
Zefanya 1 Part 2 tentang “Waspada terhadap 3 jenis kejahatan yang ditimpa Murka Allah – Berhala Milkom” Seri Nabi Kecil
By Febrian 18 Mei 2026 03:44 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan ini kita diajar untuk waspada terhadap 3 jenis kejahatan yang ditimpa Murka Allah sesuai dengan firman yang disampaikan oleh Nabi Zefanya. Kiranya Tuhan Yesus memberi kita hikmat dan pengertian-Nya agar kita dapat memahami firman-Nya. Tuhan Yesus memberkati.
Waspada terhadap 3 jenis kejahatan yang ditimpa Murka Allah
Zefanya 1 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat
Dari ayat bacaan di atas, ada beberapa hal yang dapat kita pelajari, sebagai berikut:
Zefanya 1:2-6
2 Aku akan menyapu bersih segala-galanya dari atas muka bumi, demikianlah firman TUHAN. Aku akan menyapu manusia dan hewan; Aku akan menyapu burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut. Aku akan merebahkan orang-orang fasik dan akan melenyapkan manusia dari atas muka bumi, demikianlah firman TUHAN. Aku akan mengacungkan tangan-Ku terhadap Yehuda dan terhadap segenap penduduk Yerusalem.
Aku akan melenyapkan dari tempat ini sisa-sisa Baal dan nama para imam berhala, juga mereka yang sujud menyembah di atas sotoh kepada tentara langit dan mereka yang menyembah dengan bersumpah setia kepada TUHAN, namun di samping itu bersumpah demi Dewa Milkom, serta mereka yang berbalik dari pada TUHAN, yang tidak mencari TUHAN dan tidak menanyakan petunjuk-Nya.
Dapat kita saksikan dalam renungan edisi sebelumnya (Part 1), betapa murka Allah yang dahsyat dinyatakan dalam pesan-Nya kepada Nabi Zefanya, hingga ingin melakukan Undone (me-Reset ulang) segalanya di muka bumi. Bayangkan komputer yang sudah sekian lama kita pergunakan, sering sekali komputer ini ngadat, error, hang dsb. Akhirnya kita memutuskan untuk melakukan reset ulang semuanya, kembali ke setelan pabrik.
Dalam kaitan Penciptaan langit dan bumi, Allah menciptakan semuanya sempurna dan baik (Done), namun karena banyak sekali kesalahan dan dosa umat manusia yang menumpuk tinggi hingga berbau busuk ke hadapan Allah, maka perlu dilakukan suatu Reset ulang (Undone) semuanya. “Aku akan menyapu bersih segala-galanya dari atas muka bumi” adalah instruksi Allah untuk melakukan Undone itu.
Apa yang membuat Allah murka sedemikian dahsyatnya? Penyembahan Berhala!! Waspada terhadap 3 jenis kejahatan yang ditimpa Murka Allah:
- Sujud menyembah kepada sisa-sisa Baal dan tentara langit (Part 1)
- Bersumpah setia kepada TUHAN, namun di samping itu bersumpah demi Dewa Milkom
- Mereka yang berbalik dari pada TUHAN, yang tidak mencari TUHAN dan tidak menanyakan petunjuk-Nya.
Dalam Edisi sebelumnya poin 1, telah kita renungkan bersama, saat ini kita akan merenungkan poin 2.
2. Bersumpah setia kepada TUHAN, namun di samping itu bersumpah demi Dewa Milkom
Jenis kedua yang dimurkai Allah adalah orang yang bersumpah setia kepada TUHAN, namun di samping itu bersumpah demi Dewa Milkom.
Milkom adalah dewa nasional bani Amon, bangsa yang tinggal di sebelah timur Sungai Yordan, wilayah yang sekarang kira-kira berada di daerah Yordania modern. Dalam Alkitab, Milkom selalu muncul dalam konteks penyembahan berhala, kemerosotan rohani Israel, dan murka TUHAN terhadap sinkretisme — yaitu mencampur penyembahan kepada TUHAN dengan penyembahan kepada ilah-ilah asing.
Nama “Milkom” dalam Perjanjian Lama berasal dari bentuk Ibrani: מִלְכֹּם Transliterasi: Milkōm. Kata ini sangat mungkin berasal dari akar Semitik kuno: מלך Transliterasi: MLK / melek. Arti dasarnya adalah: “raja” atau “yang memerintah.” Akar kata ini sangat luas dipakai dalam bahasa-bahasa Semitik kuno: Ibrani (melek = raja), Fenisia (mlk), Ugarit (mlk), Arab (malik = raja), dan Aram (malkā). Karena itu banyak ahli menilai bahwa “Milkom” kemungkinan berarti: “Raja mereka”, “Raja ilahi”, atau “dia yang menjadi raja.”
