Something Different Ps. Lawrence Eddy IFGF Bekasi

  1. By Ps. Lawrence Eddy IFGF Bekasi

19 April 2026

Something Different

Kejadian 16 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat.

Allah berjanji keturunan Abram akan banyak seperti pasir diaut dan bintang di langit. Abram percaya itu kepada Allah dan menceritakan kepada Sarai istrinya.

Sarai yang sudah tua, meragukan janji Allah bahwa ia akan melahirkan anak lagi. Jadi menurutnya mungkin Allah memberikan keturunan melalui budaknya yang bernama Hagar. Jadi sistem Surrogate Mother atau melahirkan anak untuk orang lain, di zaman Abram adalah hal yang lumrah. Namun sesungguhnya, Janji Allah dalam Kejadian 15, bukan melewati Hagar melainkan melalui Istrinya yaitu Sarah.

Mungkin dalam hati Abram memang percaya 100% kepada janji Allah, namun akhirnya ia ragu juga setelah melihat sikap dan kondisi Sara yang sudah sangat tua dan mati haid. Mustahil menurut manusia, jadi akhirnya logikanya yang menang. Ini kunci kesalahan yang terjadi. Akhirnya Hagar yang hamil itu, menjadi besar kepala karena merasa nyonya nya mandul sedangkan ia hamil dari Abram.

Inilah sumber malapetaka sepanjang sejarah bangsa Israel sepanjang masa. Ketidakpatuhan akan perintah Allah didahului oleh keraguan akan janji Allah yang tidak masuk akal.

Sarai kemudian menindas Hagar hingga ia melarikan diri, namun indahnya kasih Allah, Ia datang langsung sebagai Malaikat kepada Hagar yang bersedih karena kelaparan dan hampir mati. Ia diminta kembali kepads nyonyanya walaupun ia akan ditindas. Keturunannya juga akan banyak. Nama anaknya, Ismael pun dinamai oleh Allah sendiri.

Hagar diminta merendahkan diri untuk ditindas di bawah majikannya.

Bahasa aslinya ‘ditindas’ adalah ‘anah (עָנָה).

Berikut adalah rincian mengenai istilah tersebut: merendahkan, menindas, menyiksa, atau memaksa tunduk.

Konteks Kejadian 16:6: Ketika Sarai memperlakukan Hagar dengan kejam, kata yang digunakan adalah watte’anneha (וַתְּעַנֶּהָ) dari akar kata ‘anah.

Konteks Kejadian 16:9: Ketika Malaikat Tuhan memerintahkan Hagar kembali dan “merendahkan diri/tunduk”, kata yang digunakan adalah vehit’ani (וְהִתְעַנִּי), yang berasal dari akar kata yang sama, ‘anah, dalam bentuk Hithpael (bentuk perintah/imperatif untuk merendahkan diri sendiri).

Makna Penindasan dalam Kisah Ini:

Sarai memperlakukan Hagar dengan sangat keras, kemungkinan dengan memberikan beban kerja fisik yang berat atau perlakuan verbal yang kasar karena Hagar sombong setelah hamil. Malaikat menyuruh Hagar kembali bukan untuk disiksa tanpa alasan, tetapi untuk menundukkan diri (merendahkan hati) di bawah otoritas nyonyanya (Sarai).

Menariknya, kata ‘anah ini juga digunakan untuk menggambarkan perbudakan bangsa Israel di Mesir (Kej. 15:13), yang menunjukkan betapa beratnya perlakuan Sarai terhadap Hagar.

Ini berlaku juga untuk kita di zaman sekarang ini. Bisa jadi sekarang kita sedang berada dalam posisi yang merasa ditindas. Mungkin kalau di kantor, kita diperlakukan atasan tidak adil, tidak fair. Kita mungkin mau resign. Tapi saat ini Allah mungkin sedang mengajar kita untuk merendahkan diri dalam menjalani masalah yang kita jalani.

Segala sesuatu terjadi mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Namun, bisa jadi inilah proses dari Allah mengajar kita untuk merendahkan diri agar bisa survive untuk suatu hari dipulihkan sesuai kehendak-Nya.

Hagar kembali ke majikannya, dan mendapat suatu pemahaman baru tentang “Siapa Tuhan dan siapa dirinya di hadapan Allah.”

Ketika nilai diri kita asalnya dari penilaian Allah, maka penilaian dari manusia, tidak lagi penting.

Tuhan Yesus memberkati.

Amin.