Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Kesempatan ini kita akan merenungkan bersama mengenai TUHAN, Allah Semesta Alam menyerukan bangsa Israel untuk bertobat, karena hukuman yang sedang menanti adalah serangan sepasukan belalang untuk menghabiskan apa saja yang dilewatinya. Kiranya Tuhan Yesus memberikan hikmat dan pengertian-Nya bagi kita semua. Tuhan Yesus memberkati.
Yoel 1:1-2:32 <– Klik di sini untuk membaca ayat
A. Pengantar kitab Yoel
1. Latar belakang
Kitab Yoel (Ibrani: ספר יוֹאֵל Sefer Yo’él) adalah teks kenabian Yahudi yang berisi serangkaian “pengumuman ilahi”, di mana baris pertama ayat pertama, menyebutkan penulisnya adalah “Yoel putra Pethuel”. Nabi Yoel menulis kitab ini di tanah Yehuda dengan tidak menuliskan catatan waktu penulisan yang pasti. Beberapa komentator berpendapat bahwa Yoel hidup pada abad ke-9 SM, sedangkan yang lain menempatkannya pada abad ke-5 atau ke-4 SM. Penentuan tanggal penulisan kitabnya juga masih diperdebatkan; tidak ada penyebutan raja yang dapat membantu menentukan waktu penulisannya. Penyebutan orang Yunani dalam kitab tersebut tidak memberikan bantuan apa pun kepada para teolog dalam menentukan tanggal penulisan teks tersebut, karena orang Yunani diketahui telah memiliki akses ke Yehuda sejak zaman Mykenai (sekitar 1600–1100 SM). Namun, penyebutan penderitaan Yehuda dan keberadaan bait suci dalam kitab tersebut telah menyebabkan beberapa teolog menempatkan tanggal penulisan kitab tersebut pada periode pasca-pembuangan, setelah pembangunan Bait Suci Kedua.
Yoel berasal dari Yehuda/Yudea, dan, dilihat dari pentingnya hal itu dalam nubuatnya, kemungkinan besar ia adalah seorang nabi yang terkait dengan ritual Bait Suci Salomo atau Bait Suci Kedua, tergantung pada tanggal ia hidup.
Kitab Yoel ini merupakan bagian dari Kitab Dua Belas Nabi Kecil atau Nevi’im (“Para Nabi”) dalam Alkitab Ibrani, dan merupakan kitab tersendiri dalam Perjanjian Lama Kristen yang terdiri dari tiga bab. Kitab ini berfokus pada tulah belalang yang hebat sebagai simbol “Hari Tuhan” dan panggilan untuk bertobat.
Dalam Perjanjian Baru, nubuatnya tentang pencurahan Roh Kudus Allah kepada semua orang dikutip oleh Rasul Petrus dalam khotbahnya di hari Pentakosta.
2. Pokok Pikiran
- Yoel 1:1–7 — Allah menggambarkan kengerian hukuman yang akan dijatuhkan-Nya.
Nabi Yoel membuka pesannya dengan menggambarkan bencana dahsyat berupa serangan belalang yang melahap habis negeri, sebagai gambaran nyata tentang hukuman Tuhan yang menimpa umat yang telah jauh dari-Nya. - Yoel 1:8–2:1 — Seruan awal untuk berkabung dan meratap atas bencana yang akan menimpa mereka.
Bangsa Yehuda dipanggil untuk meratap seperti seorang yang kehilangan pasangan hidupnya, sebab bencana yang datang bukan sekadar peristiwa alam, melainkan tanda peringatan dari Tuhan. - Yoel 2:2–11 — Gambaran kengerian serangan belalang yang dikirim TUHAN.
Yoel melukiskan kedahsyatan serangan itu seperti bala tentara yang teratur dan tak terhentikan, menunjukkan bahwa Tuhan sendiri yang memimpin peristiwa penghakiman tersebut.
B. Penjelasan
1. Yoel 1:1–7 — Allah menggambarkan kengerian hukuman yang akan dijatuhkan-Nya
Dalam bagian pertama ini, TUHAN, Allah Semesta Alam begitu murkanya hingga berencana menjatuhkan hukuman-Nya berupa serangan belalang yang begitu besar, dengan belalang yang sangat mengerikan dan menghancurkan segalanya.
Ada beberapa jenis Belalang yang ditulis dalam Yoel 1:4:
- גָּזָם — Gāzām
Jenis belalang perusak tanaman yang namanya berasal dari akar kata Ibrani yang berarti “memotong” atau “menggerogoti”. - אַרְבֶּה — ’Arbeh
Istilah umum dalam bahasa Ibrani untuk belalang; berasal dari akar kata yang berarti “menjadi banyak” atau “berkembang biak dalam jumlah besar”. - יֶלֶק — Yeleq
Sering diterjemahkan sebagai belalang muda atau tahap awal belalang; berkaitan dengan akar kata yang berarti “menjilat” atau “melahap”. - חָסִיל — Chāsil
Belalang perusak yang namanya berasal dari akar kata yang berarti “menghabiskan” atau “membinasakan”.
