
Kitab Nabi Hagai tentang “Bait Suci Allah – Perintah untuk pembangunan kembali” seri Nabi Kecil
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan ini kita akan membahas kitab Hagai yang menyampaikan pesan Allah untuk memulai kembali pembangunan Bait Suci Allah.
Pembangunan Kembali Bait Suci Allah
1. Bait Allah tempat-Nya bertakhta belum dibangun
Hagai 1:1-24
Ajakan untuk membangun kembali Bait Suci Allah1:1 Pada tahun yang kedua zaman raja Darius, dalam bulan yang keenam, pada hari pertama bulan itu, datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak, imam besar, bunyinya:
“Beginilah firman TUHAN semesta alam:
Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!”Maka datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya:
“Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?Oleh sebab itu, beginilah firman TUHAN semesta alam:
Perhatikanlah keadaanmu!
- Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit;
- kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang;
- kamu minum, tetapi tidak sampai puas;
- kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas;
- dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!
1:7 Beginilah firman TUHAN semesta alam:
Perhatikanlah keadaanmu!
Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman TUHAN.
Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa? demikianlah firman TUHAN semesta alam.
Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.Itulah sebabnya langit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya, dan Aku memanggil kekeringan datang ke atas negeri, ke atas gunung-gunung, ke atas gandum, ke atas anggur, ke atas minyak, ke atas segala yang dihasilkan tanah, ke atas manusia dan hewan dan ke atas segala hasil usaha.”
Pada masa pascapembuangan sekitar tahun 520 SM, komunitas Yahudi yang kembali ke provinsi Yehud (Yehuda) menghadapi realitas sosial, ekonomi, dan politik yang sangat berat. Waktu itu, Kekaisaran Persia berada di bawah pemerintahan Raja Darius I (Hystaspes). Raja Darius baru saja melewati periode konsolidasi kekuasaan yang diwarnai pemberontakan, yang memicu penerapan sistem perpajakan imperial (upeti) yang sangat menguras sumber daya ekonomi dari provinsi-provinsi kecil taklukan seperti Yehuda (Dicatat oleh Eugene H. Merrill, Kingdom of Priests: A History of Old Testament Israel, 1987).
Di tingkat regional, komunitas ini berhadapan dengan oposisi sipil yang kuat. Sejarah Alkitab dalam kitab Ezra (Ezra 4:1-5) mencatat bahwa penduduk lokal di sekitar Yehuda, khususnya orang-orang Samaria, melakukan intimidasi dan menyewa penasihat-penasihat untuk menyabotase rencana pembangunan Bait Suci Allah. Tekanan sosial dan ancaman fisik ini meruntuhkan moral bangsa Israel, membuat mereka ketakutan dan menghentikan proyek pembangunan tersebut selama belasan tahun (Dicatat oleh John H. Walton, Old Testament Today, 2004).
Kondisi keseharian mereka didominasi oleh depresi ekonomi dan bencana agraris. Tanah yang ditinggalkan selama masa pembuangan membutuhkan tenaga ekstra untuk dipulihkan. Namun, iklim menghancurkan usaha mereka. Terjadi kekeringan parah yang secara langsung melumpuhkan produksi gandum, anggur, dan minyak pelita, yang merupakan tiga pilar utama penopang hidup masyarakat Timur Dekat Kuno (Dicatat oleh Carol L. Meyers and Eric M. Meyers, Haggai, Zechariah 1-8, The Anchor Bible, 1987).
Kombinasi antara pajak yang mencekik, ancaman musuh, dan gagal panen beruntun menghasilkan tingkat inflasi dan kemiskinan yang ekstrem. Alih-alih bergantung kepada Allah di tengah krisis, bangsa Israel merespons dengan pragmatisme yang berpusat pada diri sendiri. Mereka mengamankan kelangsungan hidup masing-masing dengan membangun dan memperindah rumah pribadi (“dipapani dengan baik”), sementara Bait Suci Allah dibiarkan dalam keadaan runtuh. Sebagai akibat langsung dari apati dan prioritas yang salah inilah Allah melakukan intervensi ilahi dengan menahan embun dan hasil bumi, memastikan bahwa sekeras apa pun mereka bekerja, hasilnya tidak akan pernah mencukupi (Dicatat oleh Pieter A. Verhoef, The Books of Haggai and Malachi, The New International Commentary on the Old Testament, 1987).
