Shaloom, Bapak/Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan ini kita akan membahas mengenai Pengorbanan Kristus di kayu salib yang merupakan tonggak sejarah bagi kekristenan. Semoga Tuhan memberikan hikmat dan pengertian-Nya bagi kita, agar mudah memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.
Pengorbanan Kristus di kayu salib
Tabel Kronologis Penyaliban Kristus di kayu salib
| Perkiraan Waktu | Peristiwa | Injil Sinoptik | Injil Yohanes | Nubuat PL & Korelasi |
|---|---|---|---|---|
| ± 18.00–21.00¹ | Perjamuan Terakhir, pembasuhan kaki, penetapan Perjamuan Kudus | Mat 26:17-30; Mrk 14:12-26; Luk 22:7-23 | Yoh 13:1-30 | Kel 12:1-14 → Mat 26:26-28; Yer 31:31-34 → Luk 22:20 |
| ± 21.00–00.00¹ | Pengajaran terakhir & doa Yesus (Doa Imam Besar) | Luk 22:24-38 | Yoh 13:31–17:26 | Ul 18:15 → Yoh 14:6 |
| ± 00.00–02.00² | Doa di Getsemani | Mat 26:36-46; Mrk 14:32-42; Luk 22:39-46 | Yoh 18:1 | Yes 53:3 → Mat 26:38 |
| ± 02.00–03.00² | Pengkhianatan Yudas dan penangkapan Yesus | Mat 26:47-56; Mrk 14:43-50; Luk 22:47-53 | Yoh 18:2-11 | Mzm 41:10 → Yoh 13:18; Zak 13:7 → Mat 26:31 |
| ± 03.00–05.00² | Pengadilan di hadapan Hanas & Kayafas, Petrus menyangkal Yesus | Mat 26:57-75; Mrk 14:53-72; Luk 22:54-71 | Yoh 18:12-27 | Yes 53:7 → Mat 26:63; Mi 5:1 → Mat 26:67 |
| ± 05.00–06.00³ | Sidang resmi Sanhedrin pagi hari | Mat 27:1; Mrk 15:1; Luk 22:66-71 | — | Mzm 2:2 → Kis 4:26 |
| ± 06.00–08.00³ | Yesus di hadapan Pilatus, Herodes, lalu kembali ke Pilatus | Mat 27:2,11-14; Mrk 15:1-5; Luk 23:1-12 | Yoh 18:28-38 | Yes 53:7 → Yoh 19:9 |
| ± 08.00–09.00³ | Barabas dibebaskan, Yesus dicambuk dan dijatuhi hukuman mati | Mat 27:15-26; Mrk 15:6-15; Luk 23:13-25 | Yoh 18:39–19:16 | Yes 53:5 → Mat 27:26 |
| ± 09.00 (jam ketiga) | Yesus disalibkan di Golgota | Mrk 15:25; Mat 27:33-44; Luk 23:33-43 | Yoh 19:17-27 | Mzm 22:17-19 → Yoh 19:24; Yes 53:12 → Luk 23:33 |
| 12.00–15.00 (jam keenam–kesembilan) | Kegelapan meliputi seluruh daerah, penderitaan di salib | Mat 27:45; Mrk 15:33; Luk 23:44-45 | — | Am 8:9 → Mat 27:45 |
| ± 15.00 (jam kesembilan) | Yesus wafat | Mat 27:46-50; Mrk 15:34-37; Luk 23:46 | Yoh 19:28-30 | Mzm 22:2 → Mat 27:46; Yes 53:10 → Yoh 19:30 |
| ± 15.00–17.00⁴ | Tirai Bait Suci terbelah, gempa bumi, pengakuan kepala pasukan | Mat 27:51-54; Mrk 15:38-39; Luk 23:45-47 | — | Kel 26:31-33 → Ibr 10:19-20 |
| ± 15.00–18.00⁴ | Penikaman lambung Yesus | — | Yoh 19:31-37 | Zak 12:10 → Yoh 19:37; Kel 12:46 → Yoh 19:36 |
| Sebelum 18.00 (menjelang Sabat)⁴ | Yesus dikuburkan oleh Yusuf dari Arimatea | Mat 27:57-61; Mrk 15:42-47; Luk 23:50-56 | Yoh 19:38-42 | Yes 53:9 → Mat 27:60 |
