidak memiliki alasan untuk merasa aman.
Ungkapan “Bukalah pintu-pintumu, hai Libanon” menggambarkan bahwa penghakiman Allah akan masuk dan menghancurkan tanpa dapat dihalangi. Api yang memakan pohon-pohon aras melambangkan kehancuran yang menyapu habis apa yang selama ini dianggap kokoh dan tidak tergoyahkan. Dalam dunia kuno, api sering menjadi simbol murka dan penghakiman Allah terhadap kesombongan manusia.
Ayat 3 memperluas gambaran kehancuran tersebut kepada para gembala dan singa. Dalam kitab-kitab para nabi, gembala sering melambangkan pemimpin bangsa, baik raja, imam, maupun pemimpin masyarakat. Ratapan para gembala menunjukkan bahwa para pemimpin akan kehilangan kemuliaan dan kekuasaan mereka. Sementara itu, singa-singa yang mengaum kemungkinan melambangkan para penguasa atau orang-orang kuat yang selama ini hidup dalam kemegahan di wilayah lembah Sungai Yordan. Kini tempat kebanggaan mereka telah dihancurkan.
Dari sisi sejarah penafsiran, banyak ahli melihat bagian ini sebagai nubuat tentang kehancuran yang akan menimpa Yehuda dan Yerusalem karena penolakan mereka terhadap Allah.
Dr. John Calvin dalam *Commentaries on the Twelve Minor Prophets* (1559), pohon aras Libanon melambangkan para pemimpin dan tokoh besar bangsa. Calvin menafsirkan ratapan pohon-pohon sebagai gambaran bahwa ketika Allah mulai menghukum para pemimpin tertinggi, maka seluruh lapisan masyarakat akan ikut merasakan dampak kehancurannya.
Rev. Matthew Henry dalam *An Exposition of the Old and New Testament* (1706–1710), gambaran pohon-pohon besar yang tumbang menunjukkan bahwa tidak ada kedudukan manusia yang terlalu tinggi untuk luput dari penghakiman Allah. Mereka yang merasa aman dalam kekuasaan dan kekayaannya dapat hancur dalam sekejap ketika Allah bertindak.
Dr. Joyce G. Baldwin, *Haggai, Zechariah, Malachi* (Tyndale Old Testament Commentaries, Inter-Varsity Press, 1972), bagian ini berfungsi sebagai pendahuluan bagi nubuat tentang kegagalan para gembala Israel dalam ayat-ayat berikutnya. Kehancuran alam yang digambarkan di awal pasal merupakan simbol kehancuran sosial dan politik yang akan menimpa bangsa tersebut.
Dalam kaitannya dengan Mesias, pasal 11 secara keseluruhan sangat penting karena di dalamnya terdapat nubuat tentang penolakan terhadap Sang Gembala yang benar, yang kemudian dipahami oleh para penulis Perjanjian Baru sebagai penggenapannya dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Karena bangsa itu menolak Gembala yang diutus Allah, maka penghakiman akhirnya datang atas mereka. Oleh sebab itu, ayat 1-3 dapat dipandang sebagai pendahuluan yang mengarah kepada tema besar pasal ini: kepemimpinan yang hancur dan penolakan terhadap Gembala sejati yang Allah berikan.
Refleksi yang dapat diambil adalah bahwa kemegahan lahiriah, kekuatan, jabatan, dan pengaruh manusia tidak pernah menjadi jaminan keamanan dan akan mudah dihancurkan. Pohon aras Libanon yang tampak tidak tergoyahkan pun dapat tumbang ketika Allah bertindak. Zakharia mengingatkan bahwa yang menopang kehidupan bukanlah kebesaran manusia, melainkan hubungan yang benar dengan Allah. Ketika manusia mengandalkan kemegahannya sendiri dan mengabaikan kehendak Tuhan, apa yang tampak kuat dapat hancur dalam waktu yang singkat. Sebaliknya, mereka yang hidup dalam ketaatan kepada Tuhan memiliki dasar yang jauh lebih kokoh daripada segala kemegahan dunia.
Semoga kita semua bisa mendapat berkat dari firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.
Bangsa menghancurkan bangsa, kota menghancurkan kota, karena Allah mengacaukan mereka dengan berbagai-bagai kesesakan.
2 Tawarikh 15:6
Amin.