Jadi kita ketahui dari catatan sejarah tersebut, bahwa bangsa Israel pascapembuangan Babel itu masih hidup di dalam kemiskinan dan dihantui ketakutan serta belum menyadari keberadaan Allah yang patut disembah dan ditinggikan. Kehidupan mereka sepertinya masih sama dengan masa mereka hidup di tanah pembuangan Babel. Apa yang ada dalam pikiran mereka adalah mencari aman dan nyaman untuk diri sendiri, yaitu membangun, memperkuat, memperindah rumah tempat tinggal mereka sendiri, sama sekali tidak memikirkan untuk membangun kembali Bait Suci Allah yang rusak.
Apapun yang mereka perbuat tidak akan berhasil, bagaimana pun kerasnya usaha mereka, berkat Allah tidak tercurah atas mereka. Demikianlah mental dan semangat bangsa menjadi surut dan lemah. Terkait dengan kondisi mental bangsa yang tidak memiliki semangat itulah, maka Allah berkenan untuk mulai memperbaiki mental dan moral bangsa itu kembali kepada rancangan Allah. Langkah pertamanya adalah membangun tempat di mana Allah akan bertakhta di dalam kehidupan mereka.
Hal ini serupa dengan kehidupan manusia yang seringkali tidak sadar, bahwa kehidupan kerohaniannya porak-poranda bagaikan bangsa Israel yang baru pulang dari pembuangan Babel. Seseorang mungkin sudah bertobat dan berbalik dari jalannya yang salah, namun, Allah belum bertakhta dalam kehidupannya, karena belum ada Bait Allah di situ.
Mari bangunlah bait Allah yang adalah tubuh kita, agar Allah berkenan bertakhta dan memerintah dalam kehidupan kita, sehingga kehidupan kita akan dibereskan dan dipulihkan kembali sesuai dengan Gambar dan Rupa Allah sewaktu kita diciptakan oleh-Nya.
2. Umat Israel mulai mendengarkan perintah Allah
Hagai 1:12
1:12 Lalu Zerubabel bin Sealtiel dan Yosua bin Yozadak, imam besar, dan selebihnya dari bangsa itu mendengarkan suara TUHAN, Allah mereka, dan juga perkataan nabi Hagai, sesuai dengan apa yang disuruhkan kepadanya oleh TUHAN, Allah mereka; lalu takutlah bangsa itu kepada TUHAN.
Maka berkatalah Hagai, utusan TUHAN itu, menurut pesan TUHAN kepada bangsa itu, demikian: “Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN.”
TUHAN menggerakkan semangat Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan semangat Yosua bin Yozadak, imam besar, dan semangat selebihnya dari bangsa itu, maka datanglah mereka, lalu melakukan pekerjaan pembangunan rumah TUHAN semesta alam, Allah mereka,
Kemegahan Bait Suci Allah yang baru2:1 pada hari yang kedua puluh empat dalam bulan yang keenam. Pada tahun yang kedua zaman raja Darius, dalam bulan yang ketujuh, pada tanggal dua puluh satu bulan itu, datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya:
“Katakanlah kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak, imam besar, dan kepada selebihnya dari bangsa itu, demikian:
Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya?Tetapi sekarang,
- kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN;
- kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar;
- kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN;
- bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu.
Janganlah takut!
Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam:
- Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat;
- Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir,
- maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam.
2:10 Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam. Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam.”
Perkataan TUHAN ini disampaikan sekitar tahun 520 SM ketika pembangunan kembali Bait Suci Allah mulai dilanjutkan sesudah lama terhenti. Pada waktu itu masih ada sebagian orang tua Yahudi yang pernah melihat kemegahan Bait Suci Allah yang dibangun Salomo sebelum dihancurkan oleh tentara Babel pada tahun 586 SM.
Ketika TUHAN mengatakan: “Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula?”
TUHAN sedang menunjuk kepada generasi tua yang masih mengingat kejayaan Yerusalem pada masa sebelum pembuangan. Mereka pernah melihat Bait Suci Allah yang dibangun Salomo yang sangat megah, penuh emas, besar, indah, dan menjadi lambang kejayaan bangsa Israel. Bait Suci Allah yang dibangun Salomo pada masa lalu dibangun pada zaman damai dan kemakmuran nasional. Israel saat itu merupakan kerajaan kuat dengan kekayaan besar.
