Habakuk 1 Part 3 tentang “Rancangan Allah bukanlah rancangan manusia” Seri Nabi Kecil

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai Rancangan Allah bukanlah rancangan manusia yang disampaikan Allah menlalui firman-Nya sebagai jawaban doa Nabi Habakuk. Kiranya Tuhan memberikan kita hikmat dan pengertian untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.

Rancangan Allah bukanlah rancangan manusia

Habakuk 1:12 – 2:5 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat

Sesuai yang telah kita baca dalam pengantar kitab Habakukdemi memahami hal tersebut, mari kita ikuti pembacaan bagian ayat firman Tuhan berikutnya:

Habakuk 1:12

Di manakah keadilan TUHAN?

12 Bukankah Engkau, ya TUHAN, dari dahulu Allahku, Yang Mahakudus? Tidak akan mati kami. 

Frasa “Tidak akan mati kami.” dalam Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia, mungkin bisa membawa pengertian yang kurang berkaitan dengan kalimat sebelumnya, namun ternyata cukup jelas dalam terjemahan Alkitab versi lainnya.

Menurut terjemahan versi New English Translation:

12 Lord, you have been active from ancient times; my sovereign God, you are immortal. (Engkau adalah Allah Yang Kekal) 

Note: Masoretic Text (terjemahan Taurat bahasa Asli) berbunyi, “kita tidak akan mati,” tetapi menurut text dalam kumpulan tulisan tradisional kuno Israel, menyatakan “Engkau [yaitu, Tuhan] tidak akan mati.” Ini lebih disukai karena merupakan bacaan yang lebih sulit yang dapat menjelaskan munculnya varian lain. Para juru tulis yang menyalin manuskrip tersebut pada abad-abad berikutnya, tidak ingin mengaitkan gagasan adanya ‘kematian’, dengan Tuhan dalam bentuk apa pun, sehingga akhirnya mereka melunakkan pernyataan tersebut untuk merujuk pada umat manusia.

Mari kita lanjutkan ayat selanjutnya:

Habakuk 1:12b-15

12b Ya TUHAN, telah Kautetapkan dia untuk menghukumkan; ya Gunung Batu, telah Kautentukan dia untuk menyiksa. Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?

Engkau menjadikan manusia itu seperti ikan di laut, seperti binatang-binatang melata yang tidak ada pemerintahnya? Semuanya mereka ditariknya ke atas dengan kail, ditangkap dengan pukatnya dan dikumpulkan dengan payangnya; itulah sebabnya ia bersukaria dan bersorak-sorai.

Itulah sebabnya dipersembahkannya korban untuk pukatnya dan dibakarnya korban untuk payangnya; sebab oleh karena alat-alat itu pendapatannya mewah dan rezekinya berlimpah-limpah. 17 Sebab itukah ia selalu menghunus pedangnya dan membunuh bangsa-bangsa dengan tidak kenal belas kasihan?

Habakuk 2:1

1 Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku. 

Jadi jelas doa Nabi Habakuk tersebut mengandung makna kebingungannya terhadap rencana Allah Yang Kekal yang dikenalnya selalu menentang kejahatan, mengapa Allah yang selama ini seakan berdiam diri, sekarang justru malah memberi kuasa pada bangsa kafir yang kejahatannya sudah sangat banyak, bahkan untuk menghancurkan umat kesayangan-Nya sendiri.

Di sinilah letak sisi kemanusiaannya muncul, sekalipun ia seorang nabi yang setiap saat bersama-sama dengan Allah, namun pada saat terdesak dan kesal, sifat kedagingannya masih juga menguasai. Jadi jangankan seorang nabi yang Allah sendiri angkat menjadi alat-Nya, kita pasti juga pernah mengalami situasi seperti itu, yaitu bingung dan mempertanyakan tindakan Allah yang mungkin berbeda dari pemahaman umum yang kita miliki selama ini.

Mari kita lihat, betapa Allah dengan rendah hati-Nya berkenan menjelaskan kepada Nabi Habakuk mengenai apa yang sedang dirancang-Nya:

Habakuk 2:2

Lalu TUHAN menjawab aku, demikian:

“Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. Tuhan menekankan pentingnya kejelasan firman dengan memerintahkan Habakuk menuliskan penglihatan itu pada loh-loh agar orang yang lewat sambil lalu pun dapat membacanya.

Hal ini menunjukkan bahwa kehendak Tuhan seharusnya menjadi panduan yang praktis dan mudah dipahami oleh umat-Nya, ibarat papan penunjuk arah yang besar di jalan raya agar orang tidak tersesat di tengah kekacauan dunia.