1 Berdasarkan tradisi perjamuan Paskah Yahudi yang dimulai setelah matahari terbenam.
2 Rekonstruksi urutan malam hari berdasarkan narasi Injil (tidak ada jam eksplisit).
3 Berdasarkan urutan pagi hari dalam Injil dan praktik pemerintahan Romawi.
4 Dibatasi oleh waktu sebelum Sabat (matahari terbenam sekitar pukul 18.00).
A. Peristiwa Pendahuluan: Dari Perjamuan Terakhir hingga Penangkapan Yesus
Matius 26:26-29 (TB-LAI)
Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku.“
Lukas 22:19-20 (TB-LAI)
Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.“
Yohanes 13:4-5 (TB-LAI)
lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.
Peristiwa ini bukan sekadar makan bersama. Di sini Yesus sedang membuka sesuatu yang sangat besar: Ia tahu tubuh-Nya akan diserahkan dan darah-Nya akan dicurahkan. Ia tidak sedang berbicara simbol kosong. Ia sedang menunjuk langsung kepada salib yang tinggal beberapa jam lagi.
Menariknya, Injil Yohanes tidak menuliskan penetapan Perjamuan Kudus, tetapi justru menekankan tindakan membasuh kaki. Ini bukan kebetulan. Yesus, yang adalah Tuhan, justru mengambil posisi hamba. Dalam budaya saat itu, membasuh kaki adalah pekerjaan paling rendah.
D. A. Carson, Ph.D. (Research Professor of New Testament, Trinity Evangelical Divinity School), dalam bukunya The Gospel According to John (Eerdmans, 1991), menjelaskan bahwa tindakan membasuh kaki bukan hanya teladan kerendahan hati, tetapi gambaran simbolis dari pembersihan yang akan digenapi melalui kematian Yesus di salib.
Di titik ini, pembaca mulai bisa melihat sesuatu yang sangat dalam: Yesus tidak sedang terseret ke dalam penderitaan. Ia justru sedang berjalan ke arah itu dengan sadar. Ia tahu apa yang akan terjadi, tetapi tetap melangkah.
Kasih seperti ini bukan kasih yang reaktif. Ini kasih yang memilih. Kasih yang tahu harga yang harus dibayar, tetapi tetap berkata, “Aku mau.”
—
Matius 26:36-38 (TB-LAI)
Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.” Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.“
Lukas 22:44 (TB-LAI)
Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.
Di Getsemani, kita melihat sisi Yesus yang sangat manusiawi. Ia merasa sedih, gentar, bahkan sampai seperti mau mati rasanya. Ini bukan drama. Ini bukan sandiwara ilahi. Ini adalah realitas seorang manusia yang menghadapi penderitaan yang sangat nyata.
Namun di tengah tekanan itu, Ia tidak lari. Ia tidak menarik diri. Ia justru berdoa dan menyerahkan diri kepada kehendak Bapa.
Leon Morris, Ph.D. (Principal, Ridley College, Melbourne), dalam bukunya The Cross in the New Testament (Eerdmans, 1965), menekankan bahwa penderitaan Yesus di Getsemani menunjukkan bahwa salib bukan sesuatu yang ringan bagi-Nya, tetapi justru sesuatu yang sangat berat—dan karena itu kasih-Nya menjadi semakin nyata.
Di sini pembaca mulai dihadapkan pada kenyataan yang sering dihindari: keselamatan manusia bukan sesuatu yang murah. Ada pergumulan, ada air mata, ada ketakutan yang nyata—dan Yesus memilih untuk tetap taat.