Beberapa ahli teologia bahkan melihat bentuk “Milkom” sebagai gabungan mlk (raja) dengan gelar kepemilikan atau penghormatan bangsa Amon. Dengan kata lain, Milkom bukan sekadar nama pribadi dewa, tetapi bisa juga merupakan gelar ketuhanan kerajaan Amon.
Dr. Karel van der Toorn, Professor of Ancient Religions, University of Amsterdam, dalam: Dictionary of Deities and Demons in the Bible (2nd ed., Brill, 1999), menjelaskan bahwa Milkom kemungkinan besar adalah dewa negara resmi bani Amon dan berfungsi sebagai simbol identitas politik serta religius kerajaan Amon.
Dalam dunia Timur Dekat Kuno, hampir setiap bangsa memiliki “dewa nasional”: Moab → Kamos; Edom → Qaus; Fenisia → Baal; Amon → Milkom. Dewa nasional dianggap: pelindung kerajaan, pemberi kemenangan perang, penjaga tanah, dan sumber legitimasi raja. Karena itu nama Milkom sangat erat dengan konsep kekuasaan kerajaan. Menariknya, dalam beberapa prasasti arkeologi Amon kuno, nama Milkom muncul dalam nama-nama pribadi raja dan pejabat. Ini menunjukkan bahwa penyembahan Milkom memang sangat sentral dalam kehidupan bangsa Amon.
Contohnya ditemukan bentuk nama: “Abd-Milkom” artinya: “hamba Milkom.” Ini sama seperti nama Ibrani: “Obaja” = hamba Yahweh. Artinya bangsa Amon benar-benar memandang Milkom sebagai ilah tertinggi mereka.
Sekarang bagian yang paling menarik adalah hubungan Milkom dengan Molokh/Molekh. Dalam Alkitab, ada nama lain yang sangat mirip: מֹלֶךְ Transliterasi: Mōlekh / Molekh / Molokh. Kata ini juga berasal dari akar: מלך yaitu: MLK = raja. Karena akar katanya sama, sejak zaman kuno banyak orang menganggap Milkom dan Molekh adalah dewa yang sama. Namun para ahli modern cukup berhati-hati. Mari lihat penjelasannya.
Ada tiga pandangan besar:
1. Milkom dan Molekh adalah dewa yang sama.
Pandangan ini cukup tua dan pernah dominan. Alasannya: akar katanya sama, sama-sama terkait bangsa Amon, sama-sama dikaitkan dengan praktik keji, dan muncul dalam konteks penyembahan berhala yang serupa. Terjemahan Yunani Septuaginta kadang memperlakukan nama-nama ini secara bercampur. Beberapa rabi Yahudi kuno juga menganggap Milkom = Molekh.
2. Milkom dan Molekh adalah dewa berbeda tetapi masih satu tradisi agama.
Ini pandangan yang paling banyak diterima sarjana modern sekarang. Menurut pandangan ini: Milkom adalah dewa nasional resmi Amon, sedangkan Molekh lebih berkaitan dengan ritual tertentu, khususnya pengorbanan anak. Jadi: Milkom → “dewa kerajaan”; Molekh → “kultus pengorbanan”.
Dr. John Day, Professor of Old Testament, & Lady Margaret Hall, University of Oxford, dalam: Molech: A God of Human Sacrifice in the Old Testament (Cambridge University Press, 1989), menjelaskan bahwa Milkom and Molekh memang berkaitan dekat, tetapi bukti tekstual dan arkeologis menunjukkan keduanya kemungkinan tidak identik sepenuhnya.
3. “Molekh” bukan nama dewa, tetapi jenis persembahan.
Teori ini lebih modern dan cukup kompleks. Beberapa ahli berpikir bahwa “Molekh” sebenarnya bukan nama ilah, melainkan istilah ritual korban api. Karena dalam teks Ibrani kuno huruf hidup belum ditulis, maka “MLK” bisa dibaca melek, molekh, atau milkom tergantung vokalisasi kemudian. Sebagian ahli menduga para penyalin Yahudi sengaja memberi vokal tertentu untuk menghina praktik itu.