Raja Salomo waktu itu mengerahkan tenaga kerja besar, bahan bangunan terbaik, kayu aras dari Libanon, emas, perak, dan berbagai perlengkapan mahal untuk membangun Bait Suci Allah. Sebaliknya, keadaan bangsa Yehuda pada zaman Hagai sangat miskin dan lemah. Mereka baru kembali dari pembuangan Babel. Yerusalem masih berupa reruntuhan. Jumlah penduduk sedikit. Ekonomi buruk. Mereka hidup di bawah kekuasaan Persia dan tidak memiliki kebebasan politik seperti dahulu. Karena itu ketika pembangunan Bait Suci Allah dimulai kembali, bangunan itu tampak sangat sederhana dibandingkan Bait Suci Allah yang dibangun Salomo.
Lalu TUHAN berfirman lagi: “Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya?”
Kalimat ini menggambarkan perasaan kecewa bangsa itu. Mereka membandingkan kemegahan masa lalu dengan keadaan sekarang yang kecil dan sederhana. Di mata manusia, pembangunan itu tampak tidak berarti dan tidak mengesankan. Perasaan ini juga dicatat dalam kitab Ezra ketika para tua-tua menangis saat melihat dasar Bait Suci Allah yang baru, karena mereka teringat kemegahan Bait yang lama. Bangsa itu sedang mengalami benturan antara kenangan masa lalu dan kenyataan masa kini. Mereka merasa pekerjaan yang sekarang tidak akan pernah bisa menyamai kejayaan zaman dahulu.
Namun melalui firman-Nya tersebut, TUHAN sedang menyingkapkan bahwa manusia sering menilai pekerjaan Allah hanya dari penampilan luar. Mereka menilai berdasarkan ukuran kemegahan, kekuatan ekonomi, dan kebesaran fisik. Padahal TUHAN melihat lebih jauh daripada itu.
Sesudah perkataan tersebut, TUHAN memerintahkan mereka untuk tetap kuat dan terus bekerja karena TUHAN sendiri menyertai mereka. Artinya, nilai pekerjaan itu bukan ditentukan oleh besar kecilnya bangunan, melainkan oleh kehadiran dan penyertaan TUHAN di tengah umat-Nya. Bahkan kemudian TUHAN menyatakan bahwa kemegahan Rumah yang baru akan melebihi kemegahan yang semula. Secara rohani, nubuat ini menunjuk kepada kedatangan Tuhan Yesus Kristus ke Bait Suci Allah kedua itu pada masa kemudian.
Jadi perkataan TUHAN ini merupakan teguran terhadap rasa kecil hati bangsa Yehuda yang terus membandingkan pekerjaan Tuhan pada masa kini dengan kejayaan masa lalu, sehingga mereka kehilangan semangat untuk melanjutkan tugas yang diberikan TUHAN.
3. Membangun Bait Suci Allah harus berdasarkan kekudusan
Hagai 2:11-15
Pembangunan Bait Suci Allah terancam oleh ikut sertanya orang-orang najis2:11 Pada tanggal dua puluh empat bulan yang kesembilan, pada tahun yang kedua zaman Darius, datanglah firman TUHAN kepada nabi Hagai, bunyinya:
“Beginilah firman TUHAN semesta alam itu:
Tanyakanlah pengajaran kepada para imam. Andaikata seseorang membawa daging kudus dalam punca bajunya, lalu dengan puncanya itu ia menyentuh roti atau sesuatu masakan atau anggur atau minyak atau sesuatu yang dapat dimakan, menjadi kuduskah yang disentuh itu?” Lalu para imam itu menjawab, katanya: “Tidak!”
Berkatalah pula Hagai: “Jika seseorang yang najis oleh mayat menyentuh semuanya ini, menjadi najiskah yang disentuh itu?” Lalu para imam itu menjawab, katanya: “Tentu!”
2:15 Maka berbicaralah Hagai, katanya:
“Begitu juga dengan umat ini dan dengan bangsa ini di hadapan-Ku, demikianlah firman TUHAN, dan dengan segala yang dibuat tangan mereka; dan yang dipersembahkan mereka di sana adalah najis.”
Pada bagian ini, TUHAN sedang menegur keadaan rohani bangsa Yehuda yang sebenarnya masih belum benar di hadapan-Nya, walaupun mereka sudah mulai membangun kembali Bait Suci Allah. Caranya, adalah TUHAN mengambil ilustrasi hukum Taurat melalui pertanyaan kepada para imam. Pertanyaan itu berkaitan dengan hukum kekudusan dalam kehidupan ibadah Israel.
TUHAN bertanya: “Andaikata seseorang membawa daging kudus dalam punca bajunya, lalu dengan puncanya itu ia menyentuh roti atau sesuatu masakan atau anggur atau minyak atau sesuatu yang dapat dimakan, menjadi kuduskah yang disentuh itu?”