—
Matius 26:47-50 (TB-LAI)
Waktu Yesus masih berbicara, datanglah Yudas, seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, mereka diutus oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: “Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia.” Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: “Salam Rabi,” lalu mencium Dia. Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Hai teman, untuk itukah engkau datang?” Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya.
Yohanes 18:4-6 (TB-LAI)
Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari?” Jawab mereka: “Yesus dari Nazaret.” Kata-Nya kepada mereka: “Akulah Dia.” Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka. Ketika Ia berkata kepada mereka: “Akulah Dia,” mundurlah mereka dan jatuh ke tanah.
Pengkhianatan itu datang bukan dari orang luar, tetapi dari orang yang dekat. Yudas bukan orang asing. Ia berjalan bersama Yesus, mendengar pengajaran-Nya, melihat mukjizat-Nya. Namun justru dari situlah luka itu datang.
Dan di sisi lain, Injil Yohanes mencatat sesuatu yang sangat kuat: ketika Yesus berkata, “Akulah Dia,” orang-orang itu mundur dan jatuh ke tanah. Ini menunjukkan bahwa Ia tidak kehilangan kuasa-Nya. Ia tidak sedang ditangkap karena tidak berdaya.
N. T. Wright, D.Phil. (Professor of New Testament and Early Christianity, University of St Andrews), dalam bukunya Jesus and the Victory of God (Fortress Press, 1996), menjelaskan bahwa penangkapan Yesus bukanlah kegagalan, tetapi bagian dari misi yang Ia jalani dengan sadar sebagai penggenapan rencana Allah.
Di sini terlihat dua hal berjalan bersamaan: pengkhianatan manusia dan kedaulatan Allah. Manusia melakukan yang jahat, tetapi Allah tidak kehilangan kendali.
—
Matius 26:69-75 (TB-LAI)
Sementara itu Petrus duduk di luar di halaman. Lalu seorang hamba perempuan datang kepadanya dan berkata: “Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu.” Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: “Aku tidak tahu apa yang engkau maksud.” Ketika ia pergi ke pintu gerbang, seorang lain melihat dia dan berkata kepada orang-orang di situ: “Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu.” Dan ia menyangkalnya pula dengan sumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Tidak lama kemudian datanglah orang-orang yang di situ dan berkata kepada Petrus: “Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, sebab logatmu juga menyatakan hal itu.” Maka mulailah ia mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Dan seketika itu juga berkokoklah ayam. Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.
Jika Yudas mewakili pengkhianatan, maka Petrus mewakili kelemahan manusia. Ia tidak menjual Yesus, tetapi ia tidak cukup kuat untuk berdiri bagi-Nya. Ketika tekanan datang, ia menyangkal.
Craig S. Keener, Ph.D. (Professor of New Testament, Asbury Theological Seminary), dalam The Gospel of Matthew: A Socio-Rhetorical Commentary (Eerdmans, 2009), menekankan bahwa penyangkalan Petrus menunjukkan realitas murid yang gagal—namun bukan akhir dari cerita, karena kasih Kristus tetap memulihkan.
Di bagian ini, pembaca melihat sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan nyata: manusia bisa jatuh, bahkan di saat yang paling penting. Namun rangkaian peristiwa ini membawa satu arah yang jelas: semua berjalan menuju salib. Bukan karena keadaan tidak terkendali, tetapi karena ada rencana yang sedang digenapi.
B. Proses Menuju Salib: Dari Pengadilan Pilatus hingga Penyaliban
Matius 27:11-14 (TB-LAI)
Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Wali negeri itu bertanya kepada-Nya: “Engkaukah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus: “Engkau sendiri mengatakannya.” Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua itu Ia tidak menjawab apa-apa. Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?” Tetapi Ia tidak menjawab satu katapun, sehingga wali negeri itu sangat heran.
