By Febrian 01 Mei 2o25 04.01 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan ini kita akan mempelajari Rahasia Hidup Berkenan di hadapan Allah. Kiranya Tuhan memberikan kita hikmat dan pengertian agar kita dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.
Rahasia Hidup Berkenan di hadapan Allah
1 Baiklah dengar firman yang diucapkan TUHAN:
Bangkitlah, lancarkanlah pengaduan di depan gunung-gunung, dan biarlah bukit-bukit mendengar suaramu! Dengarlah, hai gunung-gunung, pengaduan TUHAN, dan pasanglah telinga, hai dasar-dasar bumi! Sebab TUHAN mempunyai pengaduan terhadap umat-Nya, dan Ia beperkara dengan Israel.
“Umat-Ku, apakah yang telah Kulakukan kepadamu? Dengan apakah engkau telah Kulelahkan? Jawablah Aku! Sebab Aku telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir dan telah membebaskan engkau dari rumah perbudakan dan telah mengutus Musa dan Harun dan Miryam sebagai penganjurmu.
Umat-Ku, baiklah ingat apa yang dirancangkan oleh Balak, raja Moab, dan apa yang dijawab kepadanya oleh Bileam bin Beor dan apa yang telah terjadi dari Sitim sampai ke Gilgal, supaya engkau mengakui perbuatan-perbuatan keadilan dari TUHAN.”“Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun? Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?”
“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
Dengarlah, TUHAN berseru kepada kota: –adalah bijaksana untuk takut kepada nama-Nya–:”Dengarlah, hai suku bangsa dan orang kota!
Masakan Aku melupakan harta benda kefasikan di rumah orang fasik dan takaran efa yang kurang dan terkutuk itu? Masakan Aku membiarkan tidak dihukum orang yang membawa neraca palsu atau pundi-pundi berisi batu timbangan tipu? Orang-orang kaya di kota itu melakukan banyak kekerasan, penduduknya berkata dusta dan lidah dalam mulut mereka adalah penipu. Maka Akupun mulai memukul engkau, menanduskan engkau oleh karena dosamu.
Engkau ini akan makan, tetapi tidak menjadi kenyang, dan perutmu tetap mengamuk karena lapar; engkau akan menyingkirkan sesuatu, tetapi tidak dapat menyelamatkannya, dan apa yang dapat kauselamatkan, akan Kuserahkan kepada pedang. Engkau ini akan menabur, tetapi tidak menuai, engkau ini akan mengirik buah zaitun, tetapi tidak berurap dengan minyaknya; juga mengirik buah anggur, tetapi tidak meminum anggurnya.
Engkau telah berpaut kepada ketetapan-ketetapan Omri dan kepada segala perbuatan keluarga Ahab, dan engkau telah bertindak menurut rancangan mereka, sehingga Aku membuat engkau menjadi ketandusan dan pendudukmu menjadi sasaran suitan; demikianlah kamu akan menanggung pencelaan dari pihak bangsa-bangsa.”
Seperti telah kita ketahui dari edisi sebelumnya, bahwa Allah itu Maha Kasih dan Penyayang kepada umat-Nya dengan berkenan mengutus Putra-Nya yang tunggal Tuhan Yesus Kristus untuk menjadi Raja Penguasa seluruh bangsa di dunia dan menjadi Juru Selamat kita semua, maka dalam kesempatan ini mari sejenak kita amati pandangan teolog terkemuka terkait dengan Rahasia Hidup Berkenan di hadapan Allah dari Mikha 6:
Bruce K. Waltke dalam karyanya A Commentary on Micah (2007), menjelaskan bahwa pasal 6 ini menggunakan format hukum Timur Dekat Kuno yang disebut Rîb atau gugatan pengadilan. Allah bertindak sebagai Jaksa sekaligus Hakim, sementara alam semesta (gunung dan bukit) menjadi saksi bisu atas ketidaksetiaan Israel (ayat 1-2).
- Kesetiaan Allah di Masa Lalu (Ayat 3-5): Allah memulai dengan mengingatkan umat akan sejarah keselamatan (Exodus). Ia bukan Allah yang melelahkan dengan tuntutan beban, melainkan Allah yang membebaskan.
- Kritik terhadap Ritualisme (Ayat 6-7): Umat bertanya apakah Tuhan menginginkan korban yang berlebihan, bahkan sampai pengorbanan anak. Ini menunjukkan kegagalan umat memahami karakter Allah; mereka mencoba “menyuap” Tuhan dengan ritual tanpa pertobatan hati.
- Inti Tuntutan Allah (Ayat 8): Inilah puncak teologi Mikha. Allah menginginkan etika perjanjian: keadilan bagi sesama, kasih setia (hesed), dan kerendahan hati di hadapan Allah.
- Hukuman atas Ketidakjujuran (Ayat 9-16): Allah mengecam praktik bisnis yang korup, seperti timbangan tipu dan kekerasan. Akibatnya adalah “kutuk perjanjian”—mereka bekerja keras namun tidak menikmati hasilnya (ayat 15).
Bahan Renungan: Rahasia Hidup Berkenan di hadapan Allah
Seringkali kita terjebak dalam pemikiran bahwa kesalehan hanya diukur dari seberapa rajin kita datang ke gedung gereja atau seberapa besar persembahan yang kita berikan. Namun, Mikha 6 menegaskan bahwa ibadah ritual yang megah menjadi sia-sia jika di luar gereja kita masih memelihara “timbangan tipu” dalam pekerjaan kita atau melakukan kekerasan verbal kepada sesama (ayat 11-12). Allah menginginkan keadilan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ilustrasi: Bayangkan seorang pengusaha yang memberikan donasi besar untuk pembangunan rumah ibadah, namun di saat yang sama ia menunda upah karyawannya atau menggunakan material yang tidak sesuai standar demi keuntungan pribadi. Mikha mengingatkan bahwa Allah tidak bisa disuap dengan donasi tersebut; yang Ia cari adalah kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan melakukan apa yang benar.
Tuhan tidak pernah meminta hal yang mustahil dari kita. Tuntutan-Nya sederhana namun mendalam: bertindaklah adil kepada siapa pun tanpa pandang bulu, cintailah kesetiaan dalam setiap janji dan relasi, dan tetaplah berjalan rendah hati tanpa keangkuhan di hadapan Pencipta itulah Rahasia Hidup Berkenan di hadapan Allah. Mari kita periksa kembali setiap langkah kita, apakah hidup kita sudah menjadi persembahan yang harum bagi-Nya atau sekadar rutinitas tanpa makna.
