By Febrian 18 April 2026
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan ini, kita akan merenungkan bersama mengenai Yunus akhirnya kembali ke jalan yang benar. Kiranya Allah memberikan kita hikmat dan pengetahuan-Nya agar kita dapat memahami pesan yang disampaikan-Nya.
Tuhan Yesus memberkati.
Tanda Nabi Yunus
1. Tanda Yunus: Yunus tinggal di perut ikan 3 hari lamanya
Yunus 1:17
1:17 Maka atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya.
Kisah ini sudah sering kita dengar sejak Sekolah Minggu, sungguh menarik dan menyentuh. Yunus yang melarikan diri dari perintah Allah, akhirnya mendapati dirinya sedang ‘dikejar’ oleh Allah dan meminta Nahkoda dan Awak kapal untuk membuang dirinya ke laut. Setelah itu ada ikan besar yang mungkin adalah paus raksasa, menelan Yunus namun ia tidak mati. Itu kisah yang terlihat. Namun coba kita ingat sejenak, bahwa kisah ini pernah disinggung oleh Tuhan Yesus dalam perkataan-Nya kepada orang-orang yang meminta tanda. Mari kita lihat baca ayat tersebut:
Matius 12:38-42
12:38 Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.”
Tetapi jawab-Nya kepada mereka:
“Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.
Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!”
Jika kita melihat kejadian sebelumnya dalam Matius 12:22-37 , para Ahli Taurat mungkin saat itu sedang kesal karena fitnahan mereka dipatahkan oleh perkataan Tuhan Yesus, mengenai asal kuasa-Nya untuk menyembuhkan seorang yang kerasukan setan. Mereka juga kesal karena banyak orang mengagumi Tuhan Yesus, mungkin khawatir popularitas mereka turun. Jadi akhirnya mereka ingin menjebak Tuhan Yesus dengan permintaan tanda dari-Nya.
Menurut latar belakang adat Yahudi kuno, meminta “tanda” bukan sekadar minta pertunjukan rohani, tetapi biasanya merupakan cara untuk menguji apakah seseorang benar-benar berbicara atas nama Allah. Nabi Musa dalam Ulangan 13:1-3, bahkan mencatat, bahwa jika suatu tanda atau mujizat terjadi, orang Israel tetap harus menguji isi ajarannya; kalau pesannya mendorong kepada allah lain, orang itu tetap harus ditolak. Kemudian Ulangan 18:21-22 memberi ukuran lain: kalau nubuat yang diucapkan atas nama TUHAN tidak terjadi, maka orang itu bukan utusan Allah. Jadi, dalam dunia Yahudi kuno, “tanda” berhubungan erat dengan peneguhan atau pengujian kenabian, bukan sekadar rasa ingin tahu.
Karena itu, ketika ahli-ahli Taurat dan orang Farisi berkata, “kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu,” konteksnya adalah permintaan pembuktian atas otoritas Yesus. Tetapi tentu latar belakang mereka bertanya, bukan murni berasal dari hati yang tulus. Matius mengisahkan, bahwa jawaban Tuhan Yesus bernada keras: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda,” dan Lukas menyebut permintaan serupa sebagai tindakan “menguji” Yesus. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak datang sebagai murid yang ingin belajar, melainkan sebagai penilai yang menuntut bukti sesuai syarat mereka sendiri. Jadi, secara tidak terang-terangan, mereka seolah berkata, “Kalau Engkau benar utusan Allah, berikan bukti yang tidak bisa disangkal.” Namun, tanpa mereka duga, ternyata respons Tuhan Yesus menunjukkan bahwa masalah utamanya terletak pada kerasnya hati mereka melihat “tanda dari Allah”. Tuhan Yesus telah melakukan banyak penyataan kuasa Allah, namun mereka tetap menyangkalnya, sehingga permintaan tanda itu patut dijawab dengan keras juga.
Dari jawaban Tuhan Yesus, dapat kita lihat bahwa Allah menetapkan Yunus masuk ke dalam perut ikan, bukan sekedar ‘ide kreatif’ belaka, melainkan suatu rancangan besar sebagai ilustrasi Allah untuk menggambarkan Tuhan Yesus yang harus mati, turun ke dalam ‘perut bumi’ dengan waktu yang sama yaitu tiga hari tiga malam.
Selanjutnya Tuhan Yesus juga mengecam orang-orang di situ yang mengeraskan hatinya untuk menentang Allah, yaitu dengan gambaran betapa beratnya hukuman mereka. Dijelaskan bahwa orang Niniwe yang bertobat, ratu atau raja dari negara di Selatan, yang akhirnya percaya kepada Allah akan bangkit dan menghukum mereka. Di balik itu, sesungguhnya Tuhan Yesus mau menyadarkan mereka, bahwa diri-Nya lebih besar daripada nabi Yunus, dan Salomo.
Kisah Yunus di dalam perut ikan bukan hanya cerita menarik, tetapi juga menjadi gambaran tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang tinggal di dalam bumi selama tiga hari. Ketika ahli Taurat dan orang Farisi meminta tanda kepada Yesus dengan hati yang tidak tulus, Yesus justru menegur mereka karena hati mereka yang keras dan jahat. Ia mengatakan bahwa satu-satunya tanda yang diberikan adalah tanda nabi Yunus. Yesus juga memperingatkan bahwa pada hari penghakiman, orang Niniwe yang bertobat dan ratu dari Selatan yang mencari hikmat akan menghukum angkatan itu, karena mereka menolak Yesus yang jauh lebih besar dari Yunus dan Salomo.
Bagi kita yang hidup di masa kini, kisah ini mengingatkan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Seringkali kita juga bersikap seperti ahli Taurat dan orang Farisi—meminta bukti nyata dari Allah sebelum mau percaya, padahal Ia sudah berkali-kali menunjukkan kebaikan dan kuasa-Nya dalam hidup kita. Kita cenderung menuntut tanda sesuai keinginan kita sendiri, sementara hati kita keras untuk melihat karya Allah yang sudah nyata setiap hari. Padahal, Yesus sendiri sudah memberikan tanda terbesar melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Karena itu, marilah kita belajar dari orang Niniwe yang bertobat hanya dengan mendengar pemberitaan Yunus, dan dari ratu Selatan yang rela menempuh perjalanan jauh demi mencari hikmat. Jangan menunggu mujizat besar baru percaya, tetapi bukalah hati sekarang juga untuk menerima Firman dan bertobat, karena yang ada di sini—yaitu Yesus dan kebenaran-Nya—jauh lebih besar dari segala tanda yang kita minta.
Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu,
yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita,
sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan,
dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
1 Korintus 15:3-4
Amin.


