Tidak peduli kesusahan orang lain

Obaja 1 Part 2 tentang “Tidak peduli kesusahan orang lain” seri Nabi Kecil

Shaloom bapak ibu saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan ini kita akan membahas mengenai murka Tuhan atas Edom yang tidak peduli kesusahan orang lain, yaitu terhadap kesusahan Yehuda yang diserang musuh. Kiranya Tuhan memberi kita hikmat dan pengetahuan-Nya agar kita dapat memahami pesan-Nya bagi kita. Tuhan Yesus memberkati.

Tidak peduli kesusahan orang lain
Tidak peduli kesusahan orang lain

Tidak peduli kesusahan orang lain

c. Edom tidak peduli akan kesusahan yang dihadapi Israel

Obaja 1:10-14

1:10 Karena kekerasan terhadap saudaramu Yakub, maka cela akan meliputi engkau, dan engkau akan dilenyapkan untuk selama-lamanya. Pada waktu engkau berdiri di kejauhan, sedang orang-orang luar mengangkut kekayaan Yerusalem dan orang-orang asing memasuki pintu gerbangnya dan membuang undi atasnya, engkaupun seperti salah seorang dari mereka itu. Janganlah memandang rendah saudaramu, pada hari kemalangannya, dan janganlah bersukacita atas keturunan Yehuda pada hari kebinasaannya; dan janganlah membual pada hari kesusahannya. Janganlah masuk ke pintu gerbang umat-Ku pada hari sialnya, bahkan janganlah memandang ringan malapetaka yang menimpanya pada hari sialnya; dan janganlah merenggut kekayaannya pada hari sialnya. 1:14 Janganlah berdiri di persimpangan untuk melenyapkan orang-orangnya yang luput, dan janganlah serahkan orang-orangnya yang terlepas pada hari kesusahan.

Puncak murka Allah terhadap Edom bukan hanya soal kesombongan, tetapi juga sikap mereka terhadap Israel yang adalah keturunan Yakub saudara jauh dari Esau (Edom). Ketika Yerusalem diserang musuh, Edom tidak menolong, tetapi justru ikut bersukacita, bahkan mengambil bagian dalam penderitaan itu. Mereka hanya berdiri di kejauhan, tetapi hati mereka sesungguhnya terlibat dalam kejahatan tersebut.

John Goldingay, Ph.D. (University of Nottingham), dalam The Minor Prophets (Baker Academic, 2021), menyoroti bahwa dosa Edom adalah kegagalan moral untuk menunjukkan sikap hidup yang baik, yaitu: “They violated brotherhood by exploiting vulnerability.” Ini menunjukkan bahwa kesalahan mereka bukan hanya langsung terhadap TUHAN, tetapi juga terhadap sesama, khususnya terhadap saudara mereka sendiri.

Kita lihat di sini, bahwa suatu kejahatan yang dimaksud Allah, sifatnya tidak selalu aktif menyerang, tetapi bisa juga hanya pasif, yaitu diam ketika melihat ketidakadilan atau bahkan diam-diam bersukacita atas kejatuhan orang lain. Sikap seperti ini tetap dipandang serius di hadapan TUHAN.

Yakobus 4:17

Sebab itu, orang yang tahu apa yang baik yang harus dilakukannya tetapi tidak melakukannya, orang itu berdosa.

d. Hari TUHAN: Keadilan yang Tidak Bisa Dihindari

Bagian selanjutnya kemudian mengarah kepada prinsip yang sangat kuat: Keadilan TUHAN tidak bisa dihindari. Allah akan mengadili dan menghukum siapa saja yang bersalah dan tidak mau bertobat.

Obaja 1:15

“Sungguh, sudah dekat harinya, Aku, TUHAN, mengadili bangsa-bangsa. Apa yang dilakukan Edom akan dibalaskan kepadanya. Ia akan merasakan juga apa yang telah ia perbuat. ”

Yehezkiel 25:12

Beginilah firman Tuhan ALLAH:Oleh karena Edom membalaskan dendam kesumat terhadap kaum Yehuda dan membuat kesalahan besar dengan melakukan pembalasan terhadap mereka,

Amsal 17:5

Siapa mengejek orang miskin papa, menghina Allah penciptanya. Siapa gembira atas kemalangan orang, pasti mendapat hukuman.

Ini adalah hukum keadilan ilahi yang tidak bisa dihindari. Apa yang ditabur, itu juga yang akan dituai.

J. A. Motyer, B.A., M.A. (University of Cambridge), dalam The Minor Prophets (Inter-Varsity Press, 1998), menyatakan bahwa ini adalah inti dari penghakiman nabi-nabi: “Divine justice mirrors human action.” Artinya, hukuman Tuhan bukan sewenang-wenang, tetapi sesuai dengan perbuatan manusia itu sendiri.

Jadi secara keseluruhan, pesan yang disampaikan oleh firman Tuhan hari ini adalah, bahwa Allah mau setiap manusia hidup benar, mengasihi Allah dan mengasihi juga mengasihi sesama.

Matius 22:37-40

37 Jawab Yesus kepadanya:

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.

Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah:

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Tuhan Yesus berfirman, bahwa seluruh hukum taurat harus selaras dengan hukum kasih yang ditetapkan oleh Allah sebagai perjanjian yang baru. Mengasihi Allah itu penting, namun mengasihi sesama tidak kalah pentingnya.

Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka

Lukas 6:31

Amin.