15 Februari 2026
“Menunggu dengan taat”
Ps. Lawrence Eddy – IFGF Bekasi
Kisah Nuh mengajar kita MENUNGGU penyataan Allah yang luar biasa lamanya. Ia
wajib menjalani tugas dari Allah yaitu membangun Bahtera di atas gunung.
Mari kita ingat sejenak mengenai kisah penyelamatan 33 orang pekerja tambang
di negara Chile selama 69 hari.
Pada 5 Agustus 2010 terjadi runtuhnya tambang emas dan tembaga San José di
dekat kota Copiapó, wilayah Gurun Atacama, Chile. Peristiwa yang dikenal
sebagai Copiapó mining accident ini menjebak 33 pekerja tambang di kedalaman
sekitar 700 meter di bawah permukaan tanah, sekitar 5 kilometer dari pintu
masuk utama. Selama 17 hari pertama tidak ada kepastian apakah mereka masih
hidup, hingga pada 22 Agustus 2010 sebuah bor pencari menembus ruang
perlindungan dan para pekerja mengirim catatan yang berbunyi bahwa mereka
semua dalam keadaan selamat. Selama terperangkap, mereka bertahan dengan sisa
makanan darurat yang sangat terbatas, yang pada awalnya dijatah sangat ketat,
serta mengandalkan disiplin, kepemimpinan internal, dan dukungan komunikasi
dari permukaan melalui lubang bor kecil. Pemerintah Chile di bawah Presiden
Sebastián Piñera kemudian meluncurkan operasi penyelamatan besar-besaran yang
melibatkan tim nasional dan bantuan teknis internasional, termasuk konsultasi
dari NASA. Setelah pengeboran poros penyelamat berdiameter sekitar 66
sentimeter selesai, kapsul khusus bernama Fénix diturunkan satu per satu. Pada
13 Oktober 2010, tepat 69 hari setelah runtuhnya tambang, seluruh 33 pekerja
berhasil diangkat ke permukaan dalam waktu sekitar 22 jam proses evakuasi
tanpa ada korban jiwa. Peristiwa ini disaksikan secara langsung oleh jutaan
orang di seluruh dunia dan menjadi salah satu operasi penyelamatan tambang
paling dramatis dan sukses dalam sejarah modern.
Kejadian 8:1
Kesabaran sejati sering kali berjalan bersama ketidakpastian. Nabi Nuh
membangun bahtera bertahun-tahun lamanya di atas daratan kering, tanpa bukti
kasat mata bahwa hujan besar benar-benar akan datang. Ia hanya berpegang pada
firman yang diterimanya, tetap bekerja hari demi hari meskipun mungkin
menghadapi keraguan dan ejekan. Demikian pula dalam berbagai situasi hidup,
termasuk kisah para pekerja tambang yang harus menanti dalam gelap tanpa
kepastian waktu pertolongan, kesabaran bukan sekadar menunggu, melainkan
memilih untuk tetap setia, tertib, dan berharap ketika hasil belum terlihat.
Baik Nuh maupun mereka yang bertahan di kedalaman bumi menunjukkan bahwa iman
dan kesabaran bekerja dalam proses yang panjang; keduanya tidak melihat akhir
sejak awal, tetapi ketekunan mereka pada akhirnya berbuah keselamatan. Dalam
kehidupan, sering kali yang diminta bukan kemampuan melihat seluruh rencana,
melainkan kesediaan melangkah dan bertahan dengan setia sampai waktunya tiba.
Kejadian 8:1-5 (TB)
Maka Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar dan segala ternak, yang
bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu, dan Allah membuat angin
menghembus melalui bumi, sehingga air itu turun. Ditutuplah mata-mata air samudera raya serta tingkap-tingkap di langit dan
berhentilah hujan lebat dari langit, dan makin surutlah air itu dari muka bumi. Demikianlah berkurang air itu
sesudah seratus lima puluh hari.
Dalam bulan yang ketujuh, pada hari yang ketujuh belas bulan itu,
terkandaslah bahtera itu pada pegunungan Ararat. Sampai bulan yang kesepuluh makin berkuranglah air itu; dalam bulan
yang kesepuluh, pada tanggal satu bulan itu, tampaklah puncak-puncak
gunung.
