Misi Allah dalam kehidupan kita

Yunus 1 Part 2 tentang “Misi Kerajaan Allah dalam kehidupan kita” seri Nabi Kecil

By Febrian 17 April 2026

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan ini, kita akan merenungkan bersama mengenai Misi Kerajaan Allah dalam kehidupan kita. Kiranya Allah memberikan kita hikmat dan pengetahuan-Nya agar kita dapat memahami pesan yang disampaikan-Nya.

Tuhan Yesus memberkati.

Misi Kerajaan Allah dalam kehidupan kita

Yunus 1 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat

1. Nahkoda dan awak kapal membuang undi

Yunus 1:6-17

6 Datanglah nakhoda mendapatkannya sambil berkata:

“Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa.”

Dalam ayat sebelumnya, yaitu dalam Yunus 1:1:5 Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. berarti hanya nabi Yunus yang berbeda, dan ini sungguh mengesalkan bagi yang lain. Kondisi laut sedang sangat membahayakan, badai besar mengamuk, namun Yunus tertidur nyenyak. Bagaimana itu bisa terjadi? Bisa saja penyebabnya adalah, antara Yunus lelah berlari menghindari Allah, dalam kekesalan dan kelelahannya ia tertidur, atau bisa juga karena ia sangat mengenal TUHAN, Allahnya yang sesungguhnya sangat mengasihinya dan selalu menjaganya. Bisa jadi dalam hatinya ia pasrah dan menerima segala apapun yang terjadi, bahasa lainnya apatis. 

Namun, kemudian nabi Yunus dibangunkan oleh nahkoda kapal yang sudah sangat panik, ia berkata, “… berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita,…” . Dari perkataannya ini dapat kita ambil kesimpulan, bahwa ia belum mengenal Allahnya Yunus, yaitu TUHAN Allah Semesta Alam, Pencipta langit dan bumi. 

Yunus 1:7

7 Lalu berkatalah mereka satu sama lain:

“Marilah kita buang undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini.”

Mereka membuang undi dan Yunuslah yang kena undi.

Setelah itu orang-orang lain di kapal itu mengajak untuk membuang undi. Jadi praktik membuang undi dalam kisah Yunus tersebut, bukanlah sekadar karena mereka kebiasaan bermain judi, melainkan itu sesungguhnya bagian dari kepercayaan religius di dunia kuno. Banyak budaya saat itu, termasuk bangsa-bangsa sekitar Israel dan para pelaut (yang mungkin berasal dari berbagai bangsa seperti Fenisia), meyakini bahwa membuang undi adalah cara para dewa atau kuasa ilahi menyatakan kehendak mereka, terutama untuk mengungkap siapa penyebab bencana atau kemarahan ilahi. Jadi, tindakan nahkoda dan awak kapal itu lebih mencerminkan adat berhala atau praktik ramal-prediksi (sortilege). Dalam konteks Alkitab, undi justru malah pernah dipakai secara sah untuk mencari kehendak Tuhan (misalnya di Imamat 16:8, Yosua 18:6, Amsal 16:33), tetapi di sini para pelaut kafir menggunakan praktik serupa dengan latar belakang kepercayaan politeistik mereka.

2. Yunus mengakui kesalahannya terhadap Allah

Yunus 1:8-12

8 Berkatalah mereka kepadanya:

“Beritahukan kepada kami, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini. Apa pekerjaanmu dan dari mana engkau datang, apa negerimu dan dari bangsa manakah engkau?”

9 Sahutnya kepada mereka:

“Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan.”

10 Orang-orang itu menjadi sangat takut, lalu berkata kepadanya:

“Apa yang telah kauperbuat?”

–sebab orang-orang itu mengetahui, bahwa ia melarikan diri, jauh dari hadapan TUHAN. Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka.

Dapatkah Anda melihat suatu progress rohani dalam kejadian di atas? Undian jatuh kepada nabi Yunus. Menurut kepercayaan, badai itu memang buah dosa Yunus yang mendapat undian itu. Di saat inilah nabi Yunus yang memang sesungguhnya adalah orang yang sangat kenal akan TUHAN, Allahnya, di mana akhirnya ia menyadari kesalahan dari tindakannya selama ini, yaitu mementingkan perasaan dan keinginannya sendiri, bukan memikirkan Misi Allah dalam kehidupannya. Sehingga, apapun konsekuensi yang harus dipikulnya pun akan diterimanya, sekalipun mungkin itu adalah hukuman mati. Jadi, dengan minta dilempar ke laut, nabi Yunus telah menyerahkan dirinya kepada Allah, agar semua orang lain di kapal tidak terkena imbas buah dosanya.