Lukas 23:6-11 (TB-LAI)
Ketika Pilatus mendengar hal itu ia bertanya, apakah orang itu seorang Galilea. Dan ketika ia tahu, bahwa Yesus seorang dari wilayah Herodes, ia mengirim Dia menghadap Herodes, yang pada waktu itu ada juga di Yerusalem. Ketika Herodes melihat Yesus, ia sangat girang, sebab sudah lama ia ingin melihat Dia, karena ia sering mendengar tentang Dia, lagi ia berharap dapat melihat bagaimana Yesus mengadakan suatu tanda. Ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus, tetapi Yesus tidak memberi jawaban apa-apa. Sementara itu imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat maju ke depan dan mengajukan tuduhan-tuduhan yang berat terhadap Dia. Maka mulailah Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olokkan Dia; ia mengenakan jubah yang indah kepada-Nya lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus.
Yohanes 18:36-37 (TB-LAI)
Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Jadi Engkau adalah raja?” Jawab Yesus: “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.“
Di hadapan penguasa dunia, Yesus berdiri tanpa membela diri. Ia tidak melawan, tidak berdebat, bahkan tidak mencoba menyelamatkan diri-Nya. Ini bukan karena Ia tidak mampu, tetapi karena Ia memilih untuk tidak melakukannya.
Pilatus heran. Herodes kecewa. Mereka berharap melihat sesuatu yang spektakuler—mukjizat, pembelaan, atau kuasa. Tetapi yang mereka lihat justru diam.
F. F. Bruce, M.A., D.D. (Professor of Biblical Criticism and Exegesis, University of Manchester), dalam The Gospel of John (Eerdmans, 1983), menjelaskan bahwa keheningan Yesus di hadapan penguasa bukan kelemahan, melainkan penggenapan dari gambaran Hamba Tuhan yang menderita dalam Yesaya 53, yang “seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian.”
Di sini terlihat sesuatu yang sering tidak dipahami: Yesus tidak kehilangan kendali atas situasi. Ia justru sedang menggenapi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pengadilan manusia.
—
Matius 27:15-18, 24-26 (TB-LAI)
Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri pada tiap-tiap hari raya itu membebaskan satu orang hukuman bagi orang banyak, yaitu orang yang dikehendaki mereka. Dan pada waktu itu ada seorang tahanan yang terkenal kejahatannya, yang bernama Barabas. Karena mereka sudah berkumpul di situ, Pilatus berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu: Barabas atau Yesus yang disebut Kristus?” Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.
Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia saja, bahkan sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!” Dan seluruh rakyat itu menjawab: “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!” Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.
Yohanes 19:1 (TB-LAI)
Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia.
Di titik ini, terjadi pertukaran yang sangat dalam maknanya. Barabas—seorang yang bersalah—dibebaskan. Yesus—yang tidak bersalah—dihukum.
Ini bukan sekadar keputusan politik. Ini gambaran dari sesuatu yang jauh lebih besar: orang yang bersalah dilepaskan, dan yang tidak bersalah menanggung hukuman.
John Stott, M.A. (Rector Emeritus, All Souls Church, London), dalam bukunya The Cross of Christ (InterVarsity Press, 1986), menjelaskan bahwa peristiwa ini menjadi gambaran nyata dari substitusi: Kristus menggantikan posisi manusia berdosa dan menanggung hukuman yang seharusnya mereka terima.
Pembaca mulai melihat pola yang jelas: salib bukan kecelakaan. Ini adalah pertukaran yang disengaja.
—
Matius 27:27-31 (TB-LAI)
Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan dan mengumpulkan seluruh pasukan untuk mengerumuni Dia. Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: “Salam, hai raja orang Yahudi!” Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Lalu mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan.
Yesaya 53:5 (TB-LAI)
Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Pencambukan dan penghinaan ini bukan sekadar kekerasan fisik. Ini adalah penghinaan total—secara tubuh, martabat, dan kemanusiaan. Namun di tengah semua itu, nubuat Yesaya mulai terlihat jelas digenapi. Apa yang ditulis ratusan tahun sebelumnya, sekarang terjadi di depan mata.