Jadi, jika diperhatikan dengan saksama, makna yang Allah sampaikan adalah bahwa kehancuran tidak akan luput dialami oleh siapa pun. Apa yang tersisa dari serangan belalang yang satu akan dimakan oleh belalang berikutnya, dan yang tersisa dari itu akan dimakan lagi oleh yang berikutnya, hingga akhirnya semuanya habis dan musnah seluruhnya.
Matthew Henry (1662–1714), teolog Reformed dari Inggris, dalam Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible (London: 1706) menjelaskan bahwa Yoel 1:1–7 menggambarkan malapetaka besar berupa serangan belalang yang menghancurkan negeri Yehuda. Ia menekankan bahwa bencana tersebut dipakai Allah untuk menggugah umat agar sadar akan dosa mereka dan kembali kepada Tuhan. Menurut Henry, peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah dapat memakai makhluk yang paling kecil sekalipun untuk merendahkan manusia yang memberontak.
John Gill, D.D. (1697–1771), teolog Baptis Inggris, dalam An Exposition of the Old Testament (London: 1746–1763) menjelaskan bahwa empat istilah belalang dalam Yoel 1:4 menggambarkan gelombang kehancuran yang datang secara berturut-turut. Setiap jenis belalang menghabiskan apa yang tersisa dari yang sebelumnya sehingga seluruh hasil bumi dimusnahkan. Gill juga mencatat bahwa istilah-istilah tersebut kemungkinan menunjuk pada berbagai jenis atau karakteristik belalang, meskipun spesies pastinya tidak dapat dipastikan.
H. D. M. Spence, M.A. dan Joseph S. Exell, M.A., editor The Pulpit Commentary: Joel (London: Kegan Paul, Trench & Co., 1885), menjelaskan bahwa Yoel melukiskan kehancuran yang sangat rinci akibat invasi belalang. Gambaran tentang pohon anggur dan pohon ara yang menjadi tandus menunjukkan bahwa sumber kehidupan ekonomi Yehuda dihancurkan sepenuhnya oleh serangan tersebut.
James Montgomery Boice, D.D. (1938–2000), mantan Senior Minister Tenth Presbyterian Church, Philadelphia, dalam The Minor Prophets: An Expositional Commentary (Grand Rapids: Baker Books, 2002) menjelaskan bahwa Yoel menggambarkan suatu keadaan nyata yang sedang dialami Yehuda, yaitu kehancuran oleh serangan belalang yang datang secara berlapis-lapis. Bencana ini membawa dampak kelaparan dan kehancuran ekonomi, sekaligus menjadi panggilan bagi bangsa itu untuk menyadari tangan Allah dalam peristiwa tersebut dan bertobat.
Leslie C. Allen, Ph.D., Senior Professor of Old Testament, Fuller Theological Seminary, dalam The Books of Joel, Obadiah, Jonah, and Micah (New International Commentary on the Old Testament; Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1976) menjelaskan bahwa Yoel 1 menggambarkan wabah belalang yang luar biasa sebagai bencana nasional. Menurut Allen, peristiwa ini dipakai nabi Yoel sebagai peringatan teologis tentang kedatangan “Hari TUHAN”, yaitu saat Allah menyatakan penghakiman-Nya atas dosa umat.
Jadi itulah yang Tuhan mau agar bangsa Israel menyadari bahwa Allah tidak segan-segan menjatuhkan hukuman yang berat bagi umat-Nya yang tidak taat pada peraturan dan ketetapan-Nya.
Mungkin bagi kita di zaman sekarang, banyak orang yang menganggap bahwa Allah tidak melihat segala perbuatan dosanya. TUHAN, Allah mungkin memang tidak bisa dilihat dengan mata jasmani, tetapi Ia betul-betul nyata dan mengamati perbuatan setiap orang.
2. Yoel 1:8–2:1 — Seruan awal untuk berkabung dan meratap atas bencana yang akan menimpa mereka
Yoel 1:8–2:1 melanjutkan gambaran kehancuran yang sebelumnya telah dipaparkan oleh nabi. Namun pada bagian ini nadanya berubah dari sekadar menggambarkan bencana menjadi seruan yang kuat kepada umat untuk berkabung dan meratap. Nabi Yoel menggambarkan keadaan bangsa itu seperti seorang perempuan muda yang meratap karena kehilangan suaminya pada masa pertunangannya. Gambaran ini menunjukkan kesedihan yang sangat dalam. Bencana belalang tidak hanya menghancurkan hasil bumi, tetapi juga mengganggu kehidupan ibadah umat kepada Allah. Gandum dan anggur yang biasanya dipersembahkan sebagai korban sajian dan korban curahan di Bait Allah menjadi tidak tersedia, sehingga pelayanan para imam pun terhenti.