Para imam menjawab: “Tidak!”
Menurut hukum Taurat, daging persembahan memang kudus. Tetapi kekudusan itu tidak otomatis menular kepada benda lain hanya karena bersentuhan tidak langsung.
Lalu Hagai memberikan pertanyaan kedua: “Jika seseorang yang najis oleh mayat menyentuh semuanya ini, menjadi najiskah yang disentuh itu?” Para imam menjawab: “Tentu!”
Dalam hukum Taurat, orang yang menyentuh mayat dianggap najis secara seremonial. Kenajisan itu dapat menular kepada hal-hal lain yang disentuhnya.
Melalui dua pertanyaan ini, TUHAN sedang menyampaikan prinsip rohani yang sangat penting: Kekudusan tidak menular dengan mudah, tetapi kenajisan sangat mudah menyebar.
Lalu TUHAN langsung menerapkan prinsip itu kepada bangsa Yehuda: “Begitu juga dengan umat ini dan dengan bangsa ini di hadapan-Ku, demikianlah firman TUHAN, dan dengan segala yang dibuat tangan mereka; dan yang dipersembahkan mereka di sana adalah najis.”
Artinya, walaupun mereka sedang membangun Bait Suci Allah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN, hati dan kehidupan mereka sendiri masih penuh kenajisan rohani. Masalah utamanya bukan sekadar najis secara jasmani, tetapi keadaan hati mereka di hadapan TUHAN. Bangsa itu memang sudah mulai bekerja membangun Rumah TUHAN, tetapi selama bertahun-tahun sebelumnya mereka hidup dalam ketidaktaatan, lebih mementingkan urusan sendiri, kehilangan prioritas rohani, dan tidak sungguh-sungguh mencari TUHAN.
Mereka mengira bahwa dengan mulai membangun Bait Suci Allah, otomatis semuanya menjadi baik di hadapan Allah. Tetapi TUHAN menolak cara berpikir seperti itu. Jadi sebetulnya TUHAN sedang mengajar mereka, bahwa pekerjaan rohani tidak otomatis membuat seseorang menjadi kudus. Membangun Bait Suci Allah tidak otomatis menyucikan hati bangsa itu. Aktivitas agama tidak otomatis membuat hidup benar di hadapan Allah. Apa yang TUHAN kehendaki bukan hanya pekerjaan lahiriah, tetapi pertobatan sungguh-sungguh dan hati yang taat kepada-Nya.
Pada zaman itu kemungkinan juga masih ada banyak penyimpangan rohani di tengah bangsa Yehuda. Sebagian dari mereka pernah hidup lama di Babel dengan pengaruh penyembahan berhala dan kehidupan bangsa kafir. Setelah kembali ke Yehuda, keadaan rohani mereka belum sepenuhnya dipulihkan. Oleh karena itu TUHAN menyatakan, bahwa segala yang mereka kerjakan dan persembahkan masih najis di hadapan-Nya.
Dalam hal ini Allah menunjukkan, bahwa Ia tidak hanya melihat pembangunan fisik Bait Suci Allah, tetapi yang terpenting adalah pemulihan hati umat-Nya. Pesan ini juga menjadi peringatan bahwa ibadah lahiriah dapat tetap berjalan sementara hati manusia sebenarnya masih jauh dari TUHAN. Melalui firman-Nya, TUHAN menegur bangsa Yehuda bukan hanya untuk membangun kembali Bait Suci Allah secara fisik, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk mengalami pemulihan kekudusan hidup di hadapan-Nya.
Seseorang mungkin saja aktif dalam pekerjaan rohani, di dalam pelayanan, aktif menyumbang pembangunan rumah ibadah, atau aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan, namun dalam kesehariannya, masih penuh kejahatan, terbiasa berdosa, kesombongan hati, dan berbagai-bagai ketidaktaatan lainnya.
4. Membangun Bait Suci Allah harus berdasarkan kekudusan
Hagai 2:16-20
Pembangunan Bait Suci Allah mendatangkan berkat2:16“Maka sekarang, perhatikanlah mulai dari hari ini dan selanjutnya! Sebelum ditaruh orang batu demi batu untuk pembangunan bait TUHAN, bagaimana keadaanmu? Ketika orang pergi melihat suatu timbunan gandum yang seharusnya sebanyak dua puluh gantang, hanya ada sepuluh; dan ketika orang pergi ke tempat pemerasan anggur untuk mencedok lima puluh takar, hanya ada dua puluh. Aku telah memukul kamu dengan hama dan penyakit gandum dan segala yang dibuat tanganmu dengan hujan batu; namun kamu tidak berbalik kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN.
