
Zakharia 1 Part 1 tentang “Bertobat lah: Peringatan keras dari Allah bagi kita semua” seri Nabi Kecil
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan ini kita akan membahas peringatan Allah kepada bangsa Israel dan kita semua untuk melakukan pertobatan atas segala dosa dan kesalahan kita kepada Allah.
Seruan Allah untuk bertobat
Zakharia 1 <– Klik di sini untuk membaca seluruh pasal
Sesuai dengan edisi sebelumnya yaitu Pengantar Kitab Zakharia (Pasal 1-14) “Sang Raja Mesias – Nubuat Ilahi” – Seri Nabi Kecil, kali kita kita akan membahas mengenai seruan Allah untuk bertobat.
Zakharia 1:1-6
Seruan untuk bertobat
1:1 Dalam bulan yang kedelapan pada tahun kedua zaman Darius datanglah firman TUHAN kepada nabi Zakharia bin Berekhya bin Ido, bunyinya:
“Sangat murka TUHAN atas nenek moyangmu. Sebab itu katakanlah kepada mereka:
Beginilah firman TUHAN semesta alam: Kembalilah kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN semesta alam, maka Akupun akan kembali kepadamu, firman TUHAN semesta alam. Janganlah kamu seperti nenek moyangmu yang kepadanya para nabi yang dahulu telah menyerukan, demikian:
Beginilah firman TUHAN semesta alam: Berbaliklah dari tingkah lakumu yang buruk dan dari perbuatanmu yang jahat! Tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau menghiraukan Aku, demikianlah firman TUHAN.
Nenek moyangmu, di mana mereka? Dan para nabi, apakah mereka hidup untuk selama-lamanya?Tetapi segala firman dan ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepada hamba-hamba-Ku, para nabi, bukankah itu telah sampai kepada nenek moyangmu?
1:6b Maka bertobatlah mereka serta berkata: Sebagaimana TUHAN semesta alam bermaksud mengambil tindakan terhadap kita sesuai dengan tingkah laku kita dan perbuatan kita, demikianlah Ia mengambil tindakan terhadap kita!”
I. Latar belakang sejarah
Zakharia 1:1 mencatat awal mula pelayanan nabi Zakharia bin Berekhya bin Ido, yang terjadi pada tahun 520 SM (tahun kedua pemerintahan Darius I atau Darius Agung). Berikut adalah latar belakang sejarah dan konteks yang menyertainya:
1. Konteks Sejarah: Pemerintahan Darius Agung (Darius I)
Darius I (memerintah 522–486 SM) adalah raja Persia yang dikenal sebagai administrator ulung. Berbeda dengan citra raja-raja lalim yang umum di wilayah tersebut, Darius menjalankan pemerintahan yang relatif stabil dan teratur:
-
Stabilitas Politik: Setelah naik takhta melalui perebutan kekuasaan yang sengit (menggantikan Gaumata pada 522 SM). Raja Gaumata dipandang sebagai penyelamat oleh rakyat jelata berkat kebijakan pembebasan pajak, namun dianggap sebagai penipu atau pengkhianat oleh Darius Agung yang berupaya melegitimasi kekuasaannya melalui narasi sejarah resmi. Darius mengonsolidasikan kekaisarannya melalui pembagian wilayah menjadi Satrapi (Provinsi) yang dipimpin oleh seorang Satrap.
-
Kebijakan Keagamaan: Secara umum, raja-raja Persia seperti Koresy dan Darius menerapkan kebijakan toleransi keagamaan. Mereka mengizinkan kelompok-kelompok yang dideportasi oleh Babel untuk kembali ke tanah air mereka dan memulihkan ibadah lokal mereka, selama kelompok tersebut tetap setia kepada takhta Persia.
-
Dukungan terhadap Bait Allah: Dalam kitab Ezra, tercatat bahwa Darius mengonfirmasi dekrit Koresy (kebijakan kompromi – aliansi) yang mendukung pembangunan kembali Bait Allah di Yerusalem. Bahkan, Darius memberikan perintah untuk mendanai pekerjaan tersebut dari pajak wilayah tersebut dan mengancam mereka yang menghalangi pembangunan (Ezra 6:6-12).