Habakuk 2:3

Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.

ditekankan mengenai kedaulatan waktu Tuhan bahwa setiap janji memiliki saat yang telah ditentukan dan tidak akan menipu. O. Palmer Robertson dalam bukunya The Books of Nahum, Habakkuk, and Zephaniah (1990) menjelaskan bahwa kepastian ini bersumber pada karakter Allah sendiri, sehingga meskipun bagi manusia terasa lambat, umat diajak untuk menanti dengan kesabaran yang aktif karena waktu Tuhan selalu tepat.

Inti dari pesan Allah ini terletak pada,

Habakuk 2:4

Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.

Di sini TUHAN menampilkan dua karakter manusia yang bertolak belakang, yaitu orang yang membusungkan dada dan orang benar. Orang yang membusungkan dada (sombong) digambarkan memiliki hati yang tidak lurus karena mengandalkan kekuatan sendiri, sementara orang benar akan hidup oleh percayanya atau אמונה (emunah), yang dalam bahasa Ibrani berarti kesetiaan dan keteguhan hati kepada Allah. Prinsip hidup oleh iman ini sangat penting sehingga dijadikan dasar pengajaran Rasul Paulus dalam Perjanjian Baru mengenai pembenaran oleh iman.

Terakhir pada Habakuk 2:5,

Orang sombong dan khianat dia yang melagak, tetapi ia tidak akan tetap ada; ia mengangakan mulutnya seperti dunia orang mati dan tidak kenyang-kenyang seperti maut, sehingga segala suku bangsa dikumpulkannya dan segala bangsa dihimpunkannya.”

Dapat kita lihat Allah memberi peringatan keras mengenai ketamakan yang membinasakan, di mana kesombongan diibaratkan seperti dunia orang mati yang tidak pernah merasa puas. Ilustrasinya mungkin seperti seseorang yang meminum air garam untuk menghilangkan dahaga; semakin ia mengejar ambisinya, semakin ia merasa haus dan tidak akan pernah kenyang. Melalui pesan Allah tersebut, dapat dipahami bahwa di tengah ketidakpastian, kekuatan orang benar tidak terletak pada seberapa cepat keadaan berubah, melainkan pada keteguhan hati untuk tetap bersandar pada karakter Tuhan.

Benarlah firman yang mengatakan:

Yesaya 55:8-9

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

Pelajaran yang bisa kita ambil tentang hal tersebut, yaitu mungkin kita ditempatkan Allah dalam situasi yang serupa dengan yang dihadapi oleh Nabi Habakuk. Kita terpaksa berhadapan dengan kemalangan, masalah, penderitaan, sementara kita melihat banyak orang yang jalannya jauh dari kebenaran, namun hidupnya malah sukses, berhasil dan berlimpah kekayaan. Ingatlah, bahwa dalam segala hal Allah mempunyai maksud tertentu yang mungkin tidak bisa kita pahami saat ini.

Roma 8:28

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.


Kesimpulan dan Renungan Pribadi

Berdasarkan pembahasan mengenai pergumulan Nabi Habakuk, dapat disimpulkan bahwa keterbatasan pandangan manusia sering kali membuat seseorang merasa bingung atau kecewa saat menghadapi realitas yang tampak tidak adil. Habakuk mengajarkan bahwa sekalipun seseorang memiliki kedekatan spiritual dengan Tuhan, ia tetap bisa mengalami masa-masa sulit dalam memahami kedaulatan Allah yang mengizinkan penderitaan atau kesuksesan orang fasik. Namun, jawaban Tuhan dalam pasal 2 menegaskan bahwa visi dan rancangan Allah memiliki ketepatan waktu yang mutlak. Kepastian janji Tuhan didasarkan pada karakter-Nya yang setia, sehingga umat diajak untuk tidak kehilangan arah di tengah kekacauan, melainkan tetap berpegang pada kejelasan firman sebagai panduan hidup yang praktis.

Renungan bagi kita adalah mengenai kontras antara kesombongan dan iman yang sejati. Di satu sisi, dunia sering menampilkan figur manusia yang membusungkan dada dan mengandalkan kekuatan diri sendiri, namun Tuhan mengingatkan bahwa ketamakan tersebut ibarat dahaga yang tidak akan pernah terpuaskan dan pada akhirnya menuju pada kebinasaan. Di sisi lain, orang benar dipanggil untuk hidup oleh emunah, yaitu kesetiaan dan keteguhan hati yang tidak tergoyahkan oleh situasi eksternal.

Di tengah kemalangan atau ketidakpastian hidup, kekuatan seorang beriman tidak terletak pada perubahan situasi yang instan, melainkan pada ketenangan jiwa untuk tetap percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu demi mendatangkan kebaikan. Sebagaimana rancangan Tuhan jauh melampaui logika manusia, maka tugas kita adalah menanti dengan sabar dan tetap setia melakukan bagian kita dalam kebenaran.

Kiranya Tuhan Yesus memberkati.

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!

Roma 11:33

Amin.