Nahum 1, tentang “3 fakta utama mengapa Niniwe berkhianat terhadap Allah” Seri Nabi Kecil

Mari kita pelajari 3 fakta utama mengapa Niniwe berkhianat terhadap Allah, yang menyebabkan penghakiman Allah.

By Febrian 04 Mei 2026, 03.47 AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai 3 fakta utama mengapa Niniwe berkhianat terhadap Allah. Kiranya Tuhan memberikan kita hikmat dan pengertian untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.

3 fakta utama mengapa Niniwe berkhianat terhadap Allah

Nahum 1 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat

Sesuai yang telah kita baca dalam pengantar kitab Nahum Demi memahami hal tersebut, mari kita ikuti pembacaan ayat firman Tuhan:

Nahum 1:1–15

1 Ucapan ilahi tentang Niniwe. Kitab penglihatan Nahum, orang Elkosh.

TUHAN itu Allah yang cemburu dan pembalas, TUHAN itu pembalas dan penuh kehangatan murka, TUHAN itu pembalas kepada para lawan-Nya dan pendendam kepada para musuh-Nya. TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman. Ia berjalan dalam badai dan angin puting beliung, dan awan adalah debu kaki-Nya.

Ia menghardik laut, lalu mengeringkannya, dan semua sungai dibuat-Nya kering; Basan dan Karmel menjadi layu, dan kembang Libanon menjadi layu. Gunung-gunung goncang di hadapan-Nya, dan bukit-bukit menjadi cair; bumi terangkat di hadapan-Nya, dunia dan semua yang diam di dalamnya. Siapakah yang tahan berdiri di hadapan murka-Nya? Dan siapakah yang tahan menghadapi kepanasan amarah-Nya? Murka-Nya tercurah seperti api, dan gunung-gunung batu hancur oleh-Nya.

TUHAN itu baik, Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya. Tetapi dengan banjir yang melimpah Ia akan mengakhiri riwayat Niniwe, dan kegelapan akan mengejar musuh-musuh-Nya.

Apakah yang kamu rancangkan terhadap TUHAN? Ia akan mengakhiri semuanya; kesengsaraan tidak akan timbul dua kali! Sebab seperti semak duri yang berjalin-jalin dan seperti orang yang mabuk minumannya, mereka akan dimakan habis seperti jerami kering. Dari padamu telah keluar orang yang merancang kejahatan terhadap TUHAN, orang yang memberi nasihat dursila.

Beginilah firman TUHAN:

Sekalipun mereka utuh dan demikian banyaknya, namun mereka akan disabit dan lenyap; sekalipun Aku telah menindas engkau, Aku tidak akan lagi menindas engkau. Sekarang Aku akan mematahkan kuk yang ada padamu dan akan memutuskan belenggu-belenggumu.

Mengenai engkau, TUHAN telah memberi perintah:

Tidak akan ada lagi keturunanmu yang memakai namamu; dari rumah allahmu akan Kulenyapkan patung pahatan dan patung tuangan; Kubuat kuburanmu, sebab engkau hina. Lihatlah, di atas gunung-gunung kaki orang yang membawa kabar baik, yang memberitakan damai! Rayakanlah hari-hari rayamu, hai Yehuda, bayarlah nazarmu! Sebab tidak akan lagi orang dursila itu melintas melalui engkau, ia sudah dilenyapkan sama sekali!

Nabi Nahum dalam Nahum 1:1 memperkenalkan kitab ini sebagai “ucapan ilahi” (Ibrani: massa), yang berarti beban nubuat yang serius. Ini bukan sekadar pendapat pribadi dari nabi Nahum, tetapi pesan yang mengandung bobot dari penghakiman Allah.

Nahum 1:2–3 menekankan sifat Allah yang cemburu (qanna) dan pembalas (naqam). Dalam bahasa Ibrani, kata ini bukan emosi negatif, melainkan kesetiaan Allah terhadap perjanjian-Nya. Terjemahan TB sudah tepat, namun nuansa Ibrani menunjukkan bahwa pembalasan Allah adalah bagian dari keadilan-Nya, bukan kemarahan tanpa kendali.

Gleason L. Archer Jr., Ph.D. A Survey of Old Testament Introduction (Moody Press, 1994), Menjelaskan bahwa kecemburuan Allah adalah ekspresi kesetiaan terhadap umat-Nya dan penolakan terhadap kejahatan yang merusak hubungan perjanjian.

Nahum 1:4–6 menggambarkan kuasa Allah atas alam. Kata kerja Ibrani seperti “menghardik” menunjukkan otoritas mutlak. Terjemahan TB cukup kuat, tetapi dalam teks asli ada nuansa bahwa alam tunduk secara instan tanpa perlawanan.

Nahum 1:7 menjadi kontras penting. Kata “baik” (tov) dalam Ibrani juga berarti “bermanfaat” dan “setia”. Ini menunjukkan bahwa di tengah penghakiman, Allah tetap menjadi perlindungan bagi yang percaya.