Perhatikanlah mulai dari hari ini dan selanjutnya–mulai dari hari yang kedua puluh empat bulan kesembilan. Mulai dari hari diletakkannya dasar bait TUHAN perhatikanlah 2:20 apakah benih masih tinggal tersimpan dalam lumbung, dan apakah pohon anggur dan pohon ara, pohon delima dan pohon zaitun belum berbuah?
Mulai dari hari ini Aku akan memberi berkat!”
Pada bagian ini, TUHAN mengajak bangsa Yehuda untuk melihat kembali keadaan hidup mereka selama bertahun-tahun sebelum pembangunan Bait Suci Allah dilanjutkan.
TUHAN berfirman: “Perhatikanlah mulai dari hari ini dan selanjutnya!”
Kalimat ini diulang beberapa kali untuk menegaskan bahwa bangsa Yehuda harus merenungkan dengan serius apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hidup mereka, di mana terkait dengan kenyataan bahwa sebelumnya mereka hidup dalam kesulitan ekonomi yang terus-menerus. Mereka sudah bekerja keras, tetapi hasilnya selalu mengecewakan.
Kondisi itu digambarkan oleh TUHAN: “Ketika orang pergi melihat suatu timbunan gandum yang seharusnya sebanyak dua puluh gantang, hanya ada sepuluh.”
Ini gambaran dari hasil panen mereka yang selalu jauh lebih kecil dari harapan: “Dan ketika orang pergi ke tempat pemerasan anggur untuk mencedok lima puluh takar, hanya ada dua puluh.” Hasil kebun anggur mereka juga merosot tajam. Produksi tidak sesuai dengan tenaga dan usaha yang sudah dikeluarkan.
Lalu TUHAN menyingkap rahasia penyebabnya: “Aku telah memukul kamu dengan hama dan penyakit gandum dan segala yang dibuat tanganmu dengan hujan batu.”
Pada masa itu kehidupan bangsa Yehuda sangat bergantung pada pertanian. Jika gandum rusak, anggur rusak, zaitun rusak, atau hujan batu menghancurkan ladang, maka seluruh kehidupan ekonomi bangsa langsung terpukul. Hama, penyakit tanaman, kekeringan, dan hujan batu merupakan bencana besar bagi masyarakat agraris seperti Yehuda pascapembuangan.
Namun TUHAN berkata: “Namun kamu tidak berbalik kepada-Ku.” Inilah inti persoalannya. Kesulitan hidup yang mereka alami sebenarnya merupakan teguran Allah supaya bangsa itu sadar bahwa mereka telah meninggalkan prioritas rohani mereka, namun mereka sibuk membangun kehidupan sendiri, dan membiarkan Rumah TUHAN tetap menjadi reruntuhan. Selama bertahun-tahun, mereka mencoba bertahan dengan kekuatan sendiri, tetapi TUHAN menahan berkat atas negeri itu.
Lalu terjadi perubahan penting. Bangsa Yehuda mulai taat kepada firman TUHAN melalui Nabi Hagai. Mereka mulai kembali membangun Bait Suci Allah. Karena itu TUHAN berkata: “Mulai dari hari diletakkannya dasar bait TUHAN perhatikanlah…”
TUHAN meminta mereka memperhatikan bahwa sejak saat bangsa itu mulai taat dan menempatkan TUHAN kembali sebagai pusat kehidupan mereka, maka keadaan akan mulai berubah.
Lalu TUHAN menyebut keadaan kebun mereka: “Apakah benih masih tinggal tersimpan dalam lumbung, dan apakah pohon anggur dan pohon ara, pohon delima dan pohon zaitun belum berbuah?” Artinya secara keadaan nyata saat itu sebenarnya belum ada tanda-tanda kelimpahan. Hasil pertanian belum pulih. Pohon-pohon belum berbuah. Situasi ekonomi belum langsung berubah.
Namun justru di tengah keadaan yang masih kosong itu, TUHAN memberikan janji: “Mulai dari hari ini Aku akan memberi berkat!” Ini menunjukkan bahwa titik balik perubahan keadaan mereka dimulai dari ketaatan mereka kepada TUHAN. Berkat Allah mulai dinyatakan ketika bangsa itu kembali menempatkan TUHAN sebagai prioritas utama.