2. Kondisi Yehuda pascapembuangan
Umat Yahudi yang kembali dari pembuangan Babel berada dalam kondisi yang memprihatinkan secara rohani dan jasmani:
-
Ketidakpedulian Rohani: Meskipun mereka telah kembali ke tanah perjanjian sejak tahun 538 SM, pembangunan Bait Allah terbengkalai selama bertahun-tahun akibat perlawanan dari bangsa tetangga (orang Samaria) dan fokus umat yang beralih ke kepentingan pribadi (seperti membangun rumah sendiri).
-
Frustrasi dan Keputusasaan: Umat merasa kecil, lemah, dan terus-menerus tertekan oleh bangsa-bangsa di sekeliling mereka. Mereka merasa bahwa janji-janji pemulihan yang diberikan melalui nabi-nabi sebelumnya (seperti Yesaya dan Yeremia) terasa sangat lambat atau bahkan seolah tidak terjadi. Namun demikian, mereka tetap tidak sadar untuk bertobat dari segala kesalahan mereka.
-
Tugas Nabi Zakharia: Nabi Zakharia, bersama nabi Hagai, diutus oleh Tuhan untuk menggugah semangat umat meskipun mereka tampak seperti bangsa kecil tidak berdaya, yang tunduk di bawah kekuasaan Persia. Zakharia dipanggil untuk meyakinkan mereka bahwa Allah tidak melupakan umat-Nya, dan berharap mereka bertobat dan berbalik kepada-Nya.
3. Kejahatan yang Menjadi Latar Belakang
Perlu dipahami di sini, bahwa “kejahatan” yang ditegur Allah bukan hanya perbuatan keji bangsa asing, melainkan ketidaktaatan umat Tuhan sendiri terhadap panggilan-Nya:
-
Pengabaian akan Panggilan Tuhan untuk bertobat: Dosa utama yang ditegur dalam Zakharia 1:1-6 adalah sikap tidak mau mendengar suara Tuhan. Umat terjebak dalam pola hidup “seperti nenek moyang mereka” yang keras kepala dan tidak mau bertobat dari jalan-jalan mereka yang jahat.
-
Kejahatan Bangsa-Bangsa: Meskipun Darius digambarkan cukup mendukung, dunia di sekitar Yerusalem tetap penuh dengan penindasan dan permusuhan terhadap umat Allah. Nubuat Zakharia (terutama penglihatan-penglihatan dalam pasal 1-6) sering kali menyinggung tentang penghakiman Allah terhadap “bangsa-bangsa yang tenang” yang telah bertindak terlalu kejam terhadap umat-Nya, serta janji bahwa Allah akan menegakkan keadilan bagi Yerusalem.
Kesimpulan
Panggilan pertobatan yang disampaikan nabi Zakharia kepada umat di Yerusalem pada masa pemerintahan Raja Darius Agung merupakan ajakan mendesak bagi umat Tuhan untuk meninggalkan ketidaktaatan masa lalu dan kembali kepada Allah. Di tengah kondisi umat yang sedang patah semangat dan lebih mementingkan urusan pribadi dalam membangun kembali Bait Allah, pesan ini mengingatkan bahwa ketaatan dan bertobat adalah kunci utama untuk mengalami kembali kasih setia dan pemulihan dari Tuhan, di mana pun mereka berada di tengah situasi politik yang tidak menentu.
Mari kita gunakan momen ini untuk dengan jujur memeriksa seluruh isi hati dan kehidupan kita di hadapan Tuhan, menyadari bahwa sering kali kita telah mengabaikan kehendak-Nya karena lebih mementingkan keinginan dan kenyamanan pribadi. Hendaklah kita berani mengakui segala kesalahan, kelalaian, dan dosa-dosa yang telah menjauhkan kita dari kasih-Nya, serta segera bertobat dengan sungguh-sungguh di hadapan-Nya. Dengan kerendahan hati untuk bertobat dari jalan yang salah dan berkomitmen untuk hidup kembali sesuai dengan firman-Nya, kita dapat percaya bahwa Tuhan yang setia akan menyambut kita kembali, memulihkan hubungan kita dengan-Nya, dan memberikan kekuatan baru untuk menjalani hidup yang berkenan di mata-Nya.