R. C. Sproul, Ph.D. (Founder, Ligonier Ministries), dalam The Truth of the Cross (Reformation Trust, 2007), menegaskan bahwa penderitaan fisik Yesus bukan hanya tragedi, tetapi bagian dari penebusan, di mana Ia menanggung hukuman yang seharusnya diterima manusia berdosa.
Di sini pembaca mulai dihadapkan pada kenyataan yang tidak nyaman: keselamatan bukan sesuatu yang ringan. Ada harga yang dibayar, dan harga itu sangat mahal.
—
Markus 15:25 (TB-LAI)
Hari jam sembilan ketika Ia disalibkan.
Lukas 23:33 (TB-LAI)
Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.
Yohanes 19:23-24 (TB-LAI)
Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: “Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk itu untuk menentukan siapa yang akan mendapatnya.” Hal itu terjadi supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: “Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku.” Demikianlah yang dilakukan prajurit-prajurit itu.
Mazmur 22:19 (TB-LAI)
Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.
Saat Yesus disalibkan, itu bukan hanya peristiwa eksekusi Romawi. Itu adalah titik di mana seluruh rangkaian nubuat dan rencana Allah bertemu dalam satu peristiwa.
Bahkan hal-hal kecil—seperti pembagian pakaian—tidak terjadi secara kebetulan. Semuanya sudah tertulis sebelumnya.
Craig L. Blomberg, Ph.D. (Distinguished Professor of New Testament, Denver Seminary), dalam The Historical Reliability of the Gospels (InterVarsity Press, 2007), menekankan bahwa kesesuaian detail antara nubuat dan peristiwa penyaliban menunjukkan konsistensi historis dan teologis yang kuat dalam Injil. Di titik ini, tidak ada lagi yang bisa disebut kebetulan. Semua mengarah ke satu hal: salib adalah pusat dari rencana Allah. Dan di kayu salib itu, Yesus tidak berada di sana karena Ia kalah. Ia berada di sana karena Ia memilih untuk tinggal.
C. Wafat dan Penguburan: Saat Kasih Itu Diselesaikan
Matius 27:45-46 (TB-LAI)
Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Lukas 23:44-46 (TB-LAI)
Ketika itu kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.
Yohanes 19:28-30 (TB-LAI)
Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia—supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci—: “Aku haus!” Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
Mazmur 22:2 (TB-LAI)
Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru-seru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.
Di bagian ini, suasana berubah total. Siang hari tiba-tiba menjadi gelap. Ini bukan sekadar fenomena alam. Injil mencatatnya sebagai tanda bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi. Seruan Yesus, “Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku,” sering disalahpahami seolah-olah Ia putus asa. Padahal itu adalah kutipan dari Mazmur 22—sebuah mazmur yang dimulai dengan penderitaan tetapi berakhir dengan kemenangan.
John Calvin, Th.D. (Reformer, Geneva), dalam Commentary on a Harmony of the Evangelists (Calvin Translation Society, 1845), menjelaskan bahwa seruan ini menunjukkan bahwa Yesus benar-benar menanggung beban dosa manusia, sehingga mengalami keterpisahan yang seharusnya ditanggung manusia berdosa.
Ini bagian yang paling dalam: bukan hanya tubuh-Nya yang menderita, tetapi Ia menanggung sesuatu yang tidak terlihat—beban dosa manusia. Ketika Ia berkata, “Sudah selesai,” itu bukan ungkapan menyerah. Itu adalah pernyataan kemenangan. Sesuatu telah diselesaikan—hutang telah dibayar.
—
Matius 27:51-54 (TB-LAI)
Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, mereka pun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang. Kepala pasukan dan mereka yang bersama-sama dengan dia menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.”
Ibrani 10:19-20 (TB-LAI)
Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri.
Tirai Bait Suci terbelah dari atas ke bawah. Ini bukan detail kecil. Tirai itu memisahkan manusia dari hadirat Allah. Dan sekarang, tirai itu terbuka.