Ada juga hubungan menarik dengan penghinaan teologis dalam bahasa Ibrani. Kata “Molekh” kemungkinan sengaja diberi vokal dari kata: בֹּשֶׁת Transliterasi: bōsheth yang artinya: “kehinaan” atau “aib.” Jadi beberapa ahli menduga orang Yahudi sengaja mengubah pelafalan asli nama dewa itu sebagai bentuk penghinaan rohani. Hal seperti ini memang terjadi dalam Alkitab. Contohnya: “Ishbaal” diubah menjadi “Isyboset”; “Meribaal” menjadi “Mefiboset.” Kata “Baal” diganti dengan “boset” untuk menghina penyembahan Baal. Kemungkinan pola yang sama dipakai pada Molekh.
Tentang praktik ibadahnya, baik Milkom maupun Molekh sering dikaitkan dengan ritual yang sangat mengerikan, terutama: pengorbanan anak, ritual api, dan upacara ekstrem kesuburan.
Imamat 18:21
Janganlah kauserahkan seorang dari anak-anakmu untuk dipersembahkan kepada Molokh, supaya jangan engkau melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN.
Karena itu dalam tradisi Yahudi dan Kristen, Molekh/Molokh akhirnya menjadi simbol kekejaman agama kafir, penyembahan yang menghancurkan kehidupan, dan pemberontakan manusia terhadap Allah. Sedangkan Milkom dalam Alkitab lebih sering tampil sebagai lambang kompromi politik dan rohani Israel dengan bangsa-bangsa sekitar.
Keduanya akhirnya menjadi gambaran besar tentang bagaimana bangsa Israel tergoda meninggalkan kesetiaan murni kepada TUHAN demi kekuatan politik, budaya, dan agama dunia sekitarnya. Menurut arkeologi Timur Dekat Kuno, penemuan prasasti-prasasti Amon kuno menunjukkan bahwa Milkom dianggap pelindung kerajaan dan simbol kekuasaan politik bangsa Amon.
Dalam Alkitab, berbagai ayat yang menyinggung dewa berhala Milkom beserta penjelasan konteksnya:
1 Raja-raja 11:5
“Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon.”
Ayat ini muncul pada bagian paling tragis dalam kehidupan Raja Salomo. Di awal pemerintahannya, Salomo dikenal sebagai raja berhikmat yang mengasihi TUHAN. Namun pada masa tuanya, hatinya dibelokkan oleh istri-istri asingnya. Salomo tidak langsung meninggalkan TUHAN sepenuhnya, tetapi mulai mencampurkan penyembahan kepada TUHAN dengan ibadah kepada dewa-dewa bangsa lain (sinkretisme). Milkom disebut sebagai “dewa kejijikan” (Ibrani: detestable thing) untuk menunjukkan sesuatu yang najis secara rohani di hadapan Allah.
Dr. Walter Brueggemann, Professor Emeritus, Columbia Theological Seminary, dalam “First and Second Kings” (Smyth & Helwys Publishing, 2000), menjelaskan bahwa dosa Salomo bukan sekadar masalah pribadi, tetapi merupakan pengkhianatan perjanjian nasional Israel kepada TUHAN. Salomo bahkan membangun tempat ibadah berhala di sekitar Yerusalem, mengotori tanah kudus yang ia bangun Bait Allah di atasnya.
Yeremia 49:1
“Mengenai bani Amon. Beginilah firman TUHAN: ‘Tidak adakah anak Israel, tidak adakah ahli warisnya? Mengapakah dewa Milkom memiliki Gad, dan bangsanya mendiami kota-kotanya?’”
Pasal ini adalah nubuat penghukuman terhadap bani Amon. Wilayah Gad awalnya adalah milik suku Israel di sebelah timur Yordan. Namun bangsa Amon mendudukinya dan menganggap wilayah itu berada di bawah kuasa dewa mereka, Milkom. Kalimat “Milkom memiliki Gad” sangat ironis. TUHAN mempertanyakan bagaimana mungkin dewa kafir dianggap menguasai tanah warisan Allah. Di dunia kuno, ketika Amon menduduki Gad, mereka merasa Milkom lebih kuat daripada Allah Israel, namun Yeremia menyatakan semua itu hanya sementara.
Dr. J. A. Thompson, Professor of Old Testament, University of Melbourne, dalam “The Book of Jeremiah” (NICOT, Eerdmans, 1980), menjelaskan bahwa nubuat ini menyerang baik ambisi politik Amon maupun kesombongan religius mereka.
