Belajar memahami kasih Allah

Yunus 4 tentang “Belajar memahami kasih Allah” seri Nabi Kecil

By Febrian 22 April 2025 03:19AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i terkasih dalam Kristus Yesus. Hari ini kita akan merenungkan bersama mengenai bagaimana Yunus belajar memahami kasih Allah kepada semua bangsa di dunia.

Semoga kita diberi hikmat dan pengetahuan oleh TUHAN, sehingga kita bisa memahami makna dan pesan-Nya bagi kita. Tuhan Yesus memberkati.

Belajar memahami kasih Allah

Firman Tuhan dapat kita bagi menjadi beberapa pokok pikiran utama, sebagai berikut:

1. Yunus Kesal karena pertobatan bangsa Niniwe yang jahat

Yunus 3:10

10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.

Yunus 4

4:1 Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. 

Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya:

“Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.” 

Kevin J. Youngblood dalam komentarnya Jonah: Hearing the Word of God (2013) menjelaskan bahwa kemarahan Yunus di pasal 4:2 merupakan bentuk “ironi doktrinal.” Yunus mengutip pengakuan iman Israel yang paling mendasar (dari Keluaran 34:6) bukan untuk memuji Tuhan, melainkan untuk menggugat-Nya.

“Yunus mengakui atribut kasih setia Allah (חֶסֶד = hesed = kasih setia Allah yang berdasar pada perjanjian, di mana Ia memilih untuk tetap berkomitmen, murah hati, dan penuh belas kasihan kepada manusia melampaui apa yang layak mereka terima.), namun ia menolaknya karena atribut itu diberikan kepada musuh nasional Israel. Baginya, keadilan Allah seharusnya lebih utama daripada belas kasihan-Nya ketika berhadapan dengan bangsa kafir.”

John Calvin dalam Commentary on Jonah (1559) menelaah konsep Allah yang “menyesal.” Kata asli yang digunakan adalah nacham (נָחַם). Secara sederhana, kata ini berarti merasa kasihan atau berubah pikiran. Dalam kisah Yunus, ini bukan berarti Allah melakukan kesalahan lalu menyesal, melainkan Allah membatalkan hukuman karena Ia melihat manusia sudah berubah. Jadi, “menyesal” di sini menggambarkan kasih Allah yang lebih memilih untuk memberikan pengampunan daripada mendatangkan bencana saat melihat orang bertobat.

Calvin menekankan bahwa secara eksegetis, Allah tidak berubah dalam rencana-Nya, melainkan menyesuaikan tindakan-Nya dengan perubahan sikap manusia.

“Allah dikatakan ‘menyesal’ menurut kapasitas pemahaman manusia. Secara substansial, kehendak-Nya tetap: Ia menghukum yang berdosa dan mengampuni yang bertobat. Perubahan itu ada pada manusia (Niniwe), bukan pada esensi Allah.”

Timothy Keller dalam bukunya The Prodigal Prophet: Jonah and the Mystery of God’s Mercy (2018) menyoroti bahwa masalah utama Yunus adalah ia menginginkan kasih karunia untuk dirinya sendiri, tetapi menginginkan keadilan hukum untuk orang lain.

“Yunus marah karena Tuhan memperlakukan Niniwe dengan cara yang sama seperti Tuhan memperlakukan Israel. Ini adalah ‘skandal kasih karunia’. Yunus merasa bahwa identitas moral dan nasionalnya terancam jika orang-orang yang ia anggap ‘tidak layak’ menerima kebaikan yang sama.”

Leslie C. Allen dalam The Books of Joel, Obadiah, Jonah, and Micah (1976) mencatat kemiripan antara permintaan mati Yunus (4:3) dengan Nabi Elia (1 Raja-raja 19). Namun, Allen memberikan pembedaan tajam:

“Elia ingin mati karena merasa gagal dalam pelayanannya demi kemuliaan Allah. Sebaliknya, Yunus ingin mati karena Allah dianggap ‘terlalu berhasil’ dalam menunjukkan belas kasihan. Yunus memandang kematian sebagai pelarian dari dunia di mana Allah tidak memenuhi ekspektasi teologisnya yang sempit.”

Kisah Yunus mengingatkan kita agar tidak menjadi orang yang sombong atau merasa paling suci sehingga kita mengatur-ngatur siapa yang pantas dikasihi Tuhan. Kita harus menghindari sikap Yunus yang marah saat melihat orang yang dianggap jahat justru diampuni, karena menurut Timothy Keller, kebaikan Tuhan itu memang sering kali tidak masuk akal bagi manusia namun tetap nyata bagi siapa saja yang mau berubah. Melalui ajaran Kevin Youngblood, kita diingatkan supaya jangan menggunakan nama Tuhan atau agama hanya untuk membenci orang lain, tetapi sebaliknya harus mencontoh sifat Tuhan yang setia. Seperti kata John Calvin, saat dikatakan Tuhan “menyesal”, itu artinya Tuhan sangat murah hati dan mau membatalkan hukuman jika manusia mau mengakui kesalahannya. Kita juga perlu belajar dari nasihat Leslie Allen agar tidak kecewa atau putus asa saat rencana Tuhan berbeda dengan keinginan kita. Intinya, kita diajak untuk ikut senang jika ada orang lain yang mendapat kebaikan dari Tuhan dan tidak membeda-bedakan sesama manusia hanya karena latar belakangnya.

