Mazmur 24 Part 2 " Mendekatlah kepada TUHAN, Raja Kemuliaan", seri Mazmur by Febrian

19 Desember 2024




Mazmur 24 Part 2 "Mendekatlah kepada TUHAN, Raja Kemuliaan", seri Mazmur

Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Kesempatan ini kita akan merenungkan bersama mengenai kehendak Allah bahwa kita harus selalu dekat dengan-Nya, di mana berkat berlimpah ruah dan keamanan selalu terjaga. Tuhan tidak pernah mau kita jauh dari-Nya, melainkan selalu berada di sisi-Nya. Melalui tulisan ini kita juga diajar, bagaimana bisa mendekat kepada Allah.
Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Mazmur 24:7


7 Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, 
dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, 
supaya masuk Raja Kemuliaan! 
"Siapakah itu Raja Kemuliaan?" 
"TUHAN, jaya dan perkasa, 
TUHAN, perkasa dalam peperangan!" 
Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, 
dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, 
supaya masuk Raja Kemuliaan! 
"Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?" 
"TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!" 
Sela

Di dalam suasana Natal ini, kita memperingati kedatangan TUHAN Sang Raja Kemuliaan, yang mengosongkan diri-Nya mengambil rupa seorang bayi, menjadi sama dengan manusia hina ciptaan-Nya. Ia Raja Kemuliaan, Allah Yang Maha Kuasa, mau merendahkan diri-Nya mendekat kepada ciptaan-Nya, demi menyelamatkan dari kuasa maut. Itulah Kemuliaan dari Raja kita, Tuhan Yesus Kristus.

Mazmur 24:7-10 ini sering dianggap sebagai mazmur liturgi, yang menggambarkan perayaan penyambutan kehadiran Tuhan sebagai Raja yang mulia. Pintu-pintu gerbang dalam ayat ini memiliki makna simbolis dan teologis yang dalam. 

Berikut adalah penjelasannya:

1. Pintu Gerbang secara Harfiah

Pada zaman Alkitab, pintu gerbang kota merupakan tempat yang sangat penting. Kota-kota besar, termasuk Yerusalem, dikelilingi tembok dengan pintu-pintu gerbang yang menjadi akses utama untuk masuk dan keluar kota. Pintu-pintu gerbang ini sering dijaga dan dipakai untuk upacara, pertemuan, dan pengumuman penting. Dalam konteks Mazmur 24, pintu gerbang mungkin merujuk pada gerbang Yerusalem yang menyambut masuknya Tabut Perjanjian sebagai simbol kehadiran Allah.

2. Pintu Gerbang secara Simbolis

Pintu gerbang melambangkan penghalang atau batas yang harus dibuka untuk menyambut kehadiran Tuhan. Dalam mazmur ini, pintu-pintu gerbang "diundang" untuk membuka diri agar Raja Kemuliaan, yaitu Tuhan, dapat masuk. Hal ini menunjukkan perlunya kesiapan umat untuk menerima Tuhan dalam hidup mereka.

3. Pintu Gerbang sebagai Hati Manusia

Banyak tafsiran tentang "pintu gerbang" adalah sebagai gambaran hati manusia. Hati manusia perlu "dibuka" agar Tuhan dapat masuk dan memerintah. Sebagai Raja Kemuliaan, Tuhan layak untuk diterima dengan hormat dan kerendahan hati.

Mazmur ini menekankan keagungan Tuhan sebagai Raja yang layak disembah. Simbol pintu-pintu gerbang mengingatkan kita akan pentingnya membuka hati, hidup, dan dunia kita untuk menyambut kehadiran Tuhan. Kita diajak untuk mempersiapkan diri dalam kekudusan, seperti dinyatakan dalam bagian awal Mazmur 24, agar layak menyambut Tuhan.

Pintu gerbang itu bukan sekadar struktur fisik, melainkan simbol penghormatan dan kesiapan menyambut kehadiran ilahi.

Jadi bagaimana kita dapat membuka Pintu Gerbang Hati untuk Tuhan?

1. Rendahkan Diri di Hadapan Tuhan

Kerendahan hati adalah langkah pertama untuk membuka hati.

Kita perlu menyadari bahwa kita membutuhkan Tuhan, sebagaimana dinyatakan dalam Mazmur 51:17: "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah."

Rendahkan diri dengan mengakui kelemahan dan ketergantungan kita kepada-Nya.

2. Bertobat dan Mengaku Dosa

Pintu hati kita sering tertutup oleh dosa dan pemberontakan.

Bertobat berarti meninggalkan dosa dan mengarahkan hati kepada Tuhan. 1 Yohanes 1:9 mengatakan: "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."

Dengan bertobat, hati kita dibersihkan, dan hubungan dengan Tuhan dipulihkan.

3. Mendekat dalam Doa

Doa adalah kunci untuk membuka pintu hati kepada Tuhan.

Dalam Wahyu 3:20, Tuhan Yesus berkata: "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jika ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku."

Yesus berkata, "Aku berdiri di muka pintu dan mengetok." Ini menunjukkan bahwa Tuhan yang memulai hubungan dengan kita. Dia mendekat terlebih dahulu, mengetuk pintu hati kita dengan kasih-Nya, melalui Firman Tuhan, Roh Kudus, dan berbagai pengalaman dalam hidup. Tugas kita adalah mendengar dan merespons panggilan-Nya. Mendekat kepada Tuhan dimulai dengan menyadari bahwa Tuhan selalu hadir dan berinisiatif untuk mencari kita.

"Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita." (1 Yohanes 4:19)

4. Membaca dan Merenungkan Firman Tuhan

Mazmur 119:105
Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku 

Firman Tuhan digambarkan sebagai pelita dan terang bagi jalan kita. Ini menunjukkan bahwa Firman Allah adalah panduan yang menerangi jalan kehidupan, terutama ketika kita menghadapi kegelapan, kebingungan, atau tantangan. Dengan membaca dan merenungkan Firman-Nya, kita menerima arahan ilahi yang membantu kita hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Hal ini mendekatkan kita kepada Tuhan karena kita hidup dalam ketundukan pada kebenaran-Nya.

Ibrani 4:12 menyatakan: "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk sangat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita."

Ayat di atas, menjelaskan bahwa Firman Tuhan tidak hanya hidup dan kuat, tetapi juga tajam, mampu menyentuh bagian terdalam dari keberadaan kita. Firman itu menembus hingga ke hati kita, memisahkan antara apa yang benar dan salah, serta mengungkapkan motivasi dan niat terdalam. Ketika kita merenungkan Firman Tuhan, Dia bekerja di dalam hati kita untuk menyucikan, memperbaiki, dan mengarahkan hidup kita. Proses ini membawa kita lebih dekat kepada Tuhan karena kita diubah untuk menjadi seperti-Nya. 

Membaca dan merenungkan Firman Tuhan adalah cara kita mendengar suara Tuhan, memahami kehendak-Nya, dan menerima arahan-Nya. Proses ini memungkinkan kita untuk dibimbing, ditegur, dan dikuatkan oleh Tuhan. Firman Tuhan membawa terang ke dalam kehidupan kita, mengungkapkan hati kita, dan menuntun kita untuk hidup dalam hubungan yang lebih dekat dengan-Nya. Ini adalah salah satu langkah utama dalam membuka hati kita kepada Tuhan dan berjalan bersama-Nya dalam iman. 

5. Serahkan Kehidupan kepada Tuhan

Membuka hati berarti menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan, termasuk mimpi, ketakutan, dan rencana kita.

Amsal 3:5-6: "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu."

Ayat ini dimulai dengan perintah untuk mempercayai Tuhan dengan segenap hati. Percaya sepenuhnya berarti mengandalkan Tuhan dalam segala aspek kehidupan tanpa keraguan. Ketika kita percaya kepada Tuhan, kita menyerahkan segala kekhawatiran, ketakutan, dan keraguan kita kepada-Nya. Hubungan kita dengan Tuhan menjadi lebih dekat karena iman adalah dasar untuk berkenan kepada-Nya (Ibrani 11:6).

 Sering kali, pengertian manusia terbatas dan dapat menyesatkan. Mendekat kepada Tuhan berarti melepaskan keinginan untuk mengandalkan kebijaksanaan kita sendiri dan memilih untuk tunduk pada kehendak dan rencana Tuhan.

Dalam Yesaya 55:8-9, Tuhan berfirman:

"Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN."

Ketika kita mengesampingkan pengertian kita sendiri, kita memberi ruang kepada Tuhan untuk mengarahkan hati dan hidup kita.

6. Penuhi Hati dengan Pujian dan Penyembahan

Pujian dan penyembahan membawa kita lebih dekat kepada Tuhan dan membuka hati untuk menerima kehadiran-Nya.

Mazmur 100:4: "Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian; bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!"

Ketika kita memuji Tuhan dan bersyukur kepada-Nya, hati kita terfokus kepada kehadiran-Nya dan kebaikan-Nya. Pujian adalah bentuk pengakuan bahwa Tuhan adalah Raja yang layak ditinggikan, sebagaimana dinyatakan dalam Mazmur 22:4:

"Padamu nenek moyang kami percaya; mereka percaya, dan Engkau meluputkan mereka."

Ucapan syukur membantu kita melihat berkat-berkat Tuhan dalam hidup kita. Ketika kita bersyukur, kita mengakui bahwa segala sesuatu yang baik datang dari-Nya (Yakobus 1:17). Sikap syukur menghapus keluh kesah, keputusasaan, dan kekhawatiran, sehingga hati kita terbuka untuk menerima lebih banyak dari Tuhan.

Dengan memuji Tuhan, kita mengarahkan hati kita kepada-Nya, menjadikan Dia pusat perhatian, dan mengalami hubungan yang lebih dekat dengan-Nya. 

7. Berserah pada Roh Kudus

Mintalah Roh Kudus untuk memimpin dan mengubah hati kita.

Dalam Yehezkiel 36:26, Tuhan berjanji: "Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu; dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat."

Berserah kepada Roh Kudus memungkinkan janji Tuhan dalam Yehezkiel 36:26 menjadi nyata dalam hidup kita. Dia menggantikan hati yang keras dengan hati yang taat dan memberikan roh yang baru untuk hidup dalam hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan.

Roh Kudus juga bekerja melalui Firman Tuhan untuk membimbing, menguduskan, dan menguatkan kita, sehingga kita dapat hidup sesuai dengan kehendak-Nya dan menikmati hadirat-Nya setiap hari. Berserah kepada Roh Kudus adalah jalan untuk hidup dalam kasih dan ketaatan kepada Tuhan.

Membuka pintu hati kepada Tuhan adalah tindakan iman yang membutuhkan kerendahan hati, pertobatan, doa, dan kesediaan untuk dipimpin oleh Roh Kudus. Ketika kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya, Tuhan akan masuk dan mengubah hati kita, membawa damai sejahtera, sukacita, dan hubungan yang lebih dekat dengan-Nya.

"Dekatlah kepada Allah, dan Ia akan dekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai orang-orang berdosa, dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!"

Yakobus 4:8 

Amin.

Komentar

Postingan Populer