Matthew Henry (1662–1714), teolog Reformed Inggris, dalam Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible (London: 1706) menjelaskan bahwa seruan Yoel agar umat meratap menunjukkan bahwa bencana yang terjadi bukan sekadar peristiwa alam, tetapi merupakan teguran dari Allah yang menuntut respons rohani dari umat-Nya. Kesedihan yang digambarkan nabi bukan hanya kesedihan karena kehilangan hasil bumi, tetapi juga karena hubungan umat dengan Allah telah terganggu.
John Gill, D.D. (1697–1771), teolog Baptis Inggris, dalam An Exposition of the Old Testament (London: 1746–1763) menjelaskan bahwa panggilan kepada para imam untuk berkabung menunjukkan bahwa bencana ini berdampak langsung pada sistem ibadah Israel. Tanpa gandum dan anggur, korban sajian dan korban curahan tidak dapat dipersembahkan di Bait Allah. Hal ini menunjukkan bahwa dampak bencana tersebut menyentuh pusat kehidupan religius bangsa itu.
H. D. M. Spence, M.A. dan Joseph S. Exell, M.A., editor The Pulpit Commentary: Joel (London: Kegan Paul, Trench & Co., 1885), menjelaskan bahwa Yoel memakai bahasa ratapan yang kuat untuk menggambarkan kedahsyatan bencana tersebut. Pohon anggur, pohon ara, pohon delima, dan berbagai pohon lain digambarkan menjadi kering dan gersang, sehingga kegembiraan manusia pun menjadi layu. Gambaran ini menunjukkan bahwa seluruh kehidupan bangsa itu telah dilanda kesedihan yang mendalam.
Leslie C. Allen, Ph.D., Professor of Old Testament, Fuller Theological Seminary, dalam The Books of Joel, Obadiah, Jonah, and Micah (New International Commentary on the Old Testament; Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1976) menjelaskan bahwa wabah belalang ini dipakai oleh nabi Yoel sebagai peringatan tentang datangnya “Hari TUHAN”. Dalam Yoel 2:1 nabi memerintahkan untuk meniup sangkakala di Sion sebagai tanda bahaya, suatu peringatan bahwa penghakiman Allah dapat datang jika bangsa itu tidak bertobat.
Allah mau setiap umat Israel menyadari bahwa hukuman sudah ditetapkan, seruan untuk bertobat juga sudah dinyatakan Allah, maka sekarang tiba gilirannya mereka harus segera bertobat dan berbalik dari jalan mereka yang menyimpang.
3. Yoel 2:2–11 — Gambaran kengerian serangan belalang yang dikirim TUHAN.
Bagian ini merupakan salah satu gambaran puitis paling kuat dalam kitab Yoel. Nabi Yoel menggambarkan datangnya bencana seperti hari peperangan yang dahsyat. Ia menyebutnya sebagai “hari kegelapan dan kesuraman” (Yoel 2:2), suatu ungkapan khas para nabi untuk melukiskan datangnya Hari TUHAN, yaitu saat ketika Allah sendiri turun tangan dalam sejarah untuk menghakimi dan menegur umat-Nya. Dalam gambaran Yoel, kawanan belalang itu tidak hanya sekadar bencana alam, tetapi dilukiskan seperti pasukan perang yang disiplin, rapi, dan tidak dapat dihentikan.
Deskripsi Yoel sangat dramatis. Belalang itu digambarkan maju seperti kuda perang (2:4), melompat seperti kereta yang meluncur di atas puncak gunung (2:5), dan menyerbu tembok kota seperti tentara terlatih (2:7–9). Bahkan matahari, bulan, dan bintang seolah-olah menjadi gelap (2:10), menandakan betapa dahsyatnya peristiwa tersebut. Semua ini menegaskan satu hal: bencana itu bukan sekadar kejadian alam biasa, tetapi merupakan alat disiplin ilahi yang diizinkan Tuhan untuk mengguncang bangsa itu.
Perjanjian Lama sering menggambarkan Tuhan sebagai Panglima atas bala tentara-Nya. Yoel menegaskan hal ini dengan sangat jelas: “TUHAN memperdengarkan suara-Nya di depan tentara-Nya” (Yoel 2:11). Artinya, apa yang tampak sebagai kekacauan alam sebenarnya berada di bawah kedaulatan Allah. Belalang-belalang itu disebut sebagai “tentara-Nya”, menunjukkan bahwa bahkan kekuatan alam pun dapat dipakai Tuhan untuk menjalankan tujuan-Nya dalam sejarah.