Artinya jelas: jalan kepada Allah sekarang dibuka.
F. F. Bruce, M.A., D.D., dalam The Epistle to the Hebrews (Eerdmans, 1990), menjelaskan bahwa peristiwa ini melambangkan berakhirnya sistem lama dan dimulainya akses langsung manusia kepada Allah melalui pengorbanan Kristus.
Tidak lagi melalui ritual. Tidak lagi melalui perantara manusia. Jalan itu sekarang terbuka—melalui Kristus.
—
Yohanes 19:33-34 (TB-LAI)
Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.
Zakharia 12:10 (TB-LAI)
Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam itu, dan mereka akan meratapi Dia seperti meratapi anak tunggal, dan akan menangisinya dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung.
Bahkan setelah kematian-Nya, detail-detail itu tetap menggenapi nubuat. Tidak ada yang kebetulan. Semua sudah dinyatakan sebelumnya.
Gleason L. Archer Jr., Ph.D. (Professor of Old Testament, Trinity Evangelical Divinity School), dalam Encyclopedia of Bible Difficulties (Zondervan, 1982), menegaskan bahwa konsistensi antara nubuat PL dan penggenapannya dalam PB menjadi salah satu bukti kuat keandalan Alkitab.
Salib bukan hanya peristiwa sejarah. Ia adalah titik temu antara janji dan penggenapan.
—
Matius 27:57-60 (TB-LAI)
Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf, yang juga menjadi murid Yesus. Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus pun memerintahkan supaya mayat itu diberikan kepadanya. Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang bersih, lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu; dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia.
Yesaya 53:9 (TB-LAI)
Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak melakukan kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.
Yesus mati, benar-benar mati, dan dikuburkan. Ini penting. Ini bukan simbol. Ini bukan kiasan. Ini peristiwa nyata. Dan bahkan dalam penguburan-Nya, nubuat kembali digenapi.
N. T. Wright, D.Phil., dalam The Resurrection of the Son of God (Fortress Press, 2003), menekankan bahwa kematian dan penguburan Yesus adalah bagian penting dari kesaksian historis Injil—bukan tambahan, tetapi inti dari peristiwa itu sendiri.
Sampai titik ini, semua terlihat seperti akhir. Murid-murid terpukul. Harapan seolah hilang. Tetapi justru di titik inilah kasih itu telah dinyatakan sepenuhnya.
Seorang yang tidak bersalah, memilih untuk menanggung hukuman. Seorang yang berkuasa, memilih untuk tidak menggunakan kuasa-Nya. Seorang yang hidup, memilih untuk mati—demi yang lain. Dan jika dilihat dengan jujur, ini bukan hanya cerita tentang apa yang Yesus alami. Ini adalah cerita tentang apa yang Ia lakukan—bagi manusia. Kasih seperti ini tidak menuntut terlebih dahulu. Ia memberi lebih dulu. Ia tidak menunggu manusia layak. Ia datang ketika manusia belum layak. Dan di kayu salib itu, tidak ada yang setengah-setengah. Semua diberikan. Semua diselesaikan.
Kesimpulan
Dari ruang perjamuan, taman Getsemani, pengadilan yang tidak adil, sampai kayu salib dan kubur yang sunyi—semuanya bergerak ke satu arah yang sama. Bukan kebetulan, bukan kecelakaan, tetapi sebuah jalan yang dipilih.
Yesus tidak terjebak dalam peristiwa itu. Ia berjalan masuk ke dalamnya. Ia tahu apa yang menunggu di depan, tetapi Ia tidak mundur.
Di dalam setiap langkah itu, terlihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika: kasih yang tetap memilih, meskipun tahu harga yang harus dibayar.
Dan pada akhirnya, salib bukan sekadar simbol penderitaan. Salib adalah bukti bahwa kasih itu nyata—dan kasih itu bertindak.
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,
sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,
melainkan beroleh hidup yang kekal.
Yohanes 3:16
Amin.



Leave a Reply