Walter C. Kaiser Jr., Ph.D. The Minor Prophets: An Exegetical and Expository Commentary (Baker Academic, 1998) Menekankan bahwa Nahum tidak hanya berbicara tentang kehancuran, tetapi juga pengharapan bagi umat Allah yang setia.

Nahum 1:8–11 menunjukkan kepastian kehancuran Niniwe. Dalam Ibrani, gambaran “banjir” bukan hanya literal, tetapi simbol kehancuran total. TB menerjemahkan dengan baik, namun simbolismenya sering tidak disadari pembaca.

Nahum 1:12–14 adalah firman langsung Allah. Di sini terlihat keseimbangan antara penghukuman musuh dan pembebasan umat. Kata “mematahkan kuk” mengacu pada pembebasan dari penindasan politik dan rohani.

J. Alec Motyer, M.A. The Minor Prophets: An Expositional Commentary (InterVarsity Press, 1998) Menjelaskan bahwa penghakiman atas Niniwe sekaligus merupakan tindakan kasih Allah kepada umat-Nya yang tertindas.

Nahum 1:15 menutup dengan kabar baik. Frasa “kabar baik” (Ibrani: basar) menjadi akar konsep Injil. TB menerjemahkan dengan baik, tetapi makna teologisnya menunjuk pada pola keselamatan yang akan digenapi dalam Kristus.

Dalam memahami 3 fakta utama mengapa Niniwe berkhianat terhadap Allah, penting untuk melihat terlebih dahulu akar masalahnya. Mengapa Niniwe, yang pernah mengalami pertobatan besar pada zaman Yunus, justru kembali jatuh dan akhirnya dihukum Allah? Berikut tiga fakta utama yang menjelaskan hal tersebut.

1. Kesombongan setelah pemulihan

Setelah mengalami belas kasihan Allah pada zaman Yunus, Niniwe tidak mempertahankan kerendahan hati. Dalam sejarahnya, bangsa Asyur kembali menjadi kekuatan besar yang sombong dan merasa tidak tersentuh oleh hukuman. Kesombongan ini membuat mereka melupakan bahwa pemulihan yang mereka terima adalah anugerah, bukan kekuatan mereka sendiri.

Dalam kehidupan kita di masa kini, mungkin kita pun pernah mengalami kesulitan yang Allah izinkan kita alami, yaitu dengan tujuan agar kita menjadi orang yang rendah hati. Entah itu kesombongan, kebanggan diri, kepercayaan diri yang berlebih, tidak mau bergantung pada Allah melainkan pada manusia, percaya pada kekayaan dan harta benda, mengandalkan koneksi, angkuh dan kebendaan, tidak mau menolong orang yang tidak menguntungkan dirinya, egois dan mau menang sendiri dan lain sebagainya. Segala bentuk kesombongan itu sangat dibenci oleh Allah, hingga akhirnya Ia menghukum agar kita melepaskan seluruh bentuk kesombongan itu.

Setelah hukuman Allah kita sadari, kita bertobat dan berbalik dari sifat yang salah itu, kita mulai belajar merendahkan diri: menerima dihina orang lain, menerima dirugikan oleh orang lain, tidak mau memamerkan harta kita, tidak mau bersikap acuh tak acuh, mengutamakan orang lain, menolong orang susah, bersikap ramah dan murah hati kepada orang lain, memaklumi orang yang menyebalkan, tidak mengandalkan diri sendiri, melainkan Allah dan lain sikap yang dapat kita teladani dalam kehidupan Tuhan Yesus Kristus selama di dunia ini.

Hidup benar lepas dari kesombongan, tentu tidak akan pernah menyenangkan bagi kuasa kegelapan, mereka pasti akan berusaha keras dengan segala upaya untuk mengkondisikan kita akan kembali ke dalam keadaan yang semula, bahkan kembali ke keadaan yang lebih buruk daripada sebelumnya. Misalnya seseorang yang bertobat dari kesombongan untuk sering memamerkan hartanya, mulai hidup sederhana dan menerima tidak dikagumi oleh orang lain karena hartanya. Bisa jadi kuasa kegelapan akan memancingnya untuk melihat iklan, melihat promosi dan menerima telepon dari sales penjualan barang yang membuatnya goyah lagi. Tentu tidak disadarinya melihat barang itu sepertinya tidak berbahaya, namun itu adalah “pintu masuk” ke dalam kehidupan yang lama.

2. Kembali kepada karakter lamanya

Niniwe dikenal sebagai bangsa yang sangat kejam dalam peperangan. Setelah masa pertobatan berlalu, mereka kembali kepada karakter lamanya: menindas bangsa lain, melakukan kekerasan, dan menyebarkan ketakutan. Inilah yang membuat keadilan Tuhan atas Niniwe menjadi tidak terelakkan, karena kejahatan dilakukan secara terus-menerus tanpa penyesalan.