Yeremia 49:3
“Merataplah, hai Hesybon, sebab pembinasa telah maju menyerbu, berteriaklah, hai puteri-puteri Raba, kenakanlah kain kabung, berkabunglah, berjalan kelilinglah dengan luka toreh-torehan, sebab Milkom akan pergi ke dalam pembuangan bersama-sama dengan para imam dan pemuka-pemukanya.”
Ini adalah bukti ketidakberdayaan ilah palsu. TUHAN menyatakan patung-patung berhala Milkom akan diangkut sebagai rampasan perang oleh bangsa penakluk. Dalam budaya Timur Dekat Kuno, membawa patung dewa musuh adalah simbol penghinaan total terhadap bangsa yang dikalahkan. Ayat ini menjadi satire ilahi bahwa dewa pelindung pun tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.
Dr. John Bright, Professor of Hebrew and Old Testament, Union Theological Seminary, dalam “Jeremiah” (Anchor Bible, Doubleday, 1965), menjelaskan bahwa Yeremia sengaja menggambarkan Milkom sebagai tawanan perang untuk menunjukkan kebodohan penyembahan berhala yang harus diangkut oleh manusia.
2 Raja-raja 23:13
“Bukit-bukit pengorbanan yang ada di sebelah timur Yerusalem di sebelah selatan bukit Kebusukan dan yang didirikan oleh Salomo, raja Israel, untuk Asytoret, dewa kejijikan sembahan orang Sidon, dan untuk Kamos, dewa kejijikan sembahan Moab, dan untuk Milkom, dewa kekejian sembahan orang Amon, dinajiskan oleh raja.”
Ayat ini berbicara tentang reformasi besar Raja Yosia. Ratusan tahun setelah Salomo wafat, tempat berhala itu masih tegak berdiri di Yerusalem. Yosia menghancurkan dan menajiskan tempat-tempat itu. “Bukit Kebusukan” adalah julukan penghinaan untuk Bukit Zaitun tempat ibadah kafir berdiri.
Professor Richard D. Nelson, Professor of Old Testament, Southern Methodist University, dalam “First and Second Kings” (Interpretation Commentary, John Knox Press, 1987), mengatakan bahwa reformasi Yosia adalah usaha terakhir terbesar untuk memurnikan iman Israel sebelum pembuangan Babel. Ini membuktikan kompromi rohani seorang pemimpin dapat meninggalkan kerusakan lintas generasi.
1 Raja-raja 11:33
“Sebabnya ialah karena ia telah meninggalkan Aku dan sujud menyembah kepada Asytoret, dewi orang Sidon, kepada Kamos, allah orang Moab dan kepada Milkom, allah bani Amon, dan ia tidak hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dengan melakukan apa yang benar di mata-Ku dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan dan peraturan-Ku, seperti Daud, ayahnya.”
Ini penjelasan langsung dari TUHAN mengenai alasan kerajaan Salomo akan dipecah. Penyembahan Milkom mewakili runtuhnya batas kekudusan Israel karena meniru dunia sekitar. Israel dipanggil menjadi umat kudus yang eksklusif, tetapi Salomo membawa agama asing masuk.
Dr. Iain Provan, Professor of Biblical Studies, Regent College Vancouver, dalam “1 and 2 Kings” (Understanding the Bible Commentary Series, Baker Books, 1995), menjelaskan bahwa inti dosa Salomo adalah kegagalan menjaga kesetiaan eksklusif kepada TUHAN. Dalam teologi Perjanjian Lama, hati yang terbagi adalah bentuk ketidaksetiaan rohani.
From seluruh rangkaian ayat tentang Milkom, ada pola yang sangat jelas:
- Milkom selalu dikaitkan dengan kompromi rohani.
- Penyembahan Milkom muncul ketika umat Allah mulai meniru dunia sekitar.
- Alkitab menggambarkan Milkom sebagai dewa yang akhirnya tidak berdaya.
- TUHAN menunjukkan bahwa ilah-ilah bangsa tidak dapat menyelamatkan siapa pun.
Seluruh rangkaian ini menjadi peringatan besar dalam sejarah Israel: penyembahan yang bercampur (sinkretisme) akhirnya menghancurkan kesetiaan kepada Allah yang benar. Ini adalah wujud kemunafikan yang terjadi di dalam kehidupan seseorang yang sudah mengenal Allah. Tingkatan dosa ini lebih parah daripada orang yang sama sekali tidak mengenal Allah.