Kesalahan Nabi Yunus ini sesungguhnya sangat mewakili banyak orang di masa kini juga. Seringkali kita punya prioritas yang keliru dalam hati dan pikiran kita. Mungkin prioritas kita letakkan pada keinginan hati kita semata, bukan pada keinginan Allah. Pada saat itu, TUHAN, sesungguhnya sedang khawatir melihat kelakuan bangsa Niniwe yang sangat dikasihi-Nya. Mengapa? Allah tahu, ketetapan dan hukum yang Ia tetapkan sendiri pasti akan jatuh kepada bangsa yang besar itu, jika mereka tidak bertobat. Oleh karena itu Misi Allah adalah menyelamatkan mereka, dan nabi Yunuslah yang ditunjuk Allah menjadi “Agen Surgawi” untuk mempertobatkan bangsa Niniwe, dengan berseru bahwa hukuman Allah segera jatuh ke atas mereka, jika tidak bertobat.

Mari kita coba introspeksi diri saat ini, renungkan apa sikap kita yang mementingkan diri sendiri, dibanding dengan misi Allah yang sedang Ia jalankan melalui kehidupan kita. Jangan kita hanya memusingkan diri sendiri. Allah berfirman:

Matius 6:33

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 

Mulai sekarang, jangan memusingkan soal urusan kita, pikirkan bahwa Allah mau kita fokus pada pemahaman kita tentang Misi Kerajaan Allah. Segala keperluan dan kebutuhan hidup kita adalah urusan Allah, fokuskan pada menjalankan Misi Allah dalam kehidupan kita. Jadi apa Misi Allah dalam kehidupan kita? Berdoalah, mohon agar Roh Kudus membimbing kita dalam kebenaran Allah, supaya dengan jelas dan nyata kita dapat memahami apa Misi Allah dalam kehidupan kita. Segera jalankan, jangan menolak seperti Nabi Yunus yang terpaksa mengalami hal buruk dalam kehidupannya.

3. Pertobatan Nahkoda dan Awak kapal

Yunus 1:11-16

11 Bertanyalah mereka:

“Akan kami apakan engkau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi, sebab laut semakin bergelora.”

12 Sahutnya kepada mereka:

“Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu.”

13 Lalu berdayunglah orang-orang itu dengan sekuat tenaga untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora menyerang mereka.

14 Lalu berserulah mereka kepada TUHAN, katanya:

“Ya TUHAN, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, TUHAN, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki.”

Terlihat bahwa semua orang yang berada di dalam kapal itu sesungguhnya adalah orang-orang yang baik hatinya. Hal ini tampak ketika mereka mendengar permintaan Yunus untuk melemparnya ke laut; mereka tidak serta-merta mengabulkannya. Namun, setelah berusaha sekuat tenaga dan mendapati nyawa mereka semakin terancam, barulah mereka berseru kepada TUHAN — bukan kepada dewa-dewa mereka. Mereka memohon agar jika mereka melempar Yunus ke laut, mereka tidak menanggung dosa atas kematian Yunus maupun dosa perbuatan mereka sendiri.

Yunus 1:15-16

15 Kemudian mereka mengangkat Yunus, lalu mencampakkannya ke dalam laut, dan laut berhenti mengamuk. 16 Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada TUHAN, lalu mempersembahkan korban sembelihan bagi TUHAN serta mengikrarkan nazar.

Dan inilah keinginan Allah atas semua orang yang ada di kapal itu, yaitu Pertobatan. Yunus bertobat dan diproses Allah di dalam laut, sementara orang-orang di kapal itu akhirnya mengakui TUHAN adalah penguasa Alam Semesta dan mereka bertobat, serta mengikrarkan nazar. Done!

Mari dalam segmen kisah Yunus kali ini, kita pelajari beberapa hal, yaitu:

  1. Allah tidak pernah gagal menjalankan Misi-Nya.
  2. Orang yang bersalah kepada Allah, dikejar-Nya hingga bertobat.
  3. Orang yang belum mengenal-Nya, diperkenankan akhirnya mengenal kuasa dan kemuliaan-Nya.

Sekarang giliran kita semua yang telah mendapat pelajaran hari ini, mari kita renungkan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan kita, apakah kita selaras dengan Misi Allah, atau jangan-jangan kita menentang tanpa kita sadari? Datanglah kepada Tuhan Yesus Kristus dan bertobatlah, jangan lakukan dosa lagi, pikullah salib Misi Allah dan berjalanlah bersama-Nya.

Semoga kita mendapat berkat hari ini.

Tuhan Yesus memberkati.

Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN

Yeremia 29:12-14a

Amin.