Seperti di atas, kuasa kegelapan tidak pernah berhenti berusaha mengubah seseorang yang meninggalkan kejahatan, untuk tidak sadar berbalik arah dan akhirnya kembali hidup dalam kondisi yang lebih jahat lagi dari semula. Itulah misi kuasa kegelapan yang sangat sering berhasil. Kelengahan dan ketidak pedulian, sangat mendukung terjadinya saat kita membuka “pintu masuk” bagi kuasa kegelapan untuk masuk dan merusak kebaikan yang sudah disusun selama ini.

Misalnya: seorang anak remaja yang biasa membully temannya. Kemudian dimungkinkan Allah bisa mengalami pertobatan dari kejahatannya. Ia mulai berubah jadi orang yang menyenangkan dan berbeda jauh daripada kehidupannya yang sebelumnya. Namun, ternyata kuasa kegelapan itu jauh lebih paham dan ia memiliki database serangan yang sangat besar, sehingga jika “pintu masuk” dosa dibuka, maka ia dapat dengan mudah mengacaukannya.

Apa pintu masuknya? Anak tersebut yang sudah rendah hati dan baik hati, menghadapi penyiksaan di dalam rumah tangganya, misalnya ayah yang sudah main tangan, ibu yang sering memarahi, kakak yang menindasnya, akhirnya ia merasa bahwa pertobatannya ‘keliru’ dan ia merasa salah mengambil keputusan. Ia menjadi geram dan kesal atas keputusan salah yang ia ambil. Jadi keputusannya adalah kembali ke dalam sifat lamanya, bahkan kuasa kegelapan memperlengkapinya dengan kecanggihan dan keberanian yang luar biasa, hingga ia jauh lebih jahat dan kejam dari sebelumnya. Alur seperti itulah yang mungkin juga dialami oleh bangsa Niniwe setelah pertobatan mereka.

3. Mengabaikan peringatan Allah

Allah tidak pernah langsung menghukum tanpa peringatan. Niniwe sudah pernah diperingatkan melalui nabi Yunus, namun generasi berikutnya mengabaikan pelajaran tersebut. Mereka hidup seolah-olah Allah tidak akan bertindak, hingga mengabaikan peringatan Allah. Sikap inilah yang akhirnya membawa mereka kepada penghakiman yang dinyatakan dalam kitab Nahum.

Sifat Allah Yang Maha Kasih dapat kita kenali dalam pribadi Tuhan Yesus Kristus selama hidup-Nya di dunia. Bahwa Tuhan Yesus datang ke dunia untuk mencari ‘orang sakit’ bukan orang sehat. Tujuan dan Misi Tuhan Yesus di bumi ini adalah supaya setiap orang dilahirkan kembali menjadi ciptaan yang baru, bukan tiruan atau duplikasi yang lama. Kita diubahkan kita diperbaharui dan dibenarkan menurut firman Allah.

Mari kita ingat bersama, peristiwa di kala Tuhan Yesus memperingatkan Petrus yang akan menyangkalnya. Sebelumnya Petrus menyatakan, bahwa jika semua murid yang lain mengkhianati Tuhan Yesus, maka dirinya seorang lah yang tidak akan. Namun, pada akhirnya “pintu masuk” Petrus bobol, karena ia mengabaikan peringatan Tuhan Yesus. Untungnya  pada akhir kisah, Petrus kembali bertobat dan dijadikan Tuhan Yesus sebagai gembala umat-Nya.

Itu mirip terjadi juga pada kehidupan Yudas Iskariot, murid Tuhan Yesus yang dipercaya memegang uang pelayanan, sudah diberi peringatan juga oleh-Nya, di mana ia mengkhianati Tuhan Yesus demi 30 keping uang perak. Yudas Iskariot mengabaikan peringatan Tuhan Yesus, ia lebih mendengarkan dirinya sendiri dan perkataan dari kuasa kegelapan. Namun berbeda dengan Petrus, secara tragis Yudas bukannya bertobat kepada Allah, sebaliknya ia membunuh dirinya sendiri. Misi kuasa kegelapan tercapai.

Demikianlah bangsa Niniwe pada akhirnya gagal diselamatkan dari maut, karena mengabaikan peringatan yang diberikan Allah baginya.

Dari 3 fakta utama mengapa Niniwe berkhianat terhadap Allah, kita ketahui bahwa kejatuhan Niniwe bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang penolakan terhadap anugerah Allah 

Jadi secara keseluruhan isi Nahum 1 menunjukkan bahwa keadilan Tuhan bukanlah ancaman kosong, melainkan kepastian yang akan digenapi pada waktunya. Allah tidak tergesa-gesa menghukum, tetapi juga tidak membiarkan kejahatan tanpa batas. Di satu sisi, Ia membinasakan Niniwe sebagai simbol kejahatan yang terus-menerus menolak pertobatan. Di sisi lain, Ia menjadi tempat perlindungan yang aman bagi umat yang percaya kepada-Nya. Pesan ini menguatkan bahwa dalam kehidupan, kejahatan mungkin tampak berkuasa untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya keadilan Tuhan akan berdiri tegak, dan orang yang berlindung kepada-Nya tidak akan dipermalukan.

Kiranya Tuhan Yesus memberkati.

“TUHAN adalah adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya.”

Mazmur 145:17

Amin.