Shaloom Bapak Ibu Saudara/i terkasih dalam Kristus Yesus. Hari ini kita akan merenungkan bersama mengenai penyesalan Nabi Yunus yang disampaikan kepada TUHAN, Allahnya dalam doa di perut ikan. Semoga kita bisa diberi hikmat dan pengetahuan oleh TUHAN, sehingga kita bisa memahami makna dan pesan-Nya bagi kita. Tuhan Yesus memberkati.
“Doa Yunus di perut ikan”
Yunus 2:1-10
2:1 Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu, katanya:
“Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.
Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku. Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?
Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku.
Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus. Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia. Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar.
Keselamatan adalah dari TUHAN!”
2:10 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.
Kitab Yunus pasal 2 merupakan sebuah mazmur syukur yang lahir dari kedalaman penderitaan yang luar biasa. Secara eksegetis, doa ini bukan sekadar permintaan tolong, melainkan pengakuan iman di tengah penghakiman.
Dr. Leslie C. Allen, seorang teolog dan Profesor Perjanjian Lama dalam bukunya The Books of Joel, Obadiah, Jonah, and Micah (1976), menjelaskan bahwa doa Yunus mencerminkan struktur “Mazmur Ucapan Syukur Individu” di mana seseorang yang telah diselamatkan menoleh ke belakang untuk mengingat krisis yang baru saja dilaluinya. Yunus mengakui bahwa ketika ia berseru dari “perut dunia orang mati,” TUHAN mendengar suaranya (Yunus 2:2-3). Ilustrasi sederhana mengenai hal ini adalah seperti seseorang yang tenggelam di kegelapan malam namun tiba-tiba melihat seberkas cahaya mercusuar; Yunus menemukan bahwa kasih setia Tuhan melampaui batas geografis dan kedalaman samudera. Krisis yang dialami Yunus digambarkan dengan sangat dramatis melalui metafora alam, di mana ia merasa dilemparkan ke tempat yang paling dalam dan dikelilingi oleh arus air (ayat 4).
Dr. Hans Walter Wolff dalam ulasannya Obadiah and Jonah: A Commentary (1986) menekankan bahwa pengalaman Yunus terjepit di antara “gelora dan ombak” merupakan gambaran teologis tentang hukuman ilahi sekaligus perlindungan-Nya. Yunus menyadari bahwa meskipun ia diusir dari hadapan mata Tuhan, ia tetap mengarahkan pandangannya ke arah bait-Nya yang kudus (Yunus 2:5). Hal ini mengajarkan kita bahwa dalam titik terendah kehidupan sekalipun, satu-satunya jangkar yang dapat menahan jiwa manusia adalah ingatan akan kekudusan dan janji Tuhan. Puncak dari renungan ini terletak pada penyerahan diri total Yunus saat nyawanya terancam dan ia teringat akan TUHAN (Yunus 2:7-8). Yunus menyadari kesia-siaan berhala dan kepalsuan yang sempat ia ikuti ketika mencoba melarikan diri dari panggilan-Nya.
Dr. Douglas Stuart dalam bukunya Word Biblical Commentary Vol. 31: Hosea-Jonah (1987) menguraikan bahwa pernyataan “Keselamatan adalah dari TUHAN” di ayat 10 adalah inti dari seluruh teologi Kitab Yunus. Yunus belajar bahwa keselamatan bukanlah hasil dari usaha atau pelariannya, melainkan murni anugerah (grace) yang datang ketika manusia berhenti mengandalkan dirinya sendiri. Penutup dari pasal ini menunjukkan kedaulatan Tuhan yang memerintahkan ikan itu untuk memuntahkan Yunus ke darat, membuktikan bahwa alam semesta tunduk pada firman-Nya demi menjalankan misi keselamatan bagi manusia (Yunus 2:10).
Dari seluruh Yunus 2 ini, dapat kita ambil pelajaran, bahwa seseorang bisa saja dalam keadaan yang mengerikan, menakutkan, menyedihkan, dalam tekanan, namun wajib menyadari bahwa dirinya akan tetap selamat jika bertobat dan merendahkan diri di hadapan Allah, serta memohon pertolongan dari Allah.
Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!
Wahyu 3:19