Raja-Raja Yehuda yang Benar tetapi Tidak Menghancurkan Bukit-Bukit Pengorbanan
Di dalam kitab Raja-raja dan Tawarikh terdapat beberapa raja Yehuda yang dinilai “melakukan apa yang benar di mata TUHAN”, tetapi mereka memiliki satu kelemahan yang terus diulang oleh penulis Alkitab, yaitu tidak menghancurkan bukit-bukit pengorbanan.
Bukit-bukit pengorbanan adalah tempat ibadah di luar Yerusalem. Pada awalnya sebagian tempat itu memang dipakai untuk menyembah TUHAN, tetapi lama-kelamaan bercampur dengan kebiasaan bangsa-bangsa kafir di sekitarnya. Karena itulah Tuhan sebenarnya menghendaki agar ibadah dipusatkan hanya di Yerusalem.
Menariknya, nasib akhir para raja itu berbeda-beda. Ada yang akhir hidupnya damai, ada yang tragis, ada pula yang mengalami hukuman langsung dari Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak menilai manusia hanya dari satu tindakan saja, tetapi juga melihat hati, kesombongan, pertobatan, dan respons seseorang terhadap teguran-Nya.
1. Raja Asa
Asa adalah salah satu raja Yehuda yang terkenal melakukan reformasi rohani besar-besaran. Ia menghancurkan banyak berhala dan mengajak bangsa itu kembali kepada Tuhan.
Namun Alkitab tetap mencatat:
“Sekalipun bukit-bukit pengorbanan tidak dijauhkan dari Israel, namun Asa berpaut kepada TUHAN dengan segenap hatinya seumur hidupnya.” (2 Tawarikh 15:17)
Pada akhir hidupnya, Asa mulai mengalami kemerosotan rohani. Ketika ditegur nabi Hanani, ia menjadi marah dan memasukkan nabi itu ke dalam penjara. Setelah itu ia menderita sakit pada kakinya.
Alkitab mencatat:
“Dalam kesakitannya itu pun ia tidak mencari TUHAN, tetapi tabib-tabib.” (2 Tawarikh 16:12)
Asa tetap dimakamkan dengan hormat sebagai raja besar Yehuda, tetapi akhir hidup rohaninya menunjukkan penurunan.
2. Raja Yosafat
Yosafat dikenal sebagai raja yang sungguh mencari Tuhan. Ia mengirim orang-orang Lewi untuk mengajarkan Taurat ke seluruh Yehuda dan membawa pembaruan rohani.
Namun tetap dicatat:
“Hanya bukit-bukit pengorbanan tidak dijauhkan.” (1 Raja-raja 22:44)
Kelemahan terbesar Yosafat adalah komprominya dengan keluarga Ahab yang jahat. Walaupun demikian, akhir hidupnya relatif damai. Ia tidak mengalami hukuman pribadi yang tragis seperti beberapa raja lain.
Hal ini menunjukkan bahwa kegagalannya lebih berupa ketidaktuntasan reformasi daripada pemberontakan aktif terhadap Tuhan.
3. Raja Yoas
Yoas memulai pemerintahannya dengan baik selama imam Yoyada masih hidup. Ia memperbaiki Bait Allah dan berjalan di jalan Tuhan.
Namun Alkitab tetap mencatat:
“Hanya bukit-bukit pengorbanan tidak dijauhkan.” (2 Raja-raja 12:3)
Sesudah imam Yoyada meninggal, Yoas berubah. Ia mulai mengikuti penyembahan berhala dan bahkan membunuh Zakharia anak Yoyada yang menegurnya.
Akhir hidupnya sangat tragis. Ia dibunuh oleh pegawainya sendiri dalam suatu persekongkolan.
4. Raja Amazia
Amazia juga disebut melakukan apa yang benar di mata TUHAN.
Namun tetap ada catatan:
“Hanya bukit-bukit pengorbanan tidak dijauhkan.” (2 Raja-raja 14:4)
Setelah menang melawan Edom, Amazia justru membawa pulang dewa-dewa bangsa Edom dan menyembahnya. Di sinilah terlihat perubahan hatinya.
Akhir hidupnya penuh kehinaan. Ia kalah perang secara memalukan dan akhirnya dibunuh dalam persekongkolan.