Jadi sudah jelas sekarang, bahwa masalah bangsa Yehuda yaitu musuh, penyakit, teknik pertanian yang keliru, cuaca buruk, atau kemampuan bekerja yang buruk, terjadi karena buruknya hubungan rohani mereka dengan TUHAN selama ini. Selama hati mereka jauh dari TUHAN, hasil usaha mereka seperti bocor dan habis sia-sia. Tetapi ketika mereka kembali taat, TUHAN membuka tingkap-tingkap langit dan memberkati kehidupan mereka.
5. Membangun Bait Suci Allah harus berdasarkan kekudusan
Hagai 2:16-20
Janji kepada Zerubabel2:21 Maka datanglah firman TUHAN untuk kedua kalinya kepada Hagai pada tanggal dua puluh empat bulan itu, bunyinya:
“Katakanlah kepada Zerubabel, bupati Yehuda, begini:
Aku akan menggoncangkan langit dan bumi dan akan menunggangbalikkan takhta raja-raja; Aku akan memunahkan kekuasaan kerajaan bangsa-bangsa dan akan menjungkirbalikkan kereta dan pengendaranya; kuda dan pengendaranya akan mati rebah, masing-masing oleh pedang temannya.
2:24 Pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, Aku akan mengambil engkau, hai Zerubabel bin Sealtiel, hamba-Ku–demikianlah firman TUHAN–dan akan menjadikan engkau seperti cincin meterai; sebab engkaulah yang Kupilih, demikianlah firman TUHAN semesta alam.”
Zerubabel bin Sealtiel adalah salah satu tokoh terpenting dalam sejarah pemulihan bangsa Israel setelah pembuangan Babel. Ia hidup sekitar akhir abad ke-6 SM dan awal abad ke-5 SM pada masa kekuasaan Kekaisaran Persia. Diketahui dari nama “Zerubabel” yang berarti “keturunan Babel” atau “ditaburkan di Babel”, menunjukkan bahwa ia lahir atau dibesarkan pada masa pembuangan di Babel.
Zerubabel berasal dari garis keturunan Raja Daud. Ayahnya adalah Sealtiel, keturunan Raja Yekhonya atau Yoyakhin, salah satu raja terakhir Yehuda sebelum bangsa itu dibuang ke Babel. Karena berasal dari garis kerajaan Daud, Zerubabel memiliki arti penting bagi bangsa Yahudi. Walaupun ia bukan raja, banyak orang melihat dirinya sebagai lambang harapan bahwa suatu hari nanti Allah akan memulihkan kembali keturunan Daud. Nama Zerubabel juga muncul dalam silsilah Tuhan Yesus Kristus dalam Injil Matius dan Injil Lukas. Hal ini menunjukkan bahwa ia menjadi salah satu mata rantai penting dalam garis keturunan Mesias. (Baca Kembali dari Pembuangan di Babel – Seri Silsilah Yesus Kristus – Matius 1 Part 24)
Sesudah Raja Koresh dari Persia mengizinkan orang Yahudi pulang dari pembuangan Babel sekitar tahun 538 SM, Zerubabel memimpin rombongan pertama kembali ke Yehuda bersama Imam Besar Yosua bin Yozadak. Ketika mereka kembali ke Yerusalem, keadaan negeri itu sangat menyedihkan. Kota Yerusalem masih berupa reruntuhan akibat penghancuran oleh tentara Babel pada tahun 586 SM. Tembok kota runtuh. Rumah-rumah rusak. Bait Suci Allah yang dibangun Salomo sudah hancur total. Tanah pertanian banyak yang terbengkalai dan jumlah penduduk sangat sedikit.
Pada masa itu Yehuda bukan lagi kerajaan merdeka. Wilayah itu hanyalah provinsi kecil di bawah kekuasaan Persia. Karena itu Zerubabel tidak menjadi raja seperti Daud atau Salomo, melainkan hanya seorang bupati atau gubernur di bawah pemerintahan Persia. Jadi tugas terbesar Zerubabel adalah memimpin pembangunan kembali Bait Suci Allah di Yerusalem.
Setelah kembali dari Babel, bangsa Yahudi mulai membangun mezbah dan mempersembahkan korban bakaran kepada TUHAN. Sesudah itu mereka mulai meletakkan dasar Bait Suci Allah yang baru. Namun, pembangunan itu segera mendapat perlawanan keras dari bangsa-bangsa sekitar Yehuda, terutama orang-orang Samaria dan kelompok-kelompok lain yang tinggal di daerah itu. Mereka menekan bangsa Yahudi dan mengirim tuduhan politik kepada pemerintah Persia sehingga pembangunan Bait Suci Allah akhirnya terhenti selama bertahun-tahun.
