Misi Kerajaan Allah terlaksana

Yunus 3 tentang “Misi Kerajaan Allah terlaksana” seri Nabi Kecil

By Febrian 21 April 2025 05:45AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i terkasih dalam Kristus Yesus. Hari ini kita akan merenungkan bersama mengenai bagaimana Yunus akhirnya membuat Misi Kerajaan Allah terlaksana dengan baik, sehingga Allah mengurungkan niat-Nya menghukum Niniwe.

Semoga kita diberi hikmat dan pengetahuan oleh TUHAN, sehingga kita bisa memahami makna dan pesan-Nya bagi kita. Tuhan Yesus memberkati.

Misi Kerajaan Allah terlaksana

1. Nabi Yunus Melaksanakan Perintah Allah

Yunus 3:1-3

3:1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian:  “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.” Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah.

Dari ayat bacaan di atas, dapat melihat bahwa akhirnya Nabi Yunus pergi ke Niniwe sesuai dengan firman Allah. Progress dari pelaksanaan Misi Kerajaan Allah akhirnya berjalan kembali. 

Saya sebetulnya sempat berpikir begini, “Nabi Yunus melanggar perintah Allah dan dihukum, kenapa tidak langsung diganti saja, supaya progress Misi Kerajaan Allah tidak tertunda? Kan masih banyak orang lain yang bisa dijadikan Nabi Allah? Kenapa Yunus diberi kesempatan? Kan menghabiskan waktu saja…?” Yah, beginilah saya, dan mungkin juga ada orang lain, yang berpikiran dangkal dan sempit, yaitu hanya berfokus pada satu hal, yaitu keberhasilan, keuntungan, kelancaran, ketepatan waktu. Namun, saya lupa bahwa Allah itu Multidimensional, Ia melihat dari sudut pandang yang sama sekali berbeda dimensi. 

Yesaya 55:9

Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

Yesaya 42:3

Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.

Sudah saatnya, kita belajar memandang segala sesuatu dari sudut pandang Allah, demi memahami apa Misi Kerajaan Allah yang kita dapatkan dari Allah. Dari mana atau bagaimana kita bisa belajar hal itu? Dari segala firman yang diucapkan-Nya, baik melalui Alkitab langsung, mendengarkan khotbah hamba Tuhan, membaca tulisan Para Teolog, ambil bagian dalam kegiatan pelayanan kepada Tuhan, serta belajar dari pengalaman pribadi bersama Allah dalam keseharian.

2. Nabi Yunus Melaksanakan Perintah Allah

3:3b Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.” 

3:5 Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu.

3:7 Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian:

“Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.”

3:10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.

Done, Mission Accomplished!! Misi Kerajaan Allah terlaksana dengan sempurna. Dari kisah di atas, kejahatan manusia dapat dikalahkan dengan kesabaran Allah. Kasih dan Setia-Nya itulah yang mengalahkan segala kejahatan dan kesalahan bangsa Niniwe. Padahal jika kita mundur sejenak mengenai kejahatan yang dilakukan oleh bangsa Asyur di Niniwe sebagai berikut:

Catatan sejarah kuno dan temuan arkeologi mengungkapkan bahwa murka Allah terhadap Niniwe didasari oleh tindakan kekejaman yang sangat ekstrem. Sebagai ibu kota kekaisaran Asyur, Niniwe dikenal dunia bukan karena kebaikannya, melainkan karena sistem militer yang sangat brutal. Mereka bukan sekadar mengalahkan musuh dalam perang, tetapi dengan sengaja melakukan penyiksaan massal yang sadis untuk menyebarkan ketakutan. Bukti nyata pada relief batu di istana-istana mereka menunjukkan bagaimana tawanan perang dikuliti hidup-hidup atau disula sebagai tontonan umum. Kekejaman yang melampaui batas kemanusiaan inilah yang menjadi alasan utama mengapa kota ini disebut dalam Alkitab sebagai kota penumpah darah.

1. Penindasan dan Perampasan Kekayaan Bangsa Lain
Kejahatan kedua yang sangat menonjol adalah praktik ekonomi yang bersifat parasit. Niniwe membangun kemegahan dan kemewahannya dengan cara merampas harta benda dari bangsa-bangsa di sekitarnya. Mereka memaksakan pajak atau upeti yang sangat berat kepada negara jajahan. Jika ada yang tidak mampu membayar, tentara Niniwe akan datang untuk meratakan kota tersebut dan mengambil paksa segala asetnya. Kemakmuran mereka berdiri di atas penderitaan dan kemiskinan orang lain, sebuah bentuk ketidakadilan sosial yang sangat besar di mata Tuhan.

2. Tipu Muslihat dan Politik yang Korup
Selain kekuatan militer, Niniwe juga menggunakan kelicikan dalam diplomasinya. Dalam catatan para teolog dan sejarawan, mereka sering kali menjebak bangsa lain dengan janji perlindungan atau persahabatan, namun pada akhirnya justru menghancurkan identitas dan kebebasan bangsa tersebut. Praktik ini sering digambarkan seperti “sihir” atau “persundalan” karena sifatnya yang memikat namun mematikan. Mereka menjual bangsa-bangsa demi keuntungan politik dan kekuasaan absolut tanpa mempedulikan kebenaran atau janji yang telah dibuat.

3. Kesombongan yang Menentang Kedaulatan Tuhan
Hal terakhir yang memicu hukuman bagi Niniwe adalah kesombongan rohani mereka yang luar biasa. Raja-raja Niniwe merasa bahwa kekuatan militer mereka tidak tertandingi oleh siapapun, bahkan oleh Tuhan sekalipun. Dalam berbagai prasasti kuno yang ditemukan, mereka sering sesumbar bahwa tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan mereka. Sikap angkuh yang menganggap diri sebagai pusat segalanya dan meremehkan nilai kehidupan manusia inilah yang membuat keputusan pengadilan Tuhan menjadi bulat: kota itu akan ditunggangbalikkan jika tidak ada pertobatan dalam waktu 40 hari.

Seluruh fakta ini menunjukkan bahwa pesan yang dibawa Nabi Yunus bukanlah sebuah gertakan tanpa alasan, melainkan sebuah respons adil atas sistem kehidupan yang sangat rusak dan penuh dengan penindasan di kota Niniwe pada waktu itu.

Jadi kesimpulannya, Allah sangat menentang kejahatan dan kekejaman di mana pun, namun Allah juga Maha Kasih dan tidak menghendaki kebinasaan orang fasik, coba lihat ayat berikut ini:

Yehezkiel 18:23

Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?

Ini yang saya katakan di awal, Allah melihat dari pandangan Multidimensional, yang tidak terselami oleh manusia. Namun, kita sebagai hamba-hamba-Nya, harus belajar memahami seperti apa karakter, sifat dan kehendak Allah dalam kehidupan ini. Jadi, jika di antara kita masih ada yang melalui firman TUHAN ini menyadari akan segala kesalahan dan dosanya, maka segeralah berlutut dan memohon belas kasihan Allah untuk menganugerahkan pengampunan dan keselamatan-Nya.

Kiranya Tuhan Yesus memberkati.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Yeremia 29:11

Amin.