Shaloom Bapak/Ibu Saudara/i yang terkasih di dalam Kristus Yesus. Pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai Hukuman TUHAN atas Keangkuhan Hati bangsa Edom. Kiranya TUHAN, Allah Maha Kuasa memberi kita hikmat dan pengertian-Nya sehingga kita bisa mendapat berkat dari firman-Nya. Tuhan Yesus memberkati.
Hukuman TUHAN atas Keangkuhan Hati
Part 1 – Obaja 1:1-9
Penglihatan Obaja.
1. TUHAN akan menghukum Edom (Obaja 1:1-9)
1:1 Beginilah firman Tuhan ALLAH tentang Edom–suatu kabar telah kami dengar dari TUHAN, seorang utusan telah disuruh ke tengah bangsa-bangsa:
“Bangunlah, marilah kita bangkit memeranginya!” – Sesungguhnya, Aku membuat engkau kecil di antara bangsa-bangsa, engkau dihinakan sangat. Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: “Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?” Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, – demikianlah firman TUHAN.
Jika malam-malam pencuri atau perampok datang kepadamu–betapa engkau dibinasakannya–bukankah mereka akan mencuri seberapa yang diperlukannya? Jika pemetik buah anggur datang kepadamu, bukankah mereka akan meninggalkan sisa-sisa pemetikannya? Betapa kaum Esau digeledah, betapa harta bendanya yang tersembunyi dicari-cari! Sampai ke tapal batas engkau diusir oleh semua teman sekutumu; engkau diperdayakan, dikalahkan oleh sahabat-sahabatmu. Siapa yang makan sehidangan dengan engkau memasang jerat terhadap engkau. –Tidak ada pengertian padanya. Bukankah pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, Aku akan melenyapkan orang-orang bijaksana dari Edom, dan pengertian dari pegunungan Esau? Juga para pahlawanmu, hai Teman, akan tertegun, supaya semua orang di pegunungan Esau lenyap terbunuh. Karena kekerasan terhadap saudaramu Yakub, maka cela akan meliputi engkau, dan engkau akan dilenyapkan untuk selama-lamanya.
Pada waktu engkau berdiri di kejauhan, sedang orang-orang luar mengangkut kekayaan Yerusalem dan orang-orang asing memasuki pintu gerbangnya dan membuang undi atasnya, engkaupun seperti salah seorang dari mereka itu. Janganlah memandang rendah saudaramu, pada hari kemalangannya, dan janganlah bersukacita atas keturunan Yehuda pada hari kebinasaannya; dan janganlah membual pada hari kesusahannya. Janganlah masuk ke pintu gerbang umat-Ku pada hari sialnya, bahkan janganlah memandang ringan malapetaka yang menimpanya pada hari sialnya; dan janganlah merenggut kekayaannya pada hari sialnya. Janganlah berdiri di persimpangan untuk melenyapkan orang-orangnya yang luput, dan janganlah serahkan orang-orangnya yang terlepas pada hari kesusahan. Sebab telah dekat hari TUHAN menimpa segala bangsa. Seperti yang engkau lakukan, demikianlah akan dilakukan kepadamu, perbuatanmu akan kembali menimpa kepalamu sendiri. 1:16 Sesungguhnya, seperti kamu telah minum di atas gunung-Ku yang kudus, segala bangsapun akan minum dengan tidak henti-hentinya; bahkan, mereka akan minum dengan lahap, dan mereka akan menjadi seakan-akan mereka tidak pernah ada.
a. TUHAN Menghukum Edom atas Kesombongannya
Melalui Part 1 ini kita lihat bahwa bangsa Edom dihukum Tuhan atas kesombongannya. Edom merasa aman karena posisi geografisnya—tinggal di pegunungan batu yang tinggi—sehingga mereka menganggap tidak ada yang bisa menjatuhkan mereka. Namun justru di situlah letak kesalahannya. Rasa aman itu berubah menjadi kesombongan yang menipu hati mereka sendiri. Namun, dari kejadian tersebut di atas, kita kemudian menjadi disadarkan, bahwa jika terjadi suatu konflik antarbangsa, bisa jadi sebetulnya itu adalah hukuman Allah atas suatu bangsa tertentu.
Paul R. Raabe, Ph.D. (Concordia Seminary), memberi komentarnya dalam Obadiah: A New Translation with Introduction and Commentary (Anchor Yale Bible, Yale University Press, 1996), yaitu bahwa inti dosa Edom adalah “self-deception rooted in pride,” atau penipuan diri sendiri yang berakar dari kesombongan.
Mereka merasa kuat, padahal sebenarnya sedang menuju kehancuran. Kesombongan hati dan keangkuhan hidup, sering tidak disadari seseorang, karena rasa aman yang dirasakannya. Ketika seseorang merasa “tidak mungkin jatuh,” justru di situlah awal kejatuhan itu mulai terjadi. Inilah yang diruntuhkan Allah, yaitu merasa bahwa ‘rasa aman’-nya itu berasal dari kekuatannya sendiri. Allah mau bahwa setiap orang menyadari, keamanan, damai sejahtera, kesehatan, kelancaran, keberhasilan dan segala hal yang baik, datangnya semata-mata hanya dari Allah.
b. TUHAN Menyingkap dan Meruntuhkan Rasa Aman Palsu
Selanjutnya digambarkan:
Obaja 1:8-9 Pada hari Aku menghukum Edom, orang-orangnya yang bijaksana Kubinasakan. Dan segala hikmat mereka akan hilang, tiada bekasnya. Para pejuang dari Teman akan ketakutan, dan semua prajurit Edom akan tewas.”
bahwa kehancuran Edom akan total. Jika pencuri datang, biasanya masih ada sisa. Jika pemetik anggur bekerja, masih ada yang tertinggal. Tetapi terhadap Edom, semuanya akan digeledah habis. Bahkan sekutu-sekutunya sendiri akan berbalik melawan mereka.