Kadangkala sewaktu kita menunggu sesuatu, ada pikiran yang menggoda kita untuk
meragukan kelanjutan dari proses menunggu itu? Ibaratnya luka kalau
sudah mau sembuh, pasti di sekitar luka itu akan timbul rasa gatal, dan
menggoda kita untuk menggaruk luka itu. Jika kita garuk, bisa jadi akan timbul
luka baru dan luka lama yang sudah mulai tertutup dan menjelang sembuh,
malahan jadi mulai dari nol lagi.
Demikianlah kesabaran itu selalu diuji dan masuk dalam level tertinggi menguji
kesabaran kita. Padahal jika kita paham, Allah sedang membentuk karakter kita.
Tahap kedua, Allah mengajar kita untuk menghargai proses dan latihan mengucap
syukur walaupun sakit. Tahap akhir yaitu iman kita akan dibangun dari proses
kesabaran itu. Iman apa? Iman bahwa Allah pasti memberikan yang terbaik bagi
kita.
Contoh nyata, pada saat kita apply pekerjaan. Ada orang yang menjawab kita
untuk datang wawancara, maka kita akan bersyukur dan senang sekali. Maka
demikian pula proses menunggu jika ada suatu progress kemajuan maka harus kita
ucapkan syukur.
Kejadian 8:6-16
Sesudah lewat empat puluh hari, Nuh membuka tingkap yang dibuatnya pada bahtera itu. Ia melepaskan seekor burung gagak; dan burung itu terbang pulang pergi, sampai air itu menjadi kering dari atas bumi.
Kemudian dilepaskannya seekor burung merpati untuk melihat apakah air itu telah berkurang dari muka bumi. Tetapi burung merpati itu tidak mendapat tempat tumpuan kakinya dan pulang kembali mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, karena di seluruh bumi masih ada air. Nuh mengulurkan tangannya, ditangkapnya burung itu dan dibawanya masuk ke dalam bahtera.
Ia menunggu tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya pula burung merpati itu dari bahtera. Menjelang waktu senja pulanglah burung merpati itu mendapatkan Nuh, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang segar. Dari situlah diketahui Nuh bahwa air itu telah berkurang dari atas bumi.
Selanjutnya ditunggunya pula tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya burung merpati itu, tetapi burung itu tidak kembali lagi kepadanya.
Dalam tahun keenam ratus satu, dalam bulan pertama, pada tanggal satu bulan itu, sudahlah kering air itu dari atas bumi. Nuh membuka tutup bahtera itu dan melihat-lihat; ternyata muka bumi sudah mulai kering. Dalam bulan kedua, pada hari yang kedua puluh tujuh bulan itu, bumi telah kering.
Lalu berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama-sama dengan isterimu serta anak-anakmu dan isteri anak-anakmu.”
Nuh di dalam Bahtera pun harus menunggu lagi. Ia harus menunggu sampai air surut. Nuh pro-aktif menguji apakah ada daratan yang sudah kering. Burung-burung yang dilepaskan menjadi tanda apakah daratan sudah kering. Kesabaran orang di Bahtera sangat diuji. Nuh secara aktif taat menanti jawaban Allah, hingga akhirnya Allah mengizinkan ia keluar bersama istri anak dan seluruh isi bahteranya.
Menunggu itu tidak pasif tanpa berbuat apa-apa tapi secara aktif melakukan sesuatu. Kita harus tetap melakukan sesuatu. Ibaratnya menunggu lampu hijau di lampu lalu lintas, maka kita wajib sabar menunggu proses terjadi, yaitu mengizinkan orang lain menjalani gilirannya melintas persimpangan.
Ibarat itulah kehidupan kita jika kita sampai persimpangan, harus diam menunggu maka kita harus tahu berbuat apa selama “diam” menunggu. Maka kita harus bertanya pada Allah apa yang harus kita lakukan. Jangan menerobos dan mengalami kerugian.
Kejadian 8:20-21
Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.
Nuh melakukan tindakan yang tepat setelah semuanya selesai, yaitu mengucap syukur kepada Allah. Padahal setelah itu mereka harus memulai peradaban yang baru di tanah yang mereka injak itu. Seluruh bumi musnah dan hancur oleh air.
Hidup menyembah:
1. Hubungan yang erat
– Kejadian 6:9
2. Ketaatan sebagai bentuk penyembahan
– Kejadian 6:22
– Kejadian 7:5
3. Tetap percaya di dalam penantian
– Kejadian 8:6-16
Mengucap syukur atas perkara kecil adalah suatu start yang baik. Ucapan syukur merupakan suatu tindakan yang menjadikan kita berkenan bagi Allah.
Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
1 Tesalonika 5:18 (TB)
Amin.



.jpg)