Dalam masa penghentian itu, bangsa Yehuda mulai kehilangan semangat rohani. Mereka lebih sibuk membangun rumah sendiri dan berusaha bertahan hidup di tengah kesulitan ekonomi. Baru sekitar tahun 520 SM, TUHAN membangkitkan Nabi Hagai dan Nabi Zakharia untuk menegur bangsa itu dan mendorong mereka melanjutkan pembangunan Rumah TUHAN.
Melalui Nabi Hagai, TUHAN berkali-kali berbicara langsung kepada Zerubabel: “Kuatkanlah hatimu.”; “Aku menyertai kamu.”; “Aku akan menjadikan engkau seperti cincin meterai.”
Ungkapan “cincin meterai” memiliki arti sangat penting pada zaman kuno. Cincin meterai adalah lambang otoritas raja, tanda kepemilikan, dan pilihan khusus. Ada latar belakang penting dalam perkataan ini. Kakek Zerubabel, yaitu Raja Yekhonya, pernah dihukum oleh TUHAN karena dosa dan pemberontakan Yehuda. Dalam kitab Yeremia, TUHAN menggambarkan Yekhonya seperti cincin meterai yang dicabut dari tangan-Nya. “Demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN, bahkan sekalipun Konya bin Yoyakim, raja Yehuda, adalah sebagai cincin meterai pada tangan kanan-Ku, namun Aku akan mencabut engkau!
(Yeremia 22:24)
Namun kepada Zerubabel, TUHAN justru berkata bahwa ia akan dijadikan seperti cincin meterai. Ini menunjukkan bahwa TUHAN belum membatalkan janji-Nya kepada keturunan Daud.
Dalam kitab Zakharia, Zerubabel juga menerima penguatan dari TUHAN melalui penglihatan tentang kaki dian emas dan dua pohon zaitun. Pada saat itu TUHAN berkata: “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku.” Perkataan ini sangat penting karena keadaan bangsa Yehuda saat itu sangat lemah. Mereka miskin, sedikit jumlahnya, tidak memiliki tentara besar, dan berada di bawah tekanan politik. Namun TUHAN menegaskan bahwa pembangunan Rumah-Nya tidak akan berhasil karena kekuatan manusia, melainkan karena pekerjaan Roh Allah sendiri.
Nabi Zakharia juga menyatakan bahwa tangan Zerubabel yang telah meletakkan dasar Bait Suci akan menjadi tangan yang menyelesaikannya, di mana akhirnya memang pembangunan Bait Suci kedua benar-benar selesai sekitar tahun 516 SM.
Sesudah itu Alkitab tidak banyak lagi mencatat kehidupan Zerubabel. Tidak diketahui secara pasti bagaimana akhir hidupnya. Walaupun demikian, peranan Zerubabel sangat besar dalam sejarah Israel. Ia memimpin pemulihan pertama bangsa Yahudi setelah pembuangan, memulihkan kembali ibadah kepada TUHAN, memimpin pembangunan Bait Suci kedua, menjaga keberlanjutan garis keturunan Daud, dan menjadi bagian penting dalam silsilah Mesias.
6. Pemulihan Bait Suci Allah oleh Tuhan Yesus Kristus
Dalam pandangan manusia, Zerubabel mungkin hanyalah seorang gubernur kecil di provinsi miskin Persia, namun dalam kerangka besar rencana Allah, ia menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan sejarah menuju kedatangan Tuhan Yesus Kristus.
Banyak teolog terkemuka dunia, melihat Zerubabel sebagai gambaran awal tentang pemulihan kerajaan Daud yang kelak akan digenapi secara sempurna melalui Tuhan Yesus Kristus.
Dr. Walter C. Kaiser Jr. Professor of Old Testament and Former President of Gordon-Conwell Theological Seminary. Dalam buku: The Messiah in the Old Testament. Publisher: Zondervan, 1995.
Janji TUHAN kepada Zerubabel dalam Hagai 2:23 memiliki hubungan langsung dengan penghukuman terhadap Raja Yekhonya dalam Yeremia 22:24. Ketika TUHAN menyebut Zerubabel sebagai “cincin meterai,” hal itu menunjukkan bahwa Allah belum membatalkan janji-Nya kepada garis keturunan Daud. Menurut beliau, Zerubabel menjadi figur pemulihan dinasti Daud yang akhirnya menunjuk kepada penggenapan Mesianik dalam Tuhan Yesus Kristus.