Daniel I. Block, Ph.D. (Wheaton College Graduate School), dalam The NIV Application Commentary: Obadiah, Jonah, Micah (Zondervan, 2013), menjelaskan bahwa ini menunjukkan runtuhnya semua sistem kepercayaan manusia: “What they trusted—alliances, wisdom, strength—will all fail simultaneously.” Artinya, semua yang selama ini menjadi sandaran Edom akan runtuh bersamaan. Refleksi dari bagian ini mengingatkan bahwa apa yang sering dianggap sebagai “penopang hidup”—relasi, kekuatan, atau strategi manusia—tidak selalu bisa menyelamatkan.
Ketika dasar hidup bukan pada TUHAN, maka semua itu bisa runtuh dalam sekejap. Ingatlah kisah Ayub dan penderitaannya. Sesungguhnya kisah hidupnya, dapat menjadi peringatan keras bagi semua orang yang mengandalkan kekayaan dan dirinya sendiri, bahwa sesungguhnya, manusia itu tidak mempunyai apa-apa dalam hidupnya. Semuanya adalah anugerah atau pemberian Allah, setelah itu penjagaan dan berkat Allah menyertai, sehingga tercipta kemakmuran dan damai sejahtera, bukan hasil usaha manusia.
c. TUHAN Menghakimi Kekerasan terhadap Sesama
Puncak tuduhan terhadap Edom bukan hanya soal kesombongan, tetapi tindakan nyata mereka terhadap Israel. Ketika Yerusalem jatuh, Edom tidak menolong, tetapi justru ikut bersukacita, bahkan mengambil bagian dalam penderitaan itu. Mereka berdiri di kejauhan, tetapi hati mereka terlibat dalam kejahatan tersebut.
John Goldingay, Ph.D. (University of Nottingham), dalam The Minor Prophets (Baker Academic, 2021), menyoroti bahwa dosa Edom adalah kegagalan moral dalam relasi: “They violated brotherhood by exploiting vulnerability.” Ini menunjukkan bahwa dosa mereka bukan hanya terhadap TUHAN, tetapi juga terhadap sesama, khususnya terhadap saudara mereka sendiri. Kita lihat di situ, bahwa suatu kejahatan yang dimaksud Allah, sifatnya tidak selalu aktif menyerang, tetapi bisa juga hanya pasif, yaitu diam ketika melihat ketidakadilan atau bahkan diam-diam bersukacita atas kejatuhan orang lain. Sikap seperti ini tetap dipandang serius di hadapan TUHAN.
Yakobus 4:17
Sebab itu, orang yang tahu apa yang baik yang harus dilakukannya tetapi tidak melakukannya, orang itu berdosa.
d. Hari TUHAN: Keadilan yang Tidak Bisa Dihindari
Bagian selanjutnya kemudian mengarah kepada prinsip yang sangat kuat: Keadilan TUHAN tidak bisa dihindari. Allah akan mengadili dan menghukum siapa saja yang bersalah dan tidak mau bertobat.
Obaja 1:15
“Sungguh, sudah dekat harinya, Aku, TUHAN, mengadili bangsa-bangsa. Apa yang dilakukan Edom akan dibalaskan kepadanya. Ia akan merasakan juga apa yang telah ia perbuat. ”
Yehezkiel 25:12
Beginilah firman Tuhan ALLAH: “Oleh karena Edom membalaskan dendam kesumat terhadap kaum Yehuda dan membuat kesalahan besar dengan melakukan pembalasan terhadap mereka,
Amsal 17:5 Siapa mengejek orang miskin papa, menghina Allah penciptanya. Siapa gembira atas kemalangan orang, pasti mendapat hukuman.
Ini adalah hukum keadilan ilahi yang tidak bisa dihindari. Apa yang ditabur, itu juga yang akan dituai.
J. A. Motyer, B.A., M.A. (University of Cambridge), dalam The Minor Prophets (Inter-Varsity Press, 1998), menyatakan bahwa ini adalah inti dari penghakiman nabi-nabi: “Divine justice mirrors human action.” Artinya, hukuman Tuhan bukan sewenang-wenang, tetapi sesuai dengan perbuatan manusia itu sendiri.
Refleksi dari bagian ini adalah, bahwa kehidupan tidak akan berjalan tanpa adanya suatu konsekuensi atas segala perbuatan yang kita lakukan. Setiap tindakan kita, pasti memiliki arah kembali kepada kita sendiri, apakah itu perbuatan baik atau perbuatan jahat. Oleh karena itu, maka mulai sekarang hidup lah dalam ketulusan dan kebenaran, serta mengasihi sesama umat Allah.
Jadi secara keseluruhan, dapat kita simpulkan, bahwa dalam Obaja 1:1–9 dijelaskan bahwa kesombongan, rasa aman palsu, dan sikap tidak peduli terhadap penderitaan orang lain, adalah jalan menuju kehancuran. TUHAN bukan hanya melihat apa yang mereka lakukan, tetapi juga mengetahui apa motivasi di dalam hati mereka.
Pada akhirnya, keadilan TUHAN sungguh tidak akan bisa dihindari, akan datang dengan selalu tepat dan adil. Ini menjadi peringatan bagi semua orang agar hidup dalam kerendahhatian dan berjalan di jalan kebenaran Allah.
Tuhan Yesus memberkati.
“Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan. Lebih baik merendahkan diri bersama orang yang rendah hati dari pada membagi rampasan bersama orang yang congkak.”
Amsal 16:18-19
Amin.