2. Yunus akhirnya belajar memahami kasih Allah

Tetapi firman TUHAN:

“Layakkah engkau marah?” 

Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu.

Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu. 

Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu. Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” 

Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus:

“Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?”

Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.”

Lalu Allah berfirman:

“Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. 4:11 Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”

Bagian terakhir dari kitab Yunus ini memperlihatkan bagaimana Tuhan mendidik nabi-Nya yang sedang marah dengan menggunakan sebuah pohon jarak dan seekor ulat. Berikut adalah ulasan dari para teolog mengenai percakapan mendalam ini:

Timothy Keller dalam bukunya The Prodigal Prophet (2018) menyoroti bagaimana Yunus bisa merasa sangat senang saat mendapat fasilitas dari Tuhan (pohon jarak), namun marah besar saat fasilitas itu diambil. Keller menjelaskan bahwa Yunus mengalami masalah hati yang serius:

ia lebih mencintai kenyamanan dirinya sendiri daripada keselamatan nyawa ribuan orang di Niniwe. Hal ini menjadi peringatan bagi kita bahwa sering kali kita lebih peduli pada hal-hal kecil yang menguntungkan kita daripada rencana besar Tuhan untuk menolong sesama.

John Calvin dalam Commentary on Jonah (1559) membahas tentang kata “penentuan Allah” yang muncul berulang kali (pohon jarak, ulat, dan angin timur).

Tuhan sedang menunjukkan bahwa Ia berdaulat atas segala ciptaan. Tuhan ingin Yunus sadar bahwa jika Tuhan berkuasa menumbuhkan dan mematikan sebatang pohon, maka Tuhan jauh lebih berhak untuk memutuskan siapa yang layak Ia sayangi dan ampuni. Tuhan sedang mengajar Yunus untuk berhenti menjadi “hakim” atas keputusan Tuhan.

Kevin J. Youngblood dalam Jonah: Hearing the Word of God (2013) menekankan sindiran Tuhan kepada Yunus di ayat 10-11. Youngblood mencatat bahwa Yunus merasa “sayang” pada pohon yang tumbuh tanpa keringatnya, namun ia sama sekali tidak punya rasa sayang pada bangsa Niniwe.

Tuhan sedang mempermalukan logika Yunus yang sangat sempit. Tuhan ingin menunjukkan bahwa jika hal yang sederhana saja bisa membuat manusia merasa sayang, apalagi Tuhan yang menciptakan manusia dengan tangan-Nya sendiri.

Leslie C. Allen dalam The Books of Joel, Obadiah, Jonah, and Micah (1976) memperhatikan bahwa kitab ini berakhir dengan sebuah pertanyaan dari Tuhan tanpa ada jawaban dari Yunus.

Kita diajak untuk tidak menjadi seperti Yunus yang menutup hati, melainkan belajar memiliki hati yang selaras dengan Tuhan, yaitu hati yang penuh kasih kepada orang-orang yang tersesat.


Kisah ini mengingatkan kita agar jangan sampai kita lebih mencintai “pohon jarak” di hidup kita—seperti harta, kedudukan, atau kenyamanan pribadi—daripada peduli pada keselamatan orang lain. Sesuai pemikiran para teolog di atas, kita harus menghindari sikap yang suka membatasi kasih Tuhan hanya untuk kelompok kita saja. Sebaliknya, kita diajak meneladani hati Tuhan yang sangat luas, yang tetap memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk bertobat, bahkan bagi mereka yang kita anggap tidak layak sekalipun. Jangan sampai kemarahan atau kebencian kita membuat kita lupa bahwa setiap manusia adalah ciptaan yang berharga di mata Tuhan.

Jadi secara keseluruhan, hari ini kita diajar, bahwa kasih Tuhan jauh lebih besar daripada batas pikiran dan rasa benci manusia. Melalui peristiwa pohon jarak, Tuhan menunjukkan betapa seringnya kita lebih peduli pada kenyamanan diri sendiri atau benda-benda di sekitar kita daripada nyawa sesama manusia.

Sesuai pandangan para teolog terkemuka yang telah kita baca di atas, maka kita diingatkan bahwa Tuhan berhak memberikan belas kasihan kepada siapa pun, termasuk orang yang kita anggap sebagai musuh atau orang jahat sekalipun. Kita tidak boleh menjadi sombong dengan merasa paling benar atau menggunakan agama untuk memusuhi kelompok lain seperti yang diperingatkan. Sebaliknya, kita diajak untuk membuang rasa iri hati dan kekecewaan saat Tuhan menolong orang lain, lalu mulai belajar memiliki hati yang penuh kasih kepada semua ciptaan tanpa memandang latar belakang mereka.

Akhir kisah ini meninggalkan pesan penting bagi kita untuk berhenti menghakimi dan mulai memandang setiap orang sebagai pribadi yang berharga dan layak menerima kesempatan untuk berubah di mata Tuhan.

Kiranya Tuhan Yesus memberkati.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Yeremia 29:11
Amin.