John Calvin (1509–1564), teolog Reformasi dari Jenewa, dalam karyanya Commentaries on the Twelve Minor Prophets (terbit dalam bahasa Inggris oleh Calvin Translation Society, Edinburgh, 1846), menjelaskan bahwa gambaran belalang dalam Yoel bukan hanya tentang bencana alam literal, tetapi juga sebuah sarana Allah untuk mengguncang hati manusia. Calvin menulis bahwa Tuhan sengaja menggambarkan bencana itu dengan bahasa militer agar bangsa itu menyadari bahwa mereka sedang berhadapan langsung dengan kuasa penghakiman Allah. Dengan demikian, tujuan utama nubuat ini adalah membawa umat kepada pertobatan.
Keil dan Delitzsch — C. F. Keil, D.D. (Carl Friedrich Keil, 1807–1888), profesor Perjanjian Lama di Universitas Dorpat, dan Franz Delitzsch, D.D. (1813–1890), profesor teologi di Universitas Leipzig — dalam karya mereka Commentary on the Old Testament, Volume 10: The Twelve Minor Prophets (T&T Clark, Edinburgh, 1866) menjelaskan bahwa deskripsi Yoel sengaja disusun seperti laporan pertempuran. Menurut mereka, Yoel memadukan dua realitas sekaligus: bencana belalang yang nyata dan simbol tentang kekuatan penghukuman Allah yang lebih besar di masa depan. Dengan demikian, gambaran ini berfungsi sebagai peringatan eskatologis tentang Hari TUHAN yang lebih besar.
Douglas Stuart, Ph.D., profesor Perjanjian Lama di Gordon-Conwell Theological Seminary, dalam bukunya Hosea–Jonah (Word Biblical Commentary, Volume 31, Word Books, Waco, Texas, 1987) menegaskan bahwa kekuatan gambaran Yoel terletak pada hiperbola puitisnya. Menurut Stuart, Yoel menggunakan bahasa peperangan bukan karena belalang itu benar-benar tentara manusia, tetapi untuk menolong pembaca merasakan skala kehancuran yang terjadi. Dalam dunia agraris kuno, serangan belalang memang bisa menghancurkan ekonomi dan kehidupan sebuah bangsa secara total.
Sementara itu, Thomas Edward McComiskey, Ph.D. (1928–1996), profesor Perjanjian Lama di Trinity Evangelical Divinity School, dalam karya suntingannya The Minor Prophets: An Exegetical and Expository Commentary, Volume 1 (Baker Book House, Grand Rapids, 1992) menekankan bahwa Yoel tidak ingin umat berhenti pada ketakutan terhadap bencana itu sendiri. Tujuan utama nubuat ini adalah mengarahkan perhatian bangsa itu kepada realitas rohani yang lebih dalam: bahwa Hari TUHAN selalu merupakan panggilan untuk kembali kepada Allah sebelum penghakiman yang lebih besar datang.
Karena itu, bagian Yoel 2:2–11 bukan sekadar lukisan tentang serangan belalang. Ia adalah pengumuman teologis bahwa Allah tetap berdaulat atas sejarah, alam, dan bangsa-bangsa. Bencana yang digambarkan di sini menjadi alat ilahi untuk menggugah hati manusia yang telah jauh dari Tuhan.
Dalam terang keseluruhan Alkitab, gambaran “Hari TUHAN” yang dahsyat ini juga mengarah kepada tema penghakiman dan keselamatan yang akhirnya menemukan puncaknya dalam karya Kristus. Perjanjian Baru menggambarkan kedatangan Kristus kembali sebagai hari yang mengguncang langit dan bumi (2 Petrus 3:10). Dengan demikian, nubuat Yoel tidak hanya berbicara kepada bangsa Yehuda pada zamannya, tetapi juga menjadi bayangan teologis tentang penghakiman terakhir yang akan datang.
Pesan rohani dari bagian ini sangat jelas: ketika manusia mengabaikan Tuhan, sejarah dapat menjadi alat teguran-Nya. Namun tujuan Allah bukan sekadar menghancurkan, melainkan memanggil manusia kembali kepada-Nya sebelum hari penghakiman yang lebih besar tiba.
Bertobatlah dan berbaliklah dari segala pelanggaranmu,
supaya kesalahan itu jangan menjadi
batu sandungan yang menjatuhkan kamu.
Buanglah dari padamu segala pelanggaranmu.
Yehezkiel 18:30–31
Amin.


Leave a Reply