5. Raja Azarya atau Uzia
Uzia adalah raja yang sangat sukses secara militer dan ekonomi. Tuhan memberkatinya dengan luar biasa.
Namun Alkitab kembali mencatat:
“Hanya bukit-bukit pengorbanan tidak dijauhkan.” (2 Raja-raja 15:4)
Masalah terbesar Uzia muncul ketika ia menjadi sombong karena keberhasilannya. Ia masuk ke Bait Allah untuk membakar ukupan, sesuatu yang bukan hak seorang raja.
Seketika Tuhan menghukumnya dengan penyakit kusta sampai akhir hidupnya.
6. Raja Yotam
Yotam termasuk raja yang cukup stabil dan benar di mata Tuhan.
Namun lagi-lagi Alkitab berkata:
“Hanya bukit-bukit pengorbanan tidak dijauhkan.” (2 Raja-raja 15:35)
Menariknya, Alkitab justru mengatakan bahwa Yotam makin kuat karena hidupnya benar di hadapan Tuhan.
Walaupun demikian, pada zamannya Tuhan mulai mengizinkan ancaman dari bangsa-bangsa lain datang terhadap Yehuda.
Benang Merah dari Semua kisah Para Raja tersebut
Jika diperhatikan dengan teliti, masalah bukit-bukit pengorbanan sebenarnya bukan sekadar soal bangunan fisik. Itu adalah simbol kompromi rohani yang tidak pernah dibereskan sepenuhnya.
Ada raja yang hanya gagal membersihkan sistem lama secara total. Ada pula yang akhirnya jatuh lebih dalam ke dalam kesombongan dan penyembahan berhala. Karena itu hukuman mereka berbeda-beda.
Yosafat misalnya tetap mencari Tuhan dengan sungguh, walaupun reformasinya tidak tuntas. Sebaliknya, Amazia dan Uzia berubah menjadi sombong setelah diberkati Tuhan.
Di sinilah terlihat bahwa Tuhan tidak hanya melihat keberadaan dosa, tetapi juga sikap hati seseorang terhadap dosa itu.
Kompromi yang Dibiarkan Menjadi Warisan Generasi Berikutnya
Ada pola penting lain dalam kitab Raja-raja.
Kompromi dengan dosa yang tidak dibereskan akhirnya diwariskan kepada generasi berikutnya.
Asa membiarkan bukit pengorbanan. Yosafat juga membiarkannya. Setelah itu Yehuda masuk semakin dalam ke dalam kemerosotan rohani.
Demikian juga Uzia dan Yotam. Mereka tidak menghancurkan bukit pengorbanan, lalu generasi sesudahnya, yaitu Raja Ahas, jatuh ke dalam penyembahan berhala yang jauh lebih parah.
Artinya, kadang hukuman Tuhan tidak langsung terlihat pada generasi pertama. Tetapi kompromi kecil yang dibiarkan terus hidup dapat menjadi pintu kehancuran besar di masa depan.
Pandangan Para Penafsir Alkitab
Matthew Henry (1662–1714) dalam Commentary on the Whole Bible menjelaskan bahwa banyak orang saleh gagal membereskan kebiasaan dosa yang sudah terlalu mengakar dalam masyarakat.
Sedangkan C. F. Keil dan Franz Delitzsch dalam Biblical Commentary on the Old Testament: Kings menjelaskan bahwa sebagian bukit pengorbanan kemungkinan masih dipakai untuk menyembah TUHAN, tetapi tetap bertentangan dengan perintah Taurat yang memusatkan ibadah di Yerusalem.
Dari seluruh kisah para raja ini terlihat sebuah kebenaran rohani yang sangat mendalam: Tuhan memang dapat tetap memakai dan memberkati orang yang belum sempurna, tetapi dosa yang dibiarkan hidup tanpa pertobatan yang tuntas pada akhirnya hampir selalu berkembang menjadi akar kehancuran — baik bagi dirinya sendiri, keluarganya, maupun generasi-generasi sesudahnya.
Renungan buat kita, apakah kita masih lebih mengasihi sesuatu dibandingkan mengasihi Allah? Adakah kesenangan berdosa yang tidak bisa kita lepaskan dari keseharian kita. Bukan kebetulan firman TUHAN disampaikan kepada kita hari ini, bertobatlah dan berbaliklah dari jalan-jalan yang salah.
Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua.
“Sebab itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu:
percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,”
Kolose 3:5
Amin.