Dr. Joyce G. Baldwin Former Lecturer in Old Testament Studies at Trinity College, Bristol. Dalam buku: Haggai, Zechariah, Malachi: An Introduction and Commentary. Publisher: InterVarsity Press, 1972.
Janji kepada Zerubabel melampaui dirinya secara pribadi. Walaupun Zerubabel tidak pernah menjadi raja atas Israel, ia tetap dipandang sebagai wakil sah dari garis keturunan Daud. Menurut beliau, nubuat dalam Hagai membangkitkan kembali harapan tentang pemulihan kerajaan Allah melalui keturunan Daud yang kelak akan digenapi secara sempurna dalam Mesias.
Dr. Andrew E. Hill Professor of Old Testament at Wheaton College Graduate School. Dalam buku: Haggai, Zechariah and Malachi. Publisher: IVP Academic, Tyndale Old Testament Commentaries, 2012.
Hagai 2:23 menghidupkan kembali tema perjanjian Daud dan harapan kerajaan Mesianik setelah masa pembuangan Babel. Menurut beliau, pemilihan Zerubabel sebagai “cincin meterai” menunjukkan bahwa TUHAN masih bekerja melalui garis Daud dan sedang mempersiapkan penggenapan rencana Mesianik di masa depan.
Dr. Peter C. Craigie dan Dr. John H. Walton Old Testament Scholars. Dalam buku: Old Testament Survey.
Publisher: Zondervan, 2008.
Mereka menjelaskan bahwa sosok Zerubabel memiliki nuansa Mesianik karena ia berasal dari keturunan Daud, memimpin pemulihan bangsa Yehuda, dan membangun kembali Bait Suci. Namun penggenapan penuh dari harapan itu tidak terjadi pada Zerubabel sendiri, melainkan menunjuk kepada kedatangan Mesias yang sesungguhnya, yaitu Tuhan Yesus Kristus.
Kesimpulan dan Renungan
Kesimpulan dari kitab Hagai adalah bahwa Allah sendiri mengambil inisiatif untuk memulihkan umat-Nya yang sedang hidup dalam keterpurukan rohani, ketakutan, dan kemiskinan setelah pembuangan Babel. Bangsa Yehuda sibuk membangun kehidupan dan rumah mereka sendiri, tetapi membiarkan Bait Suci Allah tetap runtuh, sehingga berkat Allah tertahan atas seluruh usaha mereka. Melalui Nabi Hagai, TUHAN memanggil bangsa itu untuk kembali menempatkan Allah sebagai pusat kehidupan mereka, membangun kembali Rumah TUHAN, dan memulihkan kekudusan hidup mereka. Allah menunjukkan bahwa pekerjaan rohani tidak akan berarti tanpa pertobatan dan hati yang taat kepada-Nya. Walaupun Bait Suci Allah yang baru tampak kecil dan tidak semegah zaman Salomo, TUHAN menegaskan bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada kemegahan lahiriah, melainkan pada kehadiran Allah sendiri di tengah umat-Nya.
Kitab Hagai juga mengarahkan pandangan kepada penggenapan yang lebih besar melalui Tuhan Yesus Kristus. Zerubabel, keturunan Daud yang memimpin pembangunan kembali Bait Suci Allah, menjadi gambaran awal pemulihan kerajaan Allah yang akhirnya digenapi dalam Kristus Sang Mesias. Tuhan Yesus Kristus datang bukan hanya untuk memulihkan sebuah bangunan fisik, tetapi untuk membangun kembali “Bait Suci Allah” di dalam kehidupan manusia, yaitu hati dan hidup yang dipenuhi Roh Allah. Karena itu pesan Hagai tetap relevan sampai sekarang: manusia tidak akan mengalami pemulihan sejati selama Allah belum bertakhta di dalam hidupnya. Ketika seseorang kembali menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupannya, hidupnya akan dipulihkan, dibereskan, dan dibentuk kembali sesuai dengan gambar dan rupa Allah.
Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah Bait Allah
dan Roh Allah diam di dalam kamu?
Jika ada orang yang merusak Bait Allah,
maka Allah akan merusak dia; sebab Bait Allah itu kudus,
dan Bait itu adalah kamu sendiri.
1 Korintus 3:16-17
